part 1

54 3 1
                                        

"Gue seneng kita bisa kumpul bareng, apalagi lo juga ikut" ujar fina senang.

"Tumben lo dibolehin keluar malam" ucap luna pada ivana.

"Ya, gue harus punya alasan biar bisa kumpul bareng kalian. Jadi gue bohong dikit ama nyokap"

Drt drttt.

Ivana meraih ponselnya yang tiba-tiba berdering. Ia terkejut melihat nama panggilan yang terpampang dilayar ponselnya.

"Halo"

"Kamu dimana?"

"Aku...aku lagi dirumah"

"Kenapa ramai?"

"Sa..saudaraku pada main kerumah, ada apa?"

"Gak papa"

"Kalo begitu aku tutup ya"

Tut tut.

Ivana langsung mematikan telponnya.

"Siapa? Sampai ketakutan gitu" tanya luna.

"Alvaro"

Sebenarnya ivana tak tega membohongi alvaro, tapi gimana lagi alvaro suka sekali melarangnya pergi. Pacar gak keluarga sama saja membuatnya seperti boneka yang harus menurut. Sudah 2 tahun lebih dirinya menjalani hubungan dengan alvaro hingga sekarang. Alvaro 2 tahun lebih tua darinya.

Dulu ia mengira alvaro adalah pangeran yang akan menyelamatkannya dari kungkungan orang tuanya, ternyata sama saja. Dan semenjak orang tuanya merestui hubungannya dengan alvaro, alvarolah orang kepercayaan kedua orang tuanya.

"Ivana" panggil seseorang yang terlihat marah. Ivana pun menoleh.

"Varo" pekik ivana terkejut melihat alvaro yang kini berada didepannya. Sejak kapan alvaro disini.

"Pulang!" alvaro menarik ivana hingga membuat gadis itu berdiri dari duduknya. Lalu menyeretnya menuju tempat parkir mobilnya.

"Shh..  Varo tangan aku sakit" ringis ivana melihat pergelangan tangannya merah.

Alvaro membuka pintu mobilnya dan mendorong ivana masuk kedalam. Lalu dirinya berjalan masuk kedalam kursi pengemudi dan melaju cepat membelah jalanan.

"Varo aku bisa jelas..."

"Diem" ucap alvaro dingin.

"Tadi aku cuma..."

Citt.

"Aakh..." teriak ivana saat alvaro mengerem mobilnya mendadak.

"Aku bilang diem, ya diem" bentak alvaro.

Ivana langsung memalingkan wajahnya mengahadap jendela mobil. Dirinya tak berani menatap alvaro saat pria itu sedang marah.

Alvaro kembali melajukan mobilnya melaju membelah jalanan.

Tak butuh waktu lama, mobilnya berhenti tepat didepan gerbang rumah gadisnya.

"Aku masuk dulu" ucap ivana pelan.

Alvaro menutup pintu mobilnya kembali saat ivana hendak keluar dari mobilnya.

Ivana tampak ketakutan saat mendengar pintu mobil dikunci oleh alvaro.

"Aku belum selesai ngomong sama kamu" ucap alvaro datar.

Alvaro menatap gadisnya yang tengah menunduk tak berani menatapnya. "Kalo ada orang yang ngomong, lihat orangnya"

Ivana menggeleng pelan. Pertanda jika dirinya tak sanggup menatap pria disampingnya.

Alvaro geram saat gadisnya tak mengikuti perkataannya. Ia menarik dagu gadisnya untuk menatap dirinya.

"Kenapa menangis?"

Ivana lagi-lagi menggeleng pelan sambil mengusap air matanya yang terus mengalir. Katakanlah kalo dirinya memang cengeng. Lagi pula siapa yang gak menangis, jika dirinya dibentak oleh kekasih kita sendiri?

"Aku sudah bilang sama kamu! Aku tidak suka gadis pembohong! Kamu bukan cuma bohong sama aku, tapi juga bohong sama orang tua kamu sendiri" ucap alvaro nada tinggi.

"Lihat aku!" geram alvaro saat ivana menatap arah lain.

Ivana memberanikan diri menatap mata tajam alvaro yang memerah, menandakan jika pria itu tengah menahan emosi.

"Bisa tidak sekali kamu gak nangis, setiap kamu melakukan kesalahan yang kamu lakukan hanya menangis. Apa menangis bisa menyelesaikan masalah yang kamu buat?"

"Aku minta maaf" ucap ivana pelan.

"Bisa gak kamu ngertiin aku sedikit. kamu selalu nuruti kemauanmu sendiri tanpa ngertii aku"

Ivana menatap alvaro tak percaya. Dirinya kurang pengertian apa?. Bukan kah selama ini alvaro yang tidak mengerti dirinya. Ia selalu menuruti kemauan alvaro dan orang tuanya tanpa mengerti perasaannya sendiri.

"Aku harap kamu bisa berpikir seperti orang dewasa, tau mana yang salah dan yang benar!"

Dewasa? Justru itu ia ingin menikmati masa muda seperti anak muda biasanya. Ia hanya keluar malam bertemu teman-teman, bukan pergi ke klub. Kenpa semua orang begitu marah. Dirinya sangat lelah tiap hari harus itu ini, tak bisa memilih pilihannya sendiri.

"Ya, sekarang aku tau. Ternyata memilihmu adalah kesalahan yang besar" kevin menatap ivana tak suka.

"Apa kamu bilang?"

"Buka pintunya, ayah sudah nunggu didepan rumah"

Alvaro melihat arah yang dibilang gadisnya itu. Dan benar saja adam papa dari gadisnya itu tengah menatap mobilnya. Alvaro segera keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk gadisnya. Kemudian memegang tangan ivana. Ivana tak bisa menolak karena alvaro memegang tangannya sangat erat.

"Assalamualaikum yah" ucap alvaro seraya tersenyum.

"Waalaikum salam, kenapa diluar? Ayo masuk!"

"Gak usah yah, alvaro langsung pulang aja" ucap alvaro kemudian menatap ivana.

"Kamu istirahat ya, jangan tidur terlalu malam" ucap alvaro lembut, seakan-akan tak terjadi apa-apa. Ivana hanya mengagguk mengiyakan perkataan alvaro.

"Alvaro pamit yah" pamit alvaro sambil menyalami tangan adam.

Alvaro segera masuk kembali kedalam mobil, lalu melaju cepat membelah jalan.

Ia tidak suka gadisnya seperti ini terus. Ia akan memikirkan cara agar gadisnya kembali berada dibawah kendalinya.

--------------------

Vote and komen

Dostali jste se na konec publikovaných kapitol.

⏰ Poslední aktualizace: Aug 01, 2020 ⏰

Přidej si tento příběh do své knihovny, abys byl/a informován/a o nových kapitolách!

My life is not my own choice.Příběhy, které tě pohltí. Začni objevovat