Hwang Ceysa, merupakan gadis yang siang ini telah menyelesaikan masa pendidikan sarjananya.
Siang yang panas membuatnya semakin kesal, karena orang-orang masih saja mengajaknya berfoto bersama.
"Runa, ayo cepat pergi dari sini" Ceysa menarik sahabat nya itu menjauh dari keramaian.
"Ayah dan ibumu dimana? Jimin? Kemana dia aku belum melihatnya" Tanya Runa, matanya memutar menyusuri kalau kalau Jimin ada disekitar sini.
"Ayah dan ibu sudah pulang, Jimin sedang menemui temannya" Ceysa berhasil keluar dari keramaian itu dengan Runa.
"Aku akan segera pulang"
"Kau saja duluan, aku dengan Jungkook" Runa menghindar perlahan, ia tak ingin jika sahabatnya ini melayangkan pukulan kedirinya.
"Apa Jungkook? Anak tingkat 3 itu?" Pekik Ceysa karena terkejut akhirnya Runa menerima kehadiran adik tingkat yang terkenal playboy itu.
"I-iya"
"Jangan salahkan aku jika kau dimainkan dengannya, aku pulang duluan" Ceysa mendengus kesal. Sebelumnya Runa sudah dinasehati oleh Ceysa, karena Jungkook hanyalah pria yang akan mengoleksi wanita. Dan Ceysa yakin kali ini Jungkook hanya akan mempermainkan Runa.
"Cey jangan begitu dong" rengek Runa, supaya sahabatnya ini tidak marah dengannya.
"Aku sudah memperingatkanmu, sekarang terserah denganmu" Ceysa langsung berjalan kearah gedung untuk masuk mencari Jimin dan segera pergi. Ia sudah sangat lelah dan udara hari ini lumayan menyengat untuk kulitnya.
Di dalam gedung ternyata sudah tak terlalu ramai, ia dengan mudah menemukan Jimin. Jimin sedang mengobrol dengan kedua temannya.
Kebetulan Jimin berdiri mengarah ke pintu maka dengan mudah juga Jimin menemukan Ceysa yang sudah berdiri menunggunya. Jimin melambai. Lalu tak lama ia berpamitan dengan temannya dan menghampiri Ceysa dengan sedikit berlari.
"Kau sudah selesai?" Tanya Jimin.
"Sudah, ayo pulang" ucap Ceysa lemah karena ia memang sudah lelah. Dan dia sangat benci keramaian.
Jimin mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Ceysa menuju mobil.
"Ada yang ingin kau cari dulu sebelum pulang?" Tanya Jimin ketika mobilnya keluar dari kawasan kampus Ceysa. Biasanya Ceysa akan membeli sesuatu sebelum pulang seperti kue, minuman atau makanan lainnya.
"Tidak, aku sudah sangat lelah" Ceysa menyandarkan tubuhnya dengan sangat nyaman.
Jika sudah lelah begini, Ceysa tidak akan membalas jika diajak mengobrol. Jadi Jimin memilih diam dan melanjukan mobilnya lebih cepat.
Sesampainya di rumah, Ceysa langsung turun, sebelum berhasil turun, Jimin menahannya.
"Cey, sebentar" Jimin keluar dari mobilnya dan berjalan membuka bagasi mobilnya. Ia meraih bunga dan sekotak hadiah yang lumayan besar. Entah apa didalamnya.
Ceysa yang posisinya masih di dalam, ia ikut keluar untuk melihat apa yang Jimin keluarkan.
"Selamat atas kelulusanmu" ucapnya sangat lembut dan diikuti senyum hangatnya yang selalu Ceysa sukai.
Jimin adalah lelaki yang sangat lembut dengan wanita, sangat berhati-hati untuk tidak menyakiti wanita. Tetapi terkadang Ceysa kesal karena sifat Jimin yang begitu. Terkadang Jimin tak bisa menyingkirkan sifat lembutnya kepada wanita lain.
"Terima kasih Jimin" senyum Ceysa kembali merekah karena sebelumnya wajah lelahnya yang terlihat. Ia meraih bunga itu.
"Biar ku bawakan sampai depan pintu" pinta Jimin karena kotak itu lumayan besar.
