01

249 21 1
                                        

Hyungwon menyampirkan tasnya ke pundak. Hari sudah malam. Saking nyamannya berada di rumah Nenek, Hyungwon tak sadar dengan waktu. Padahal sebelumnya dia hanya berniat untuk memberikan makanan yang dibuat Ibunya saja, kemudian langsung pulang ke rumah. Tapi saat Nenek memulai perbincangan dengan topik masa lalunya, Hyungwon langsung terduduk manis mendengarkan.

"Nek, Hyungwon pulang, ya. Nanti lain kali Hyungwon mampir lagi."

Neneknya bangkit menghampiri Hyungwon yang kini tengah memakai jaket di dekat pintu masuk, "Ini sudah sangat malam, Hyungwon.. kenapa tidak menginap saja?" Tanyanya sambil memberi usapan lembut pada pundak Hyungwon.

Hyungwon mendudukkan diri ke lantai kayu rumah itu untuk memakai sepatunya, "Besok hari pertama aku sekolah, Nek. Harus siap-siap, belum juga siapin mental soalnya 'kan status aku di sana itu anak baru." Ucapnya dengan melebih-lebihkan kalimat terakhir.

Selesai memastikan kakinya nyaman di dalam sepatu, Hyungwon bangkit untuk kemudian memeluk Neneknya, "Aku pulang, ya, Nek." Katanya sambil menyalami tangan Sang Nenek.

"Hati-hati, Hyungwon. Sering-sering kunjungi Nenek, ya."

Hyungwon mengangguk. Setelah memeluk kembali Neneknya, dia melangkah pergi meninggalkan rumah itu sambil melambaikan tangan kepada Neneknya.

Jalanan sudah lumayan sepi. Wajar, jam sudah menunjukkan pukul 09.40. Tapi hal tersebut tidak membuat Hyungwon merasa takut sebab dirinya pernah tinggal di kota itu sampai umur delapan tahun, sebelum akhirnya pindah ke kota lain, kota dimana Ayahnya dipindahkerjakan oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Hyungwon menunggu di halte. Di sana hanya ada dirinya dan seorang bapak yang terlihat seperti pegawai kantoran.

Ingin mengurangi rasa suntuk menunggu bus terakhir di hari itu, Hyungwon memutuskan untuk memainkan handphonenya. Dia membuka aplikasi komunikasi yang kini terlihat banyak sekali pesan masuk dari temannya di sekolah yang dulu. Hyungwon melihat satu persatu pesan tanpa membukanya, karena ternyata tidak ada pesan yang terlalu penting. Jadi, Hyungwon memutuskan untuk menjawabnya nanti saja.

Dia menaruh benda pipih itu ke dalam saku celana karena bus yang akan ditumpanginya sudah berada tepat di depannya. Dengan segera Hyungwon melangkah masuk ke dalam bus yang ternyata lumayan ramai oleh para pekerja kantoran bahkan ada anak sekolahan juga. Melihat itu Hyungwon jadi terpikir bagaimana harinya besok saat pertama masuk sekolah baru.

Kursi dekat jendela selalu menjadi pilihan Hyungwon untuk duduk. Memindahkan tas gendongnya ke depan untuk dipeluk pun termasuk kebiasaannya jika berada di dalam angkutan umum.

Hyungwon melihat ke luar jendela dan tiba-tiba saja maniknya menangkap seorang lelaki tengah berlari mengejar bus yang kini perlahan mulai berjalan. Hyungwon yang melihat itu segera menyuruh sopir bus untuk berhenti, yang mana langsung diiyakan olehnya.

Setelah melakukan hal tersebut, Hyungwon kembali bersikap tak acuh, mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Hingga pergerakan di sampingnya membuat dia penasaran dan mau tak mau menoleh untuk melihat siapa yang duduk di sebelahnya. Oh, ternyata lelaki yang tadi berlari mengejar bus.

Sudah sekitar 10 menit bus berjalan dan Hyungwon masih setia melihat jalanan di luar jendela. Entah kenapa rasanya melihat ke luar jendela saat dalam perjalanan itu dapat membuat pikirannya sedikit tenang, terlebih jalanan malam hari tidak terlalu ramai oleh penduduk.

Hyungwon tiba-tiba saja dibuat terkejut oleh pundak sebelah kanannya yang terasa menerima suatu beban, "Eh???"

Wajah seorang lelaki dengan mata yang tertutup menyapa pandangan Hyungwon saat dirinya menoleh untuk melihat apa yang tiba-tiba menjadi beban di pundaknya. Hyungwon melihat wajah itu dengan seksama. Niat dirinya untuk membangunkan lelaki itu langsung dikubur dalam-dalam saat dengkuran halus terdengar olehnya.

Hyungwon menjadi tak tega. Dia memutuskan untuk membiarkannya saja, walaupun pundaknya perlahan mulai merasa pegal.

Beberapa menit, bus berhenti, namun bukan di halte tempat Hyungwon akan turun. Tapi, lelaki di sebelahnya, yang langsung bangkit melangkah turun ke luar. Hal itu membuat Hyungwon menatapnya heran, "Itu orang ngerasa tidur gak, sih? Maksudnya apa gak ngerasa gitu dia tidur di pundak seseorang? Gak bilang apa-apa lagi." Gumam Hyungwon.

Niat tak ingin ambil pusing, namun pin yang berada di kursi sebelah berhasil menyita perhatiannya. Hyungwon mengambil pin tersebut yang sedetik kemudian membuat bola matanya melebar, "Eh, ini 'kan lambang sekolah baru gue???"

Since You Left Me | HyungwonhoMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon