pergerakan hati kecil

152 7 1
                                        

😭😭

*#Kisah_Wanita_Pelacur_Dan_Wanita_Bercadar✨*
_(tak terasa air mata menetes baca cerita ini)_

Inara baru saja pulang dari sharing di sebuah kajian di kota B. Seperti biasa ia selalu ditemani oleh suaminya. 
Dari kota B mereka akan pulang menuju kota S tempat mereka tinggal. 
Biasanya mereka melewati kota P, dimana Inara dan suami sering sekali melewati kota P dan mereka paham bila selepas maghrib akan ada banyak ukhti yang berpakaian mimimalis dengan bedak tebal dan bibir merah merekah bak kelopak mawar, berjejer dipinggir jalan atau diwarung kecil dengan cahaya lampu remang-remang. 
Mereka biasa melambaikan tangannya pada setiap mobil mewah yang melintas, atau motor yang mereka lihat hanya ditumpangi oleh seorang pria.

Yaaa kalian pasti tahu siapa para ukhti itu. 
Maaf jangan ada yang protes bila saya memilih menyebut mereka dengan sebutan *"ukhti"* sebab arti kata ukhti adalah _"saudara perempuan"_ bukan ?

_"Abi, bagaimana bila kali ini amplop dari kajian ini kita berikan pada salah satu ukhti yang biasa berdiri dipinggir jalan kota P nanti."_
Tanya Inara pada suaminya. 
Sang suami melambatkan laju mobilnya.

"Kenapa ummi memilih salah satu dari mereka ?" 
Suaminya balas bertanya.

_"Entahlah bi, ummi tidak tahu kapan terakhir kali mereka memakan makanan halal._ 
_Jangan-jangan ada salah satu dari mereka yang sedang menafkahi anak yang sedang belajar agama."_

"Bagaimana ummi bisa berpikir bahwa ada diantara mereka yang memberikan pendidikan agama untuk anak-anaknya ?"

_"Sejahat-jahatnya mafia, dia akan pilihkan hal-hal baik untuk buah hatinya bi. Sebab mereka manusia bukan iblis."_

Sejurus suami Inara terdiam. 
Ada amplop berwarna coklat yang tergeletak di jok belakang.
Inara sering sekali diundang disebuah acara ataupun di sebuah kajian sebagai narasumber. 
Banyak yang memanggilnya ustadzah, namun Inara selalu klarifikasi _"saya bukan ustadzah."_
Ia lebih nyaman dipanggil dengan sebutan "mbak" atau "bunda".

Inara tidak pernah tahu, berapa isi amplop yang selalu diselipkan oleh panitia disetiap bingkisan yang selalu dibawakan untuknya. 
Inara dan suami sudah sepakat, tidak mau tahu jumlah nominalnya.
Uang dari ummat akan kembali untuk ummat. 
Amplop itu biasanya akan diberikan pada siapa saja dimana hati Inara tergerak untuk memberikannya. 
Bisa diberikan untuk tukang becak, kuli panggul, pemulung, gepeng, siapa saja lah. 
Namun entah kali ini hati Inara tergerak untuk memberikannya pada salah satu ukhti yang berdiri di pinggir jalan sepanjang jalan kota P.

_"Abi, tolong berhenti disana, ditempat ukhti yang berdiri sendiri itu !"_
tunjuk Inara.

_"Perempuan yang pakai baju merah itu ?"_

"Iya."

Suami Inara menghentikan mobilnya tepat dihadapan wanita itu. 
Wanita itu reflek mendekat dan mengetuk kaca mobil. 
Kaca mobil dibuka. 
Wanita itu nampak terkejut melihat wanita bercadar berada disamping pria yang cukup terbilang tampan yang berekspresi lurus dibelakang stir kemudi. 
Wanita itu tersenyum kikuk sambil surut beberapa langkah kebelakang. 
Inara mengambil amplop coklat di jok belakang. 
Inara turun dari mobil sambil tersenyum. 
Namun wanita itu tak melihat senyuman bibir Inara dibalik cadar.

_"Assalamualaikum mbak."_ sapa Inara

"Wa'alaikumusalam." wanita itu menjawab sambil menatap lekat Inara.
Seolah bingung apa keperluan wanita bercadar itu pada dirinya.

_"Maaf mbak, ini ada rejeki dari Allah. Saya tergerak untuk memberikannya pada mbak. Saya tidak tahu berapa nilai nominalnya, tapi saya berharap rizki ini akan membawa keberkahan bagi mbak sekeluarga. Mohon diterima ya mbak."_
Inara mengulurkan amplop coklat kearah wanita itu.

Wanita itu tidak segera menerimanya.

"Apa ini mbak ?"
Tanyanya pada Inara.

_*"Tadi saya baru mengisi kajian dikota B. Ini adalah amplop yang diberikan oleh panitia pada saya. Saya tidak pernah membuka ataupun menggunakan amplop ini, saya biasa memberikannya pada siapa saja melalui gerakan hati saya."_

"Apakah mbak tahu siapa saya ?'

_"Memangnya mbak siapa ?"_

"Saya ini wanita jalang mbak. Begitulah sebutan yang disematkan orang-orang pada manusia seperti saya. Itu adalah uang dakwah, saya tidak pantas menerimanya. Bawa kembali saja uang itu." 
Bibir merah wanita itu bergetar saat menjawabnya.

_"Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ?_ 
_Saya ini sama dengan mbak._ _Dimana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada didalam genggamanNYA._ _Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini."_

Wanita berbedak tebal itu terjongkok, menangis tergugu. Eye liner yang ia gunakan sampai luntur.
Inara mendekat, merengkuh pundaknya.
Diraihnya tangan wanita itu, digenggamkannya pada amplop coklat yang ia bawa.

_"Semoga yang ada didalam amplop ini bisa menjadi pintu rejeki yang barokah bagi mbak sekeluarga dan mengeluarkan mbak dari ke tidak halalan selama ini. Saya mohon pamit ya mbak._ _Assalamualaikum."_

"Wa'alaikumusalam." Jawabnya masih dengan terisak.

Inara melangkah menuju mobilnya. 
Sekuat tenaga ia tahan tetesan embun hangat yang sudah menggenang pada telaga matanya.

***********

 Kisah Wanita Bercadar Dan Wanita PelacurStories to obsess over. Discover now