01

43.2K 260 5
                                        

Seorang perempuan duduk dalam bus yang ditumpanginya dalam perjalanan pulang ke rumah. Ia merintih kesakitan dan mengelus perutnya yang membesar yang berisi dua anaknya, memutar menggunakan telapak tangan kanannya, tangan kirinya digunakan untuk menyangga pinggangnya yang rasanya seperti akan patah.

Bus yang ia tumpangi kali ini penuh sesak terjejali berbagai jenis manusia, ia berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Hiruk pikuk orang di sekelilingnya membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Keringat bercucuran di dahi. Ia menggigit bibir bawahnya menahan erangan rasa sakit karena kontraksinya menguat.

Ia akan melahirkan. Begitu pikirnya. Memang kandungannya sudah overdue, jadi sudah waktunya anak-anaknya lahir. Sudah 11 bulan lamanya ia mengandung anak kembarnya, bisa dibayangkan sebesar apa perutnya itu.

Laki-laki itu memang gila. Atau mungkin ia yang bodoh, begitu pikirnya. Laki-laki itu, suaminya memberikan obat agar bayinya membesar dan memperlambat jadwal kelahiran bayinya.

Ia sudah membayangkan bagaimana sulitnya melahirkan bayinya karena ukurannya yang besar dan juga kembar. Ia tak pernah punya pengalaman melahirkan sebelumnya, ia takut banyak hal. Tapi yang jelas yang harus ia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya ia melahirkan bayi ini dengan selamat.

Ia sudah memikirkan agar tak pulang ke rumah. Kalau ia pulang, pastinya suaminya akan menyiksanya dan memberikan obat penunda kelahiran lagi. Tetapi ini sudah terlalu overdue, ia takut bayinya kenapa-kenapa.

Akhirnya ia turun ke halte bus yang lumayan masih jauh dari rumahnya. Ia berjalan tertatih-tatih menuruni bus dan langsung duduk di tempat duduk di halte bus itu. Napasnya tersengal, sesak sekali. Keringatnya makin banyak dan tubuhnya sudah banjir keringat. Keringat sebesar biji jagung pun lahir di dahinya. Bibirnya bergetar dan pucat. Ia duduk bersandar pada tiang yang menjulang di sisi halte bus dan menggunakannya untuk menopang tubuhnya agar berdiri. Ia memerhartikan sekeliling, di samping halte ada pabrik yang sudah lama tidak dipakai menjadikan kesan angker di setiap mata memandang bangunannya. Ia berniat melahirkan disana.

Dengan tertatih ia berjalan menuju pabrik tua itu, akhirnya ia sampai di dalamnya. Banyak sarang laba-laba dan bangunannya begitu kotor. Ia duduk di sudut bangunan dan mengalasinya dengan kain yang ia bawa agar bayinya tidak kotor.

Ia terduduk sambil terengah-engah. Asal saja tangannya buru-buru membuka celananya yang ketat. Tangannya terulur untuk mengecek bukaannya.

Sembilan. Sebentar lagi anak-anaknya akan lahir. Ia mengelus perutnya sambil menahan ejanan. Tak lama, sesuatu yang mengalir dari vaginanya merembes deras. Ketubannya pecah. Ia semakin gelisah. Rasa sakitnya semakin menjadi dan ia merasa tubuhnya terlalu gerah sehingga melepaskan seluruh kain yang melekat pada tubuhnya tanpa menyisakan sehelai benang pun.

Ia menarik napas panjang bersiap mengejan.

"Enggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh"

Darah semakin mengucur dari vaginanya tetapi tak ada yang terlihat, seolah kepala bayi masih terlalu jauh. Keringatnya semakin mengucur deras melewati pelpisnya. Urat di bagian leher pun tercetak jelas saat ia menggertakkan gigi lalu mulai mengejan lagi.

"Eungggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh astaga ya Tuhan sakiiitt"

Ia terus mengejan meskipun kepala bayi belum terlihat sedikit pun.

"EUNGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH ya tuhan aku lelah"

"huh huhhhh biarkan mama bernapas dulu sayang"
kontraksinya datang saat dia bahkan belum mengambil napas. Wajahnya sudah tidak karuan.

"EUNGGGGGHHHHHHH huh huh hufttt huh hah huh hah"

Sesuatu yang hitam nampak menyembul di lubang vaginanya. Ia beristirahat sebentar lalu saat kontraksi datang ia mengejan lagi.
"Enggggghhhhhhhhhhh aku tidak kuat hiks tolonggggg apa aku akan mati hiksss"
"EUNGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH"

Kepala bayinya sedikit keluar namun masuk lagi saat ia berhenti mengejan. Ia sadar bayinya sudah terlalu besar tetapi ia tidak boleh menyerah.

"EUNGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH YA TUHANNNN"

"EUNGGGGHHHHHHHH"
Kepala bayinya sudah keluar sedikit.

Ia mengatur napasnya lagi lalu makan makanan yang ia beli tadi untuk menambah tenaga. Ia juga minum susu. Ia melakukannya dengan cepat lalu mengejan lagi.

"EUNGGGGGGGGGGHHHHH AHKKK PANASSS YA TUHAN HIKS SAKIT SAKITT"

"EUNGGGGHHHH"
"plop"
kepala bayinya keluar. Ia menarik napas lagi. Istirahat sejenak. Ia mengelus kepala anaknya. Besar sekali ternyata, karena itu sulit mengeluarkannya.

Ia lelah dengan posisi bersandar pada pojok ruangan. Kemudian mengganti posisinya menjadi jongkok dengan tangan kanan menjadi tumpuannya ke tembok lalu tangan kirinya menangkup kepala bayinya. Ia masih terengah, tetapi posisi ini memudahkannya untuk melahirkan bayinya meskipun ia rasa tekanannya menjadi lebih kuat karena dipengaruhi oleh gravitasi. Ia menarik nafas lagi dengan panjang. Keringatnya terlalu banyak ia seka dengan tangan dan menetes-netes di lantai yang kotor. Ia mulai bernapas.

"Huhhh haaahh huhhhhhh"
Ia mengeratkan giginya dan tetap membuka matanya, sisi tembok yang kasar ia cengkeram dengan tangan kanannya lalu bersiap mulai mengejan lagi.

"Eunggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhh hah hah"
bahu bayi mulai lahir sedikit demi sedikit.

"EUNGGGGGHHHHHH HAH"
"Keluarlah nak, mama lelah."
Bibir pucatnya bergetar.

Ia mengatur napasnya lagi. Sakit sekali, panas dan mengganjal di area vaginanya. Air matanya mengalir deras merasakan bagaimana kesakitannya ini. Tapi ia tak boleh menyerah, setidaknya kalau ia harus mati, anaknya harus melanjutkan hidup meski tanpanya.

Ia menarik napas lagi lalu mulai mengejan dengan keras "EUNGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH"
"huh hah EUNGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH" badan bayi keluar seutuhnya lalu ia menangkap dengan dua tangannya lalu ia duduk bersandar dan menyusui anak sulungnya yang menangis keras dengan plasenta masih terhubung.

Ia masih terengah dengan anak pertamanya yang masih menyusu, kemudian dengan segera ia memotong tali pusatnya.

Dorongan dari anak keduanya mulai ia rasakan, ia tidak tahan lalu mulai mendorong dengan anak pertama di dekapannya. Ia sudah lelah tapi ia harus tetap mendorong untuk keselamatan anak keduanya. Ia berjongkok kemudian menarik napas panjang dan mulai mengejan.

"Eungggggggghhhhhh huh huh"

"Arghhh keluar n-nak, ayo mama akan m-menyambutmu,"

Nafasnya mulai tercekat tapi ia terus mengejan tanpa henti.

"EUNGGGGHHHHHHHHH" kepala bayi keluar sedikit demi sedikit.

Bibirnya sudah pucat pasi ditambah dengan anak yang sedang menyusu membuatnya terlihat kewalahan. Tenaganya sudah habis, tetapi si bungsu terus mendorong sehingga ia juga harus mendorong.

"ERGHHHHHHHHHHHHHHHHHHH keluar ah keluarhhh juga kau sayang huh huh"

Kepala bayinya keluar membuatnya lega kemudian ia menarik napas dan mendorong lebih kuat lagi.

"AGGHHHHH EUNGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH"

Bahu bayi pun keluar dan ia merencanakan ejanan sekali lagi untuk mengeluarkan bayinya, ejanannnya tedengar keras dan memilukan bagi siapa pun yang mendengarnya.

"Huffttt HMMMMMMMMPPPPPP AHHH EUNGGGGGGGGGGHHHHHHH"

Suara tangisan bayi kedua terdengar kuat menandakan paru-parunya sehat. Kemudian ia memotong tali pusarnya dan membawa bayi kedua menyusu bersama bayi pertama dengan bersandar di tembok bangunan. Kondisinya kacau dan ia butuh istirahat sejenak untuk kemudian pulang ke rumah. Ia perlahan menutup matanya dan kehilangan kesadarannya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 19, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

BIRTH STORIES ~Stories to obsess over. Discover now