Bodoh! Bodoh, bodoh! Bisa-bisanya aku memintanya mengantarku pulang. Lagi. Bisa meledak jantungku. Ide dari mana sih ini? Ohya, dari temanku si bodoh itu. Dammit, ide ini tadi terasa seperti ide yang paling brilian di muka bumi ini, tetapi kenapa setelah aku duduk manis di jok mobil ini ide ini terasa sebagai siksaan neraka yang manis. Wajahnya yang serius memperhatikan jalanan adalah salah satu siksaan paling manis di dunia ini. Di lampu merah perempatan dekat rumahku, ia melirikku dan dengan satu gerakan cepat menggenggam tanganku. Neraka! Neraka! Ia juga dengan gampangnya mengecup punggung tanganku. Setelah lampu hijau menyala kembali ia melepaskan tanganku dan kembali fokus dengan jalanan. Di depan rumahku, ia segera turun dan membukakan pintu untukku. Ia tersenyum manis sekali ke arahku. “Gue sayang lo.” Bisiknya pelan di telingaku saat aku turun. Aku hanya mengangguk dan segera berlari kedalam rumah. Di dalam aku hanya bisa duduk di lantai, mencoba mengatur nafas dan detak jantung.
YOU ARE READING
point de vue
Short StoryBeberapa orang dengan cara pandang yang berbeda, dari perspektif pribadi yang personal, melihat beberapa kejadian yang terjadi pada potongan-potongan waktu. //requests can be sent via private messages// Copyright 2014 hanagc. All rights reserved.
