1

121 9 6
                                        

Mentari mulai menampakkan diri dengan sinarnya. Lain halnya dengan seorang remaja pria yang tengah bermain-main di alam mimpinya.

"Yangg, bangunnn..."

Kekasih dari pria itu tengah berusaha membangunkannya. Sebenarnya matanya sendiri berat untuk diajak kompromi setelah semalam suntuk berolahraga menuntaskan birahi remaja mereka. Hanya terhitung tiga jam untuk mereka memejamkan mata setelah sayup-sayup terdengar suara adzan shubuh berkumandang dan menyudahi kegiatan mereka.

"Yanggg, bangun ihh.."

"Mm, kenapaa?? Masih pagi inii..."

"Bangun duluu... Aku mau kam-,"

"Kamu mau lagi kan? Yaudah sini.."

Pria itu menarik dan memeluk erat tubuh kekasihnya, melumat bibirnya dan mencoba menyusupkan lidahnya dalam keadaan terpejam karena dia masih sangat mengantuk.

"Aww,, bangsad.. Kok lu gigit?"

"Lu yang bangsad. Udah buru pakai baju kamu sana. Antarin aku pulang, bokap udah ngamuk noh di rumah gara gak pulang semalam."

"Loh, kamu gak izin rupanya?"

"Lupa semalam, Yang.. Abisnya keburu sange semalam. Heheh."

"Hmm yaudah, tapii.... Sekali lagi ya? Ya ya?? Udah ngaceng ni, Yangg"

"Kagak!! Udah buruan ih. Nanti bokap tambah marah terus gak ngebolehin nginap diluar lagi. Memang kamu mau??"

"Hmm, kalau gak kamu isepin aja yaaa. Sebentar aja kok. Kamu tau kan kalau punya ku gak bakal lemas kalau gak dikeluarkan. Capek ngocok, Yangg...." Pinta sang pria dengan ekspresi yang super memelas sambil mengarahkan tangan kekasihnya untuk menggenggam pusakanya.

"Lu mau ngentot sekarang, dan untuk yang terakhir kalinya atau antar gua pulang sekarang?" Tawaran kekasihnya dengan menekankan kata 'untuk terakhir kali'.

"Terserah lu lah. Gua bisa cabut sendiri." Acuh sang kekasih meninggalkannya setelah tidak kunjung dapat respon atas tawaran itu.

"Anjing. Iya iyaaa,, tunggu, Yang."

Pria itu hanya bisa pasrah, memungut pakaiannya yang berserak dan memakainya kembali. Sekasar apapun kekasihnya, dia tidak akan pernah memutuskan hubungan atau bahkan terpikir untuk meninggalkan. Karena sejauh ini cuma kekasihnya itulah yang dapat menandingi dan memuaskan libidonya.

--

"Makasih ya, Yang.." Pamit sang kekasih setelah mobil yang mereka kendarai terparkir di depan gerbang rumah, dan memberi kecupan singkat. Kadung nafsu, yang awalnya hanya sekedar kecupan, sang pria mengambil kesempatan dengan kembali melumat bibir serta menuntun tangan kekasihnya itu untuk bermain di gundukan celananya.

"Lain kali ya, Yang. Kamu mah gak bakal bisa kalau cuma diisap, pasti lama. Capek mulut aku tuu..." Kilah kekasihnya dan keluar meninggalkannya dengan kepala yang sakit. Baik kepala atas maupun kepala bawah. Dengan terpaksa dia bermain solo nanti setiba di rumah.

--

"Yan, sini turun bentar. Papa mau ngomong."

Baru saja dia hendak melanjutkan tidurnya yang tertunda, tiba-tiba suara yang menggelegar memaksanya untuk kembali membuka mata dan tanpa menjawab dia segera menghampiri sumber suara itu. Tidak lupa memakai kembali celananya yang sengaja dilepas sebelum ritualnya tadi.

"Ya, Pa. Kenapa, Pa?? Iyan baru mau tidur."

"Duduk dulu! Kamu ini kebiasaan, orangtua duduk kamu ngomong sambil berdiri gitu. Gak ada sopan santunnya, kayak preman pasar."

Lika-Liku (Kemasan Baru)Geschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt