Empat tahun lalu, hati ini memang sempat pilu. Sempat merasakan sakit sampai sulit untuk bangkit. Mencoba memaafkan tapi tidak pandai dalam melupakan. Seringkali dibohongi, sampai diri ini sulit untuk percaya lagi.
Fase-fase ini saya lewati dengan amarah, tangisan bahkan dibicarakan oleh orang-orang. Rasanya saya hanya dijadikan tameng untuk kesalahannya. Saya tidak pernah tahu cerita yang sebenarnya. Entah apa yang disembunyikan, bahkan percakapan dan segala tentang perempuan itu sudah dia tiadakan.
Saya lupa bagaimana dunia ini bekerja. Jika laki-laki itu sempat mendua dengan perempuan itu dan membohongi perempuan lain. Dia bisa melakukan hal yang sama kepada perempuannya hari ini. Seperti hal-nya lingkaran, tidak terputus. Memutar secara terus-menerus.
Mengapa terulang lagi? Rasanya butuh waktu lama untuk saya menatanya sejak empat tahun lalu. Potret kebohonganmu masih tersimpan tak pernah saya buang. Sudah lama terpendam. Hari ini saya menambahkan satu, satu luka yang mengundang banyak cerita.
Saya kira semuanya sudah selesai, nyatanya tidak pernah selesai. Tetap membekas sampai waktu yang tidak terbatas. Apa belum cukup?
YOU ARE READING
Membekas
Short StoryHarapan saya semua luka lama ini bisa disimpan baik-baik saja, tapi ternyata tidak bisa dipaksakan semudah membalikan telapak tangan. Tetap membekas sampai waktu yang tak terbatas. Tidak tahu sampai kapan, hanya bisa menaruh sebuah harapan.
