Boleh kenal?

22 2 0
                                        

Memiliki sahabat yang sefrekuensi memanglah sebuah anugerah, begitulah yang dirasakan oleh Claura Iqlima. Ia adalah gadis cantik, tomboy, dan memiliki sisi humoris ketika bersama sahabatnya, Yanara Zaskia. Mereka sudah menjalin persahabatan sejak masih duduk di bangku SMA. Keduanya memiliki kepribadian yang cukup berbeda; Yanara adalah gadis feminin yang banyak tingkah, dan ia memiliki pacar bernama Joe.

Namun, siapa sangka, ketika keduanya beranjak dewasa, mereka mengalami perubahan besar dalam hidupnya, baik dalam percintaan maupun dalam sudut pandang mereka tentang kehidupan.

"Oy, yang di pojok sana, kamu siapa namanya?" sapa Iqlima kepada Yara yang sedang sibuk membenarkan name tag-nya.

"Aku? Oh, aku... Yanara Zaskia, biasa dipanggil Yara," jawab Yara sambil tersenyum.

"Aku Claura Iqlima, biasa dipanggil Iqlima. Aku boleh duduk dekat kamu, nggak nih?" tanya Iqlima.

"Duduk aja, nggak apa-apa, lagian kamu juga satu kelompok kan sama aku?" jawab Yara.

"Yoi," jawab Iqlima singkat.

Setelah itu, mereka berbincang-bincang dengan hangat.

"Kriing! Kriing! Waktunya istirahat," suara bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat tiba. Iqlima mengajak Yara untuk pergi ke kantin mencari makanan ringan. Sesampainya di kantin, kelakuan asli keduanya pun mulai terlihat. Iqlima mulai memperhatikan muka-muka asing yang menurutnya sangat menggelikan.

"Hahaha, lucu sekali!" gumam Iqlima sambil terkekeh.

"Apasih? Kenapa?" tanya Yara.

"Lihat deh, muka yang di pojok sana, mulutnya mangap dengan muka datar. Bentar lagi netes tuh, haha..." jawab Iqlima.

"Astagfirullah, julid lu ya! Tapi iya sih, kayak lagi mikirin beras raskin kapan datang, haha," jawab Yara.

"Salah, anjir! Itu dia lagi mikirin istrinya kapan balik dari Hong Kong," tambah Iqlima.

Tawa keduanya pun terdengar renyah dan hangat.

MOS hari pertama pun telah selesai. Yara pamit kepada Iqlima untuk pulang lebih dulu karena dia dijemput orang tuanya.

"Eh, ma, gue pulang duluan ya. Mamah gue udah jemput tuh, kasihan nanti mukanya kayak bungkus gorengan, lama-lama di luar, haha," cetus Yara.

"Gak ada akhlak lu ya, emak sendiri dijadiin bahan lawak. Tapi iya sih, haha. Udah, sono, gue juga lagi nunggu jemputan nih," jawab Iqlima.

"Oke, ma, gue duluan ya. See you, orang aneh!" kata Yara sambil berlari menghampiri ibunya.

"Palabapakau orang aneh, haha!" jawab Iqlima sambil melambaikan tangan.

Perkenalan mereka pun berjalan lancar. Selama MOS, mereka kerap melempar humor lucu di antara keduanya, entah itu menjaili orang yang mereka kenal, menertawakan muka-muka menggelitik, atau hanya topik-topik yang mengguncang perut. Hingga akhirnya, pembagian kelas diumumkan, dan mereka sama-sama masuk jurusan IPA. Keduanya berharap bisa satu kelas.

"Dorrr!!!"

"Eh, copot! Copot! Anjir, kaget gue!" teriak Iqlima yang terkejut karena Yara mengejutkannya.

"Kira-kira gue sekelas nggak ya sama lu?" tanya Yara.

"Tanya aja sama ibu kantin," jawab Iqlima dengan nada kesal.

"Ih, ngeselin ya," keluh Yara mendengar jawaban Iqlima yang menjengkelkan itu.

"Oke, anak-anak, dengarkan baik-baik ya. Pembagian kelas antara IPA dan IPS akan segera diumumkan sekarang," kata guru.

"Baik, Pak," jawab seluruh siswa serentak.

"Claura Iqlima..."

"Anjir, gue masuk kelas unggulan, mampus gue kalau nggak masuk sepuluh besar," cetus Iqlima sambil tepuk jidat.

Tak lama kemudian, nama Yara disebutkan, dan Yara pun masuk ke kelas unggulan, yaitu kelas 10 IPA 3, bersama dengan Iqlima.

"Alhamdulillah, gue sekelas sama lu, Ma," kata Yara dengan nada bahagia.

"Iya, Ra, alhamdulillah," jawab Iqlima.

Kemudian, semua siswa beramai-ramai pergi ke kelas masing-masing yang telah ditentukan, begitu juga dengan Iqlima dan Yara. Mereka berlari masuk ke kelas dan memilih kursi kedua paling depan. Tak lama kemudian, guru yang akan menjadi wali kelas mereka pun datang.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Darso, wali kelas mereka.

"Pagi, Pak," jawab semua siswa serentak.

"Waah, wajah-wajah baru nih semuanya. Kita kenalan dulu ya, anak-anak. Perkenalkan nama Bapak Darso Sudarsono, biasa dipanggil Darso. Nah, untuk lebih lengkap, Bapak tulis di whiteboard aja ya profilnya. Next, nanti kalian yang kenalan," kata Pak Darso.

"Baik, Pak," jawab anak-anak serentak.

"Wah, kelas Bapak anak-anaknya cantik-cantik semua ya, hehe," tambah Pak Darso.

"Masa sih kita cantik, Pak?" tanya salah satu siswa di pojokan.

"Waduh, sampai lupa, Bapak! Kalian juga nggak kalah ganteng, pokoknya semuanya mantap tenan," timpal Pak Darso dengan nada medok.

"Giliran sama cewek aja langsung melotot tuh mata," bisik Julian kepada temannya di sebelahnya.

"Haha, padahal udah berumur. Jangan-jangan dia pemburu dede gemes lagi, haha," jawab Hasan kepada Julian.

Next....

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 24, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

When they grow upWhere stories live. Discover now