Aku ingat, hari pertama dimana aku berada di satu tempat asing. Sekian pasang netra menatapku heran, berbagai pertanyaan pun muncul tanpa bisa dihentikan. Sebatas pertanyaan dari mana aku berasal, kapan aku lahir, bahkan alasan mengapa aku berada di tempat yang begitu asing ini.
Aku ingat, dua hari dimana aku berada di satu tempat asing. Mereka tak lagi bertanya. Mereka mulai mendekatiku. Mencari celah untuk menjadi seorang teman, berlomba-lomba memberi perhatian, memberi beragam kesan 'baik' lainnya.
Aku ingat, tiga hari dimana aku berada di satu tempat asing. Mereka mulai terlihat seperti manusia, mereka bercerita tentang seorang yang mereka suka, bahkan menceritakan hal buruk tentang orang lain. Hari itu perlahan aku mulai mengetahui— mereka bukan seorang yang bisa ku percaya.
Dan aku ingat, hari-hari berikutnya aku menjadi bahan pembicaraan dalam lingkaran kecil yang semakin hari semakin tak karuan. Aku mendengar semuanya, tapi aku diam. Kenapa? Sudah jelas alasannya, mereka tak layak untuk didengar. Tak layak untuk ku layani ucap kosongnya.
Tiba satu hari dimana salah seorang dari mereka menghampiriku, aku pikir ia akan menyapa atau sekadar melempar senyum 'manis' dihadapanku. Keduanya salah, dugaanku meleset. Seorang menghampiriku hanya untuk berkata "i pity you." dan kemudian pergi begitu saja.
Mereka tertawa, mereka bahagia, dan mereka tak pernah tahu seberapa besar luka yang tercipta dalam waktu singkat. Luka yang membuat seorang kesakitan di setiap malam datang.
Terima kasih untuk luka yang telah kau ciptakan, aku harap kau tak menerima luka yang sama.
-
end.
23/07/20
-
