PROLOG

8 1 0
                                        

  _____________________________________

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

  _____________________________________

Cuaca malam ini benar-benar tidak mendukung Shena untuk segera pulang ke rumah kontrakan kecil nya yang sudah dua tahun ia tempati sendiri semenjak Ibu nya memutuskan pindah kota bersama Suami baru nya.

Ayah nya sudah lama tinggal di Batam, semenjak bercerai dengan Ibu nya lima tahun lalu saat ia masih menginjak bangku SMP, Ayah nya lebih dulu menikah dengan seorang wanita yang berkerja sebagai pengusaha, yang juga berasal dari batam.

Shena menyenderkan tubuh mungil nya di kursi halte yang sepi tapi tidak dengan jalanan besar di depan nya yang selalu ramai, ini saja keadaan nya sedang hujan, jadi jalanan cukup lengang, ia memeluk dirinya sendiri karena hawa dingin yang semakin kencang berhembus.

Jam sudah menunjukan pukul 12 malam, ia baru saja menyelesaikan pekerjaan nya di sebuah cafe yang mau menerima nya bekerja paruh waktu sehabis pulang ia sekolah, ia jadi sedikit menyesal menolak tawaran teman nya untuk mengantarkan ia sampai ke kontrakan.

Tinggal di kota Jakarta selama 17 tahun dan 2 tahun nya ia lalui hanya seorang diri membuat Shena sudah terbiasa, apalagi pekerjaan nya yang membuat nya pulang tengah malam. Rasa takut nya pada kegelapan seakan menghilang begitu saja. Bahkan setiap ia menuju kontrakan nya, ia harus lebih dulu berjalan selama lima menit dengan pencahayaan minim.

Ia tidak takut gelap, ia hanya takut pada orang yang berniat jahat padanya.

"Kapan sih berhenti hujan nya," gerutu Shena, perut nya sudah keroncongan. Nasi goreng yang ia beli pasti sudah dingin. "Bus juga nggak ada lagi."

Shena menghela napas lalu menggeser tubuh nya mendekat pada tiang halte, agar kepala nya juga bisa bersandar.

Padahal jika Shena mau, ia tidak perlu bekerja keras di cafe hanya untuk mendapatkan uang, Ayah dan Ibu nya selalu memberikan uang setiap bulan nya pada Shena, yang terbilang lebih dari cukup.

Tapi, entah darimana dorongan untuk bekerja membuat ia merasa lebih hidup, apalagi semenjak ia bekerja, itu bisa membuat nya merasa tidak lagi kesepian yang menghinggapi nya selama di kontrakan kecil yang ia tempati itu.

Shena mengerutkan kening nya melihat mobil hitam berhenti tepat di depan halte dimana ia sedang menunggu bus.

Dari pintu pengemudi keluar lebih dulu seseorang yang mungkin lebih tua dari nya dengan berbadan besar disusul tiga orang dari pintu samping dan belakang. Shena semakin meringsek memeluk tiang halte. Jantung nya mendadak deg-degan saat aura keempat pria itu tidak bersahabat menatap Shena.

Tatapan mereka seperti akan menculik Shena.

"Mau apa kalian," ucap Shena sambil berdiri siaga saat mereka berjalan mendekat.

Kaki Shena bergerak mundur, bersiap ingin kabur. Tapi baru mau berbalik, tangan Shena lebih dulu di cekal oleh salah satu pria tinggi dan berjambang.

BUTTERLIESStories to obsess over. Discover now