Satu : Gadis Gila

5 0 0
                                        


Ketinggian ini membuatku tertantang, ketika angin berhembus sangat kencang. Ada banyak orang yang berpikir aku gila.

"Turunlah dari sana! Apa kau gila?" teriaknya mencoba menghentikanku.

Ya! Aku gila. Tidak ada yang bisa menghentikanku.

Aku merentangkan tangan dan menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Dan..

Byurr...

Orang-orang di atas jembatan hanya bisa berteriak. Aku mencoba mengakhiri hidupku disini. Tidak ada orang yang akan peduli bukan?

Semakin dalam aku terjatuh, semakin samar cahaya dari luar yang kulihat. Aku tidak berusaha keluar dari sini, memang ini yang ku inginkan. Menjemput ayah dan ibuku.

Tubuhku semakin lemas saja. Rasanya pasokan oksigen tergantikan oleh air yang memenuhi mulut dan hidung. Apakah aku sudah mati?

°°°

Remang-remang cahaya terlihat oleh mataku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Dimana aku? Yang kulihat adalah sebuah ruangan berwarna putih dan abu-abu gelap bernuansa simple dan sangat asing di mataku.

Aku duduk di tepi ranjang, kemudian mencubit tangan dan pipiku berulang kali. Bukan mimpi ya? Ku kira sudah berada di surga. Yang benar saja! Betapa terkejutnya melihat pakaian yang ku kenakan tadi siang sudah tidak ada. Berganti dengan daster ibu-ibu?!

Aku mencoba berpikir keras. Tapi kepalaku cukup pening untuk sekedar berpikir biasa. Tenggorokan dan hidungku terasa sangat sakit.

Tiba-tiba pintu di ruangan ini terbuka. Menampilkan sosok lelaki tampan namun asing yang membawa nampan berisi bubur dan air hangat, lalu meletakkannya di meja sampingku.

"Kamu sudah siuman?" tanyanya.

"Siapa lo? Dimana gue?" Aku duduk di pojok tempat tidur ketika lelaki asing itu mencoba mendekat. Aku merasa takut. Lelaki itu mencoba menenangkanku ketika aku tiba-tiba menangis sambil memeluk kaki ku.

"Hei! Tenanglah! Aku akan menjelaskannya ketika kamu sudah makan. Ayo makan dulu." ucapnya menggunakan nada pelan sambil mengelus rambutku yang sedikit basah.

Ia menyodorkan nampan tersebut. Mempersilahkan untuk makan.

Aku menyendok bubur dengan gerakan ragu. Bagaimana jika ada racunnya?

"Tidak ada racun atau semacamnya di dalam buburmu. Makanlah!" ucapnya seperti bisa membaca pikiranku.

Aku segera melahap makananku dan menghabiskan teh yang ada dicangkir tanpa tersisa sedikit pun.

"Ayo kita turun!" lelaki itu mengajakku keluar dari kamar itu. Tapi baru beberapa langkah aku beranjak dari dudukku, rasanya kepalaku masih sangat pening. Aku menghentikan langkah dan sepertinya dia tau apa yang terjadi. Dia merangkul lenganku lalu menuntunku untuk berjalan.

Dia membawaku ke ruang tengah rumah ini. Disana ada pria dan wanita paruh baya yang duduk sedikit berjauhan. Lelaki ini menuntunku untuk duduk di sofa.

"Sebenarnya kalian siapa?" tanyaku dengan tidak sabar.

"Baik, akan saya jelaskan. Disini maksud kami bertiga adalah baik. Anak saya mencoba menolong kamu saat kamu terjatuh dari jembatan. Dia, membawamu pulang ke sini untuk menyelamatkanmu." jelas pria paruh baya tersebut.

"Terus? Baju?"

"Tadi baju kamu basah kuyup. Terpaksa harus diganti saat kamu tidak sadar. Itu baju milik Bi Asri. Tenang saja, yang menggantikan pakaianmu itu Bi Asri, bukan aku atau papa." jelasnya.

Wind and WishWhere stories live. Discover now