Matahari sore mulai beranjak pergi, menciptakan semburat oranye keemasan di langit Kota Seoul. Langkah kecilnya ia bawa menyusuri trotoar jalan yang lumayan sepi, hanya beberapa orang saja yang berlalu-lalang. Hal itu memberikan sedikit ketenangan bagi gadis dengan paras cantik itu. Surai kecoklatannya ia biarkan tergerai bebas dan tertiup angin sore. Serta earphone yang tepasang dikedua telinganya, mengalunkan sebuah musik dari grup kesayangannya; Got7.
Langkahnya terhenti di sebuah halte, menunggu bus yang akan mengantarkannya pulang ke rumah.
Beberapa saat berlalu. Bus yang ia tunggu akhirnya datang, lalu ia melangkahkan kakinya menaiki bus tersebut; mencari tempat duduk yang kosong kemudian mendudukan dirinya dan menyandarkan kepalanya.
Gadis cantik itu memejamkan matanya. Menikmati dunianya sendiri.
Tak lama, sebuah tangan menepuk pelan bahunya, hingga membuatnya tersadar dan membuka mata.
Iris kecoklatan itu menangkap sebuah sosok tampan yang akhir-akhir ini memikat hatinya. Seseorang yang diam-diam ia sukai dari pertama kali mereka bertemu pada saat kegiatan MPLS.
Seperti cinta pandangan pertama mungkin?
“Ryujin. Hey kau kenapa?” Gadis yang disapa Ryujin itu membuyarkan lamunannya. Semoga saja dia tidak ketahuan sedang mengagumi lelaki di depannya ini.
“Kau kenapa? Apa kau sakit?” Tanya lelaki itu lagi yang sekarang telah duduk di sampingnya.
“Ah a-ani, gwaenchanha.” Jawab Ryujin.
Lelaki itu menghembuskan napasnya lega. “Ku kira kau sakit. Wajahmu terlihat merah padam.”
Oh sial, apakah pipinya bersemu tadi? Semoga saja Hyunjin tidak menyadarinya, pikir Ryujin.
Ya, lelaki itu bernama Hyunjin.
Lelaki bermarga Hwang itu adalah teman satu angkatannya. Hanya saja mereka berada di kelas yang berbeda. Hyunjin berada di kelas 11-3, sedangkan Ryujin berada di kelas 11-2. Keduanya dekat karena mereka berada dikelompok yang sama sewaktu kegiatan MPLS.
“Tumben sekali kau naik bus.”
“Memangnya kenapa? Apa tidak boleh aku menaiki bus?”
“Aniya, bukan seperti itu. Biasanya kau menaiki mobil, dimana mobilmu?"
“Tiba-tiba saja dia ingin masuk rumah sakit. Untung saja dekat dengan halte jadi aku tidak perlu repot-repot berjalan jauh mencari halte lagi.”
Ryujin mengangguk mengerti.
Selama dalam perjalanan Hyunjin tak hentinya menbuat topik pembicaraan. Membuat Ryujin meninggalkan dunia ‘menyendirinya’ dan sibuk menanggapi celotehan yang keluar dari mulut Hyunjin.
Ryujin memang dikenal sebagai gadis yang ceria, humble kepada setiap orang, dan sangat murah senyum. Selalu bercanda gurau dengan teman-temannya. Seakan menutupi semua kebohongan dari setiap senyumannya.
Tapi, siapa sangka disisi lain dia memiliki dunia yang yang begitu sunyi. Dimana dirinya seperti tidak memiliki orang lain dihidupnya. Begitu kelam bagaikan ruang kosong tanpa cahaya sedikitpun.
Semuanya berawal dari pertengkaran hebat kedua orag tuanya. Hingga, ayahnya memutuskan untuk menikah dengan orang lain, sedangkan ibunya sibuk bekerja hingga tidak ada waktu hanya untuk sekedar mengetahui kondisi anaknya. Dan Yuna, adik kesayangannya yang kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya menambah rasa sakit hati Ryujin juga perasaan yang selalu diselimuti rasa bersalah.
Sejak saat itu Ryujin lebih memilih menjadi pribadi yang pendiam jika berada dirumah dan lebih senang mengurung diri di kamarnya sendiri.
Bus itu berhenti di tempat pemberhentiannya. Ryujin melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal kepada Hyunjin. Lalu turun dan memasang penutup kepala dijaket yang ia kenakan. Kemudian berjalan menuju rumahnya.
YOU ARE READING
Loveshit || hwangshin
FanfictionTentang kisah cinta mereka, rasa sakit hati mereka, dan bagaimana mereka bahagia
