Adinda Pov.

Sepatu? Ada.

Tas? Ya pasti ada lah.

Seragam? Lengkap.

Kaus kaki, dasi? Ada. Akhirnya selesai jugaa.

Hari ini gue siap buat berangkat ke sekolah.menuruni anak tangga menuju meja makan yang sudah di isi dengan setan. Eh Manusia maksud nya.

"Morning!" sapa gue

"Morning to adek abang" ujar Devan. Kaka gue.

"Mamah, papah udah berangkat ke singapore ya bang?"

"Udah dari subuh tadi."

"Ko ga pamit sama gue sih?!"

"Lo kebo. Udah di bangunin masih aja molor."

Gue cuma mengangguk-angguk saja. Toh ga masalah kalo kedua orang tua gue pergi.

"Yes!! Ga perlu belajar!" Ucap Gue dalem Hati.

Ya, bisa di bilang gue ini penuh kekangan,selalu di awasi, and setiap hari selalu di warnai dengan buku-buku yang menyebalkan. Papah bilang gue harus jadi penerus perusahaan nya. Karena abang gue ga Bisa di Percya jadilah gue yang harus ngurus perusahaan papah. Mau nolak tapi papah selalu ngancem Dengan ancaman ga masuk akal.
'Kakek kamu bakalan kecewa kalo kamu ga nurut' begitulah ancaman nya. Karena memang gue lemah soal Kakek gue yang ada di Amerika. Jadilah gue belajar sungguh-sungguh.

Btw, gue kelas XII Ips 4. Kelas paling unggul di antara yang lain nya. Kalian pasti tau kan siapa yang milih Kelas yang peraturan nya ketat plus isi nya robot semua.

"Siang banget dateng nya Din" Ucap Zara sahabat sehidup sesyurga. Oke lebay.

"Telat bangun." jawab ku.

"Kebiasaan!"

"Dahlah Yok ke kelas"

******

Disisi lain seorang pria sedang menatap Dinda lekat seperti ada hal aneh yang terjadi di hati nya. Daffa Aditya namanya, kelas XII Ipa 1. Bad boy sekaligus sang bintang di kelas nya. Di karenakan kepintaran nya yang tiada obat. Idaman para kaum hawa tentu nya.

"Ini nih yang gue suka. Deketin ah" gumam nya.

Daffa pun berjalan menuju kelas XII Ips 4 Tujuannya sekarang hanya seorang Adinda Maudy. Teriakan serta pekikan kuat terdengar di pendengaran Daffa. Ishh sudah seperti artis saja.

"Permisi.."

"Ya?" ucap Pak Dito selaku guru yang sedang mengajar di kelas XII ips 4.

"Punten Pa. Saya mencari Adinda Maudy." jawab nya sesekali melirik Dinda yang tampak kebingungan.

"15 menit. Ayo Adinda kamu boleh keluar"

"Ah, iya Pa terimakasih." Ujar Dinda.

Daffa tersenyum puas, seperti nya hari ini nasib nya baik. Dinda pun suda berada di hadapan nya sekarang sambil menatap intens ke arah Daffa.

"Siapa Lo? Ga kenal ko mangil-mangil!" ketus Dinda.

"Kalo gitu kenalin Daffa Aditya XII Ipa 1." Ucap Daffa Tenang.

"Adinda Maudy." jelas Dinda.

"Oke ikut gue ke perpus." ajak Daffa.

"mau apa lagi sih?!" Pekik Dinda.

"Mau ngomong penting."

Sesampainya di Perpustakaan. Dinda Dan Daffa duduk di bangku samping aquarium. Terlihat Wajah heran Dinda dan wajah sumriweh Daffa.

"So, mau ngomong apa? Gue gada waktu buat hal ga penting"

"Santai dong. Grogi nih gue" ucap Daffa Keringat sudah memenuhi pelipis nya.

"Emang nya ngomong apaan?" tanya Dinda Tak sabar.

"Gu..gue suka sama Lo Adinda Maudy"

-
-
-
-
Gantungin aja Dah hehe,,
Semoga suka sama Cerita ku. Maaf kalo kata-kata nya ga nyambung. Masih belajar hehe,,

Jangan Lupa Votmen nya temen-temen terimakasih💗




ADINDAFA (Sans Update)Where stories live. Discover now