ANGKASA

52 5 0
                                        

.
.
.
.
.
.
.

"DUKK!"

Sebuah bola--,eum lebih tepatnya sebuah miniatur alkaid, baru saja mengenai tatanan rapi rambut sekaligus kepala wanita setengah baya yang kini tengah siap mengumpat.

"ANGKASAA!!"

Sebuah teriakan memekakan telinga akhirnya lolos dari bibir wanita tadi.

Seperti mendengar sinyal bahaya, Angkasa tergopoh-gopoh keluar dari lab tersebut melewati pintu gaib. Tapi tenang, itu hanya sebutan yang ia buat saja. Pintu transparan itu sebenarnya dilengkapi keamanan tingkat tinggi dengan scanner canggih berwarna kebiru-biruan. Selain itu,yang bisa melewatinya hanya siswa-siswi, para pengajar akademi, robot asisten, atau lainnya yang bukan sembarang orang.

Berandal itu langsung keluar dari Lab Riset Antariksa. Dan jika kalian bertanya-tanya, Angkasa tentu tidak sendirian.

Ia bersama berandal lainnya yang -oh tampan tapi dusta.

Mereka berlari secepat yang mereka bisa, membabibuta mencari tempat dimanapun itu untuk bersembunyi. Mereka sadar betul apa yang baru saja mereka perbuat. Kekanakan memang. Tapi sepertinya mereka begitu menyenanginya.

Pagi ini, mereka sudah mengacaukan kelas Profesor Ley dengan menyepak sana-sini miniatur bintang alkaid, salah satu bintang paling terang di konstelasi ursa major Layaknya pemain bola profesional, walaupun sekarang olahraga itu sudah tidak lagi populer.

Melihat itu, Profesor Ley yang sedang menerangkan konstelasi dan segala tetekbengek-nya sesaat mengamati, lalu menghampiri Aldebaran.
Oh, dan kini mereka baru saja memulai ronde pertama lempar tangkap.

Seisi auditorium memerhatikan mereka.

Bisa dibilang Profesor Ley ini agak tidak sabaran, mengingat tempatnya berdiri semula lumayan juga dari tempat para penghuni kelas belakang.

"Payahh.." seru Aldebaran masih tidak sadar kehadiran Profesor Ley sedang berjalan ke arahnya.

Dari samping, ia tengah melempar miniatur bulat itu tinggi-tinggi kearah Angkasa agar kesulitan menangkapnya.

Tapi Aldebaran salah.

Angkasa tidak menangkapnya. Angkasa justru langsung memukul balik kearahnya.

Ia terkejut.
Tapi bukan karena miniatur bulat tadi yang mengenai kepalanya.
Miniatur tadi justru mendarat mulus di kepala Profesor Ley yang langsung mengaduh sakit.

_ _ _ _

"Hufftt.."

"gelarnya profesor, tapi kerjanya nyusahin" keluh Angkasa keluar dari persembunyiannya.

"Sadar diri bro. Biasanya yang bilang nggak jauh beda" balas Aldebaran turut keluar dari belakang punggung Angkasa.

"Bentar, tadi siapa yang ngelempar duluan?" tanya Angkasa kemudian, matanya mengisyaratkan Aldebaran untuk mengaku.

"Apa? Gue?"

"Ehehehe.."

"Apa lagi?" tanya Aldebaran dengan nada bosan.

Namun sebelum pertanyaan Aldebaran terjawab, suara perut Angkasa sudah lebih dulu mengatakan semuanya.

Selain matanya, ternyata perutnya juga pandai berisyarat bung, pikir Aldebaran.

Tanpa buang waktu, Angkasa berjalan mendahului Aldebaran melewati koridor kaca yang menghubungkan satu gedung dengan gedung lainnya.

Ramai, seperti biasa.

Turn Back Time || NCTWhere stories live. Discover now