Prolog

17 4 2
                                        

Gadis remaja itu berjongkok disalah satu sudut lorong rumah sakit yang tampak lengang. Isak tangisnya terdengar karena sepinya lorong tersebut. Bahunya terguncang,tangis hebat tak bisa dielakkan. Gadis itu berteriak,memanggil nama sang Ayah yang telah terbujur kaku didalam ruang ICU. Suaranya menggema,mengundang siapapun ingin melihatnya.

Seorang anak laki laki datang menghampirinya. Tangannya terulur memberi sebuah saputangan guna mengusap airmata yang mulai berjatuhan ke lantai. Ia tidak mengenali gadis malang itu,yang jelas ia mungkin juga mengalami hal yang sama dengannya.

Bayangan hitam yang terpantul dilantai membuat gadis itu sedikit terkejut. Dilorong yang sepi dan gelap ini,siapa yang tidak terkejut jika melihat bayangan asing yang tiba tiba muncul? Pikirannya berlari kemana mana. Ia berpikir sosok mayat ayahnya berdiri menghampirinya. Namun ia segera menepis pikiran itu.

'Mungkin ini hanya batinku'pikirnya.

Lantas ia mendongak,melihat siapa yang datang menghampirinya. Sesosok anak laki laki sebayanya datang dengan tangan mengulurkan sepotong saputangan dengan wajah sembab.

'Buat kamu' ucapnya.

Si gadis mengerutkan dahinya. 'Untuk apa? Kenapa kamu memberikan sapu tangan itu padaku? Bukankah kamu bisa menggunakannya untuk menghapus air matamu?'

'Kamu lebih butuh ini daripada aku. Ambillah. Kamu bisa pakai ini kapanpun.' Anak laki laki itu ikut berjongkok dihadapan si gadis.

'Terimakasih.' Ujar si gadis sembari menerima saputangan itu.

'Ekhm,,ngomong ngomong,,kenapa kamu sendirian disini? Bukannya kamu bisa menunggu didalam?'tanyanya.

'Aku sedang menenangkan diri'jawab si gadis pendek. Ia sepertinya tidak harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

'Menenangkan diri dengan menangis? Apa itu bisa membuat jiwamu tenang? Bukankah itu akan semakin membuatnya sesak?'

Si gadis tersenyum,pandangannya menatap lurus kedepan,'Menangis mungkin tidak bisa menyelesaikan masalah,tetapi ia bisa menjadi obat penenang.' Kemudian ia menoleh,menatap si pemuda yang jongkok disampingnya.

'Kata Ibu,menangis dapat membuat jiwa berangsur angsur tenang. Meski dadamu sesak dan hidungmu tersumbat,percayalah,perasaan lega akan menyelimutimu setelah seluruh kekuatanmu habis untuk menangis. Kemudian kekuatan baru akan lahir yang akan membuatmu berani menyelesaikan segala permasalahanmu' jelasnya panjang lebar. Senyumnya masih setia mengembang.

Si pemuda terpana akan jawaban si gadis barusan. Dalam keadaan seperti ini,ia berusaha tegar dimana tidak semua orang bisa melakukannya.

'Tapi,,apa aku harus menangis untuk menenangkan jiwaku?' Tanya si pemuda yang dibalas kekehan renyah si gadis.'Hei,kenapa kamu tertawa? Kamu kira ini lelucon?'

Si gadis menyudahi tawanya,'Memangnya kamu mau menangis? Kamu anak laki laki lho,tidak malu?'

Si pemuda tersenyum kikuk,'Kalau sembunyi sembunyi,aku mau. Yang penting aku tenang dan pikiranku jernih'

'Menangislah. Sekuat apapun seseorang,jika ia sedang terhimpit dan menyesakkan batinnya,ia akan menangis juga. Mungkin mayoritas para pria menangis itu karena mereka sedang dilanda perasaan bahagia'

'Jadi,,kamu maukah kamu menangis untukku dalam rangka berbahagia?'

Si gadis menatap tak percaya lelaki disebelahnya itu. Entah karena perkataannya atau sebuah peristiwa de javu sedang melandanya. Seseorang pernah berkata begitu padanya setiap kali ia menangis.

Si lelaki pun terkejut atas perkataanya. Bisa bisanya ia berkata seperti itu pada seorang gadis yang sama sekali  tidak ia kenal. Oh jangan bilang,dia terkena penyakit jatuh cinta dalam pandangan pertama?

^^^

To be continue...

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 28, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

J E D AWhere stories live. Discover now