Rumah yang lama ditinggalkan berdebu dan usang, tapi cuaca disekitarnya yang sejuk, membuatnya nyaman, membuat tak ada alasan untuk diisi, dibiarkan menjadi pilihan yang baik walau bukan yang terbaik, satu tahun berlalu tak ada yang datang untuk sekedar berkunjung atau sekedar menengok, yang menjaga selalu setia berada di depannya, berada di sekelilingnya, tak juga mencoba menawarkan atau sekedar menarik perhatian yang lewat di dekatnya. Yang menjaga tak pernah berharap ada yang datang, terlalu nyaman katanya menjaga rumah itu sendirian. Tak ada yang mengusik, tak ada yang mengganggunya dan tak ada yang mengaturnya.
Sampai waktu yang paling ia takuti tiba, datang seseorang yang berhenti sejenak di depan rumah itu, berkeliling di sekitar rumah, awalnya itu tak membuat penjaganya tertarik sama sekali, selama pengunjung itu hanya berkeliling dan tak mencoba menerobos masuk, semuanya baik-baik saja baginya. Semuanya masih aman terkendali tapi makin lama pengunjung itu makin bertingkah aneh, awalnya ia masih dapat membiarkan perlakuannya, lama kelamaan satu persatu tangga menuju pintu masuk ia tapaki, cemas itula perasaan penjaganya, ia mencoba menghalanginya untuk masuk, pintu dikunci sekuat mungkin, gembok dieratkan seerat mungkin bahkan rantai disusun berlapis-lapis. Tapi ia membawa semua peralatan yang bisa digunakan untuk menerobos masuk sedangkan penjaga? Ia tak memiliki persenjataan apapun untuk menghalaunya, semua telah terjadi pengunjung telah menerobos masuk tak dapat dihindari.
Ia semakin semena-mena setelah masuk ke dalam rumah, ia bersihkan debu yang ada, ia rapikan semua peralatan di dalamnya. Tertata rapi tapi penjaga tak semudah itu percaya kepada pengunjung. Karena terkadang ia masuki rumah itu tanpa terlebih dahulu melepaskan sepatunya, membuat noda-noda di lantai, lalu ia bersihkan sendiri bekasnya, hari berikutnya pun begitu, ia tinggalkan kamar yang kotor begitu saja, kemudian ia bersihkan ketika kembali di malam hari, terus saja begitu, membuat penjaga bingung, sebenarnya apa mau pengungjung ini, apa ia akan tinggal selamanya? Atau sengaja hendak singgah, lalu saat waktunya tiba akan pergi begitu saja membiarkan rumah kotor tanpa kembali lagi untuk membersihkannya.
Penjaga tak pernah tahu apa yang harus dilakukan terbiasa menjaga semuanya sendiri, tiba-tiba pengunjung datang tanpa permisi membuatnya semakin merasa tak berdaya sebagai penjaga, rumah sekarang tak seberdebu dulu, tak seusang sebelumnya, terima kasih ia ucapkan kepada pengunjung tapi satu pesan untuknya, jika ingin pergi terserah apa yang ingin dilakukannya, sekotor apapun rumah itu kau tinggalkan, aku tak peduli, tapi jangan pernah meninggalkan rumah yang kotor, dan berdiri di depan pintu untuk waktu yang lama, tak pergi membuatku tak bisa membersihkannya, tak bisa memberi kesempatan bagi orang lain untuk membantu membersihkan, pergilah secepat mungkin dan pastikan menguncinya dengan sebaik-baiknya.
Kembalikan kuncinya dan ucapkan selamat tinggal dan terima kasih dengan benar, lalu namamu akan tercatat sebagai yg pernah berkunjung dan meninggalakannya lagi dalam keadaan kotor, ku tuliskan pada bagian keterangan ku harap tak pernah berkunjung lagi, jika akhirnya begini. Tapi jika memang kau pengunjung yang baik yang tulus pada rumah ini, membantu membersihkan tanpa mengotorinya lagi lebih dari cukup untuk membuat pemiliknya setuju jika pengunjung ingin tinggal selamanya.
YOU ARE READING
Perspektif Hati
PoetryTentang perasaan yang mungkin tak perlu diungkap. Karena hakikatnya sebuah rasa memang hanya untuk dirasakan saja
