Menebus Rindu

103 3 1
                                        

"Nduk,besok aku mau balik pondok"

Suara yang tiba-tiba mengagetkanku hingga bawang yang aku kupas terjatuh dibawah meja. Kubalikan badan, seseorang dengan wajah putih, bening, serta memiliki senyum yang menghadirkan lesung pipi disebelah kanan. Hidungnya yang mancung dan matanya yang teduh menjadikan ia semakin sempurna.

"Lho kok cepat gus sudah balik?" tanyaku heran.
"Iya nduk, sekedar ngobati kangen sama umi, abah, pesantren, dan kamu juga,hehe" jawabnya sembari tersenyum sambil membenarkan pecinya yang masih rapi. Hatiku bergetar ketika ia mengatakan ngobati rindu ke aku.
"hemmm. Bisa aja jenengan gus. Kalau gitu jenengan hati-hati dan baik-baik disana"
"Iya kamu juga sebalik,e. jangan lupa ngaji dan ibadahnya yg istiqomah nduk".

Aku meliriknya, ku tangkap sorot matanya yang menyimpan samudra rindu. Aku berkaca-kaca. Sebisa mungkin kutahan air mata yang ingin keluar. Aku pun merindukanmu gus , dalam batinku berucap. Rindu ini menyakitkan karena memang pertama kali ujian yang diberikan manusia di bumi ini adalah rindu. Rindunya nabi Adam dan Siti Hawa.

Hampir satu tahun aku tak melihat wajah teduhnya. ketika Allah memberi kesempatan untuk bertemu, namun waktu segera menarik paksa agar aku dan dia tak berlama-lama menikmati rindu.
"Iya gus, insya allah"
"Yowes nek gitu, aku permisi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumusalam"

Dia adalah purnama hatiku. Dia bernama Ahmad fauzan putra dari romo yai Burhanuddin ali dan Bu nyai Kholifatur rosyidah, pengasuh dari pondok pesantren yang aku tempati saat ini.

Aku dan gus Fauzan sama-sama saling punya rasa, aku mencintainya begitu juga dengan dia. Gus Fauzan kini sedang menimba ilmu agama di pondok pesantren yang berada di Sarang, Rembang. Gus fauzan bilang kalau setelah aku khatam ngajinya ia akan menikahiku.

Setelah menyelesaikan urusanku di dapur, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Di depan dapur aku berpapasan dengan Nabila, sahabatku.

"zakiya" sapanya kepadaku
"Eh Nabila, mau kemana sampean?"
"Mau ketemu kang Khoirul, biasa urusan, hehe"
"Wah.. gak bosen-bosen ya ketemu kang Khoirul"
"Iya dong, gak bakal bosen kalau ketemu kang Khoirul" jawabnya sambil tertawa menyunggingkan bibir mungilnya.

Nabila berlalu, aku pun juga. Nabila memang sering sekali bertemu dengan kang Khoirul. Kang Khoirul adalah santri ndalem yang biasa belanja untuk keperluan masak para santri dan keluarga ndalem. Tapi entah, aku pun tak tau apa keperluannya hingga sesering itu menemui kang Khoirul.

Nabila tak pernah memberi tauku, meskipun aku sahabatnya. Aku menghargai karena itu hak masing-masing kita. Tiap aku bertanya dia hanya tersenyum dan hanya menjawab nanti suatu saat kamu juga akan tau. Jawaban itulah yg selalu ia berikan.

Mungkin saja mareka punya hubungan, dan kang Khoirul nanti akan menikahi Nabila setelah selasai mondoknya. Begitupun juga aku, aku tak pernah menjelaskan tentang hubunganku dengan gus Fauzan.

Sampai kamar aku langsung mengambil mukena untuk melaksanakan sholat dhuha. Karena sebelum masuk kamar tadi aku sudah mengambil air wudlu. Kudirikan 4 rokaat sholat dhuha, kupasrahkan hati dan jiwaku pada Robbku.

Setelah sholat dan bermunajat kudengar suara Nabila yang sudah berada dikamar yang sedang melihatku sambil senyum-senyum. Sungguh senyum yang mengundang rindu. Segera kurapikan mukenaku dan kugantungkan. Ku langkahkan kaki menuju Nabila.

"Eh Nabila, ngapain senyum-senyum aja"
"Gak papa kangen kamu aja, pengen deket sama kamu terus rasanya. Mumpung masih ada umur, takutnya nanti gak sempet ketemu lagi,,hehe"
"Apaan sih, bicaranya kok gitu. Kamu itu udah kayak saudara sendiri . kita bakal sam-sama terus. Andaikan kamu minta orang yang aku sayangpun aku juga mau. Soalnya aku juga udah sayaang banget sama kamu" ucapku padanya.
"Bener ya,,, haduh sampek segitunya kalau sayang sama aku. Aku juga sayang sama kamu kok." Ucap Nabila yang dibarengi suara gelak tawa kami berdua.
"iya deh aku percaya. Sibuk gak, kalo gak sibuk temani aku yuk !!!,, biasa, hehehe"
"Aku tau pasti maqom lagi kan, seneng banget deh temanku yang satu ini pergi ke tempat gituan"
"Tau aja kamu, ya udah deh ayo siap-siap"

Kami pun berdua sudah siap lalu ijin kebagian perijinan pondok. Maqom yang kami tuju yaitu maqom keluarga ndalem yaitu Abah dan Umi dari Romo yai yang terletak tak jauh dari pondok, sehingga dengan berjalan kaki saja sudah cukup sambil menikmati suasana pedesaan yang masih asri .

Aku memang suka pergi ke maqom atau kuburan. Sekedar buat ziaroh atau menenangkan hati. Hingga sahabatku Nabila sangat hapal dengan hobiku itu.
Aku bejalan bersama Nabila menyusuri petak demi petak rumah penduduk. Hingga sampailah kami pada tempat yang kami tuju. Ku ucapkan bismillah dan sholawat sebelum masuk. Kami duduk bersimpuh lalu membaca tahlil.

Tak terasa pipiku basah oleh air mata. Nabila yang melihatku menangis. Ia tak banyak bertingkah, ia hanya membiarkanku, karena ia sudah tau kebiasaanku yang menangis ketika berada di maqom. Ku tenggelamkan wajahku di kedua telapak tanganku. Ku panjatkan do'a demi do'a, hingga do'a untuk Gus Fauzan.

Ketika tangisku sudah reda, Nabila mengajakku kembali, Karena wktu sudah menarik paksa untuk menginjakkan kaki ke pesantren. Karena perijinan pondok hanya memberi kesempatan untuk keluar 1 bulan sekali dengan batas waktu 2 jam. Apabila lebih dari 2 jam, sudah pasti takziran yang akan dihadapkan oleh pelanggarnya.

Waktu dhuhur berkumandang. Aku segera kembali lalu bergegas mengambil air wudhu dan menjalankan sholat dhuhur berjamaah. Usai sholat, aku masih menempatkan diri diatas sajadahku. Ku panjatkan do'a-do'a, lalu ku lanjutkan dengan muroja'ah dan menambah beberapa ayat untuk setoran ke Umi besok pagi.

Faza FauzanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang