BAB I : Pesan.

23 11 9
                                        

Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam kafe favoritku. Aku menoleh ke kanan. Tempat paling pojok yang langsung bersebalahan dengan kaca itu adalah favoritku.

Aku pun duduk disana setelah memesan minuman, lalu mulai berkutat dengan laptop dan kertas-kertas tugasku.

Setelah kurang lebih dua jam aku sibuk dengan duniaku sendiri, aku tersadar ada seseorang yang duduk tak jauh dariku yang daritadi mencuri-curi pandang kepadaku. Aku manusia normal, jadi tentu saja aku merasa takut dengan keaadaan ini. Aku menyesap kopiku yang sudah tak sehangat tadi dan mencoba untuk tetap fokus mengerjakan pekerjaanku.

Tak lama berselang, aku terkejut melihat ada sepasang kaki yang berdiri disamping mejaku. Dengan takut-takut aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa gerangan orang itu. Ternyata itu adalah orang yang daritadi menatapku.

Jantungku mulai bekerja lebih cepat dan tanganku mulai gemetaran melihat matanya yang tak kunjung berhenti menatapku. Bagaimana jika ia adalah orang jahat? Aku takut diculik atau dihipnotis.

Lelaki itu tiba-tiba mengangkat tangannya seperti ingin berjabat tangan denganku. Tentu saja aku tidak membalasnya. Aku bukan orang bodoh yang gampang di jebak.

"Tidak usah takut. Apa yang dipikiranmu tidak benar." Lelaki itu menurunkan tangannya karena aku tak kunjung membalas.

"Maaf jika tatapanku mengintimidasimu. Mataku tak bisa lepas darimu sejak tadi aku sampai disini. Aku hanya ingin berkenalan denganmu, tapi sepertinya aku membuatmu takut sehingga membuat kita tak bisa saling mengenal."

"Kalau begitu, aku hanya ingin berpesan saja, jangan terlalu dipaksa. Otakmu butuh istirahat. Dan hatimu butuh kehangatan. Kopi yang kau pesan itu hanya untuk menghangatkan tenggorokanmu. Bukan badanmu. Permisi." Lelaki itu kemudian pergi tanpa menunggu balasanku.

...

Hai, maaf jika mengejutkan dengan judul bab ini yang aku beri judul "pesan". Seharusnya akan lebih masuk akal jika aku memberi judul 'Halo' atau sejenisnya yang berbau sapaan.

Di sekolah kita belajar, bagian pesan atau amanat selalu ada diakhir cerita. Tapi aku disini aku ingin memberitahu kalau pesan tak hanya selalu ada diakhir cerita. Pesan bisa saja mendahului cerita.

Mungkin kamu bertanya maksudku. Tapi sesungguhnya hati selalu memberimu pesan setiap kamu akan melakukan sesuatu. Dan otakmu berperan untuk mengingatkanmu.

Untuk mengawali cerita ini aku ingin bialng, kalimat-kalimat yang ada dalam cerita ini mungkin tidak akan mudah dipahami. Tapi akan terserap jika kamu mengizinkan hatimu menerima setiap kata yang mungkin akan menamparmu. Karena di cerita ini, aku mengajakmu untuk kita sama-sama berpikir, bukan hanya sekedar menerima.

Aku ingin berpesan, jangan menutup hatimu jika ingin merasa bahagia. Jangan biarkan ketakutan mengatur setiap gerakan dalam tubuhmu untuk hidup.

Terimakasih telah membaca sampai akhir.
Di cerita ini kita sama - sama saling menguatkan, ya. Terima kasih sekali lagi.


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 08, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Tidak Berjudul.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang