"He.. ...pat Long...."
"Hei cepat tolong!"
"Panggil Ambulans!"
"Ada kecelakaan!"
Suara samar-samar terdengar seraya aku membuka mata. Pandanganku sudah buyar karena cairan merah yang mengucur dari kepalaku. Terlihat orang-orang menghampiri tempatku berada. Tak jauh dari situ, aku melihat sebuah besi rongsokan beroda yang telah terbakar. Sedetik kemudian, aku menyadari bahwa rongsokan itu adalah sebuah Toyota Kijang berwarna hitam. Di luar jendela kemudi, terlihat sebuah tangan yang menggantung lemas. Pergelangan tangannya mengenakan sebuah jam tangan berwarna hitam yang sangat ku kenal. Benar, jam tersebut adalah milik ayahku. Saat itulah aku menyadari bahwa aku sedang tergeletak lemas mencium aspal. Bau menyengat ban yang terbakar membuatku mengingat kembali kejadian yang terjadi tidak sampai lima menit barusan. Aku dan kedua orangtuaku sedang dalam perjalanan menuju rumah dari acara kelulusanku dari bangku kuliah. Sesampainya di perempatan, sebuah truk besar menabrak kami dari samping karena sang supir menghiraukan lampu lalu lintas yang ada.
"TOLONG!"
Teriakku sekuat tenaga sambil mengangkat tanganku yang sakitnya luar biasa.
"TOLONG ORANGTUA SAYA!"
"....."
***
"TOLONG!"
Teriakan keras keluar dari mulutku seraya mataku terbuka lebar. Aku segera menoleh ke kanan dan kiri tempatku berada. Terlihat orang-orang kebingungan menatapku seraya mereka berdiri mempersiapkan dirinya masing-masing.
"Terima kasih telah terbang bersama Japan Airlines, kita telah sampai di Bandara Internasional Osaka."
Suara terdengar dari ruangan panjang tempatku berada. Saat itu juga aku baru menyadari bahwa aku baru saja terbangun dari mimpi terburukku.
"Lagi-lagi mimpi itu."
Ucapku tersenyum pahit sambil menyeka keringat di wajahku.
Tapi kejadian itu bukanlah sebuah mimpi belaka. Sudah tiga bulan sejak kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuaku itu. Kini pamanku yang selama ini mengasuhku mungkin sudah muak karena bertambahnya beban keluarganya. Paman mengungsikan diriku ke kakekku yang tinggal di Jepang. Tidak heran, aku memang memiliki darah Jepang dalam diriku. Ayah dan Kakekku adalah orang Jepang asli. Beliau menikah dengan ibuku, seorang keturunan Jawa semasa dinasnya di Indonesia dulu. Berkat pengasuhan almarhum orangtuaku yang bisa dibilang keras itu, aku sudah terbiasa berbicara bahasa Indonesia maupun bahasa Jepang. Maka, pulang-pergi ke negeri sakura ini bukanlah hal yang luar biasa.
Setelah mempersiapkan diri, aku segera bergerak keluar dari pesawat. Satu-satunya petunjuk yang diberikan padaku adalah secarik kertas berisi alamat tempat kakekku tinggal. Bawaanku saat itu hanyalah sebuah tas carrier yang berisi pakaian secukupnya dan kebutuhan hidup, salah satunya adalah sebuah buku tulis dan pena pemberian ayahku yang sangat berharga bagiku. Buku tulis dan pena, memang terdengar berlebihan jika dibilang kebutuhan hidup. Tapi, kedua barang tersebut memang sangat berarti dalam hidupku karena keduanya adalah bukti bahwa orangtuaku mendukung mimpiku selama ini, menjadi seorang penulis. Aku melangkah memasuki lobi bandara seraya merogoh kocekku dan mengeluarkan kertas alamat yang diberikan oleh pamanku. Dalam langkahku, aku melihat banyak orang yang berdiri memegang secarik kertas bertuliskan nama-nama. Ah, mereka pasti yang datang untuk menjemput kerabat-kerabatnya, aku berkata dalam hati. Melihat itu juga membuatku sedikit kecewa karena tidak ada menjemputku disitu. Dalam hati, aku sempat-sempatnya berpikir apakah kakekku tidak peduli terhadap cucunya.
Sesampainya diluar bandara, aku segera menaiki taksi yang ada disitu. Taksi di Jepang memang sedikit berbeda dengan taksi di Indonesia. Di Jepang, Penumpang hanya boleh menduduki kursi belakang. aku segera membawa masuk carrier-ku ke dalam taksi dan duduk disampingnya.
"Mau kemana tuan?"
"Kesini pak."
Aku memberikan secarik kertas berisi alamat kakekku ke supir taksi itu.
"Kuil Kamigamo ya, siap tuan."
"Eh? Kuil?"
Aku spontan kebingungan ketika sopir itu mengatakan 'kuil' dari mulutnya. Tanpa pikir panjang, sang sopir langsung memacu mobilnya, meninggalkan diriku yang kebingungan. Ah, mungkin dia salah bicara, dalam hati, aku mencoba menghibur diri seraya merogoh headset dari jaketku dan menyumbat kedua telingaku dengan musik. Memang, Jepang sangat berbeda dengan Indonesia. Kedisplinan sangat ditanamkan disini, hal tersebut terlihat ketika mobil yang kutumpangi berhenti di lampu merah. Sekumpulan orang menyebrang jalan di zebra cross secara bersamaan dan rapi membuatku tercengang sesaat. Kedatanganku ke Jepang setelah lama dan besar di Indonesia ini memang membuat diriku sedikit canggung. Aku mengecek jarum jam yang berdetik di tanganku. Waktu menunjukkan pukul lima pagi.
"Kira-kira berapa lama lagi ya pak?"
"Satu jam, lewat tol."
"Tidur saja dulu tuan, nanti kalau sudah sampai, saya bangunkan."
Jawab sopir taksi itu ramah seolah mengetahui isi pikiranku.
"Terima kasih pak."
Ucapku seraya merebahkan badanku ke jok dan memejamkan mata. Semoga mimpi itu tidak muncul lagi, dalam hati, aku berharap musik-musik yang berputar di telingaku dapat menyelamatkanku dari mimpi buruk itu.
***
YOU ARE READING
Identitas
Short StorySebuah cerita yang mengisahkan Aldi, seorang pemuda Indonesia keturunan Jepang yang mempunyai impian untuk menjadi seorang penulis. Namun benang takdir menuntunnya ke Jepang, dimana ia menemukan sebuah kenyataan yang berbeda dengan impiannya.
