"Kerja apa sekarang?" Tanya seorang teman lama, suatu hari.
"Ibu rumah tangga." Jawabku setelah meneguk minuman, yang kami pesan bersamaan.
"Oohhh..." Setelah itu Ia tak tampak antusias lagi. Sangat berbeda, ketika Ia menanyakan hal sama pada temanku yang lain. Ia menjabat sebagai supervisor, pada salah satu departemen perusahaan besar di Jakarta. Posisi duduknya pun akhirnya menjauh dari sebelumnya. Ia lebih nyaman berlama-lama, dengan yang Ia anggap lebih menarik diajak berbicara mengenai pekerjaan.
Reuni, terkadang menyakitkan untuk beberapa orang. Ajang silaturahmi yang seharusnya dibuat santai untuk temu kangen, nyatanya kadang menjadi sarana pamer, untuk membuktikan masing-masing eksistensi diri. Kerapkali, profesi Ibu Rumah Tangga, menjadi pekerjaan yang dianggap sebelah mata.
Ah, sudah biasa, aku tak 'kan baper kali ini. Awalnya mungkin iya, menjawab pertanyaan basa-basi dari kenalan, teman, bahkan keluarga yang terkadang membuat dadaku sesak. Lontaran demi lontaran tentang sedikit kecewanya mereka akan gelar yang kudapat dengan susah payah. Hmmm, sudahlah. Aku kembali menyantap makanan yang tadi baru kucoba beberapa suap saja.
***
"Oh, Ibu rumah tangga, doang. Pantes, pasti dia punya banyak waktu luang. Emang kita, yang sibuk seharian kerja, sampe rumah udah cape, harus urus anak dan suami. Udah bagus, kita ada waktu buat mikirin pendidikan anak, di antara setumpukan laporan dan kerjaan lemburan, ya, kan?" Ketulah, tujuh tahun lalu, aku pernah berujar demikian. Menganggap bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga adalah sebuah alternatif terakhir, dalam hidup berumah tangga. Bercita-cita menjadi wanita karir sukses, membuat mindsetku selalu berpaham, bahwa menjadi IRT bukanlah suatu prestis, yang patut dibanggakan.
Padahal, jika melihat ke belakang, aku dibersamai oleh wanita hebat yang tak pernah bekerja di ranah publik. The real wonder woman, ibu yang 10 kali melahirkan, memiliki 4 orang putra dan 4 orang putri. Hidup tanpa bantuan seorang asisten rumah tangga. Zaman bahkan masih serba konvensional, kala itu. Tidak ada diapers, magic jar, apalagi mesin cuci. Teknologi masih serba apa adanya, tapi ia mampu membesarkan anak-anaknya hingga sarjana.
Mungkin Mama melihat ada yang istimewa padaku, juga kakak perempuanku yang lain. Emansipasi, sedikit banyak juga merubah sudut pandang Mama, tentang masa depan anak-anaknya kelak. Sehingga melalui pendidikan, Mama mau semua anak perempuannya, bisa berkarya dengan bekerja di ranah publik.
Doa yang terkabul, atas izin Allah, setelah menuntaskan gelar sarjana, satu per satu anak Mama pun membuktikan eksistensinya. Kebanyakan dari keluargaku, berprofesi sebagai PNS. Entah hanya di daerahku, atau mungkin daerah lainnya juga, yang menganggap bahwa menjadi PNS adalah suatu kebanggaan. Profesi yang sangat dihormati dan seolah menempati kasta atas, di masyarakat.
Anehnya aku tak pernah merasa tertarik, untuk mengikuti jejak langkah almarhum Bapak, juga kakak-kakakku yang lain. Menghabiskan waktu tahunan demi sebuah penantian di angkat menjadi PNS, rela digaji rendah demi atas nama pengabdian, untuk diperhitungkan masa bakti selama jadi honorer, menurutku tak masuk akal. Aku lebih baik mendulang karir di swasta, yang benar-benar menghargai kinerjaku secara nyata. Lima tahun pengabdian honorer, bisa menghantarkanku menjadi seorang manajer, pikirku saat itu.
Sampai akhirnya jodoh itu datang, cinta merubah segalanya. Bahwa setelah menikah, duniaku berubah dengan sendirinya. Ada kewajiban utama, yang harus kuurusi ketimbang obsesiku meraih karir gemilang. Perlahan hati ini pun tersentuh, ketika melihat wajah lucu nan menggemaskan yang berjuang bersama selama sembilan bulan.
Naluri keibuanku berbicara, bahwa mahluk kecil itu haruslah menjadi prioritasku. Dia akan lebih bahagia bila aku bisa bersamanya selama 24 jam. Ya, tumbuh berkembang bersama ibu kandungnya, bukan dengan orang lain.
ESTÁS LEYENDO
The Real Wonder Woman
No FicciónCerita tentang lika-liku Ibu Rumah Tangga, profesi yang terkadang di pandang sebelah mata. Bagaimana sebenarnya perjuangan seorang IRT yang tanpa lelah, menjadi pencipta peradaban dari rumah. Ingin membuka mata kita semua, bahwa IRT adalah profesi y...
