Siklus - 01

38 0 0
                                        

"Heh, gue kira lo bercanda waktu bilang mau kesini tau"

Wanita itu hanya tersenyum tipis sembari menyeruput kopi hitam pesanannya yang dirasanya sudah tak panas lagi. Lalu menyimpannya kembali di meja dan menatap lawan bicaranya saat ini. 

"Yakali gue bercanda sambil bawa 2 koper segede gaban gini. By the way lama amat sih lo, hampir 1 jam loh gue nunggu" ucapnya sembari menyilangkan kedua tangannya dan mulai bersandar pada sofa cafe yang tengah ia duduki. 

"Heh pikir dong gue balik kantor jam 4 nah lo sampe sini jam 3, jelaslah lo nunggu disini hampir satu jam. Lo ogeb atau bego sih?"

Seera hanya terkekeh melihat sahabatnya menahan kesal sembari menunjuk-nunjuk dirinya.

"Udahan ah marahnya. Lo gak haus apa? Marah sampe nge rap gitu"

"Bener juga, gue jadi haus"
"Mas, boleh minta menu?"

***

Seera mengedarkan pandangannya ke penjuru cafe. Tak banyak pengunjung yang datang hari itu. Padahal lokasi cafe ini cukup strategis, letaknya di perempatan jalan dan di seberang jalan sana terdapat gedung-gedung tinggi. Kalau Seera tak salah, itu kantor tempat April bekerja.

"Pril, kantor lo yang di seberang itu?"
Yang di tanya hanya menggangguk pertanda mengiyakan.

"Apartemen lo jauh gak? Soalnya gue cape banget. Kalau masih jauh gue gak yakin sanggup bawa itu koper" jelasku sembari menunjuk 2 koper besar yang berada di samping April.

"Engga kok deket kalau jalan 10 menit doang. Lagian lo sih bawa 2 koper kayak mau pindahan aja"

"Lah emang gue mau pindah kesini"

"DEMI APA SEER?"
"UDAH GAK ADA YANG MAU SAMA LO YA DI BANDUNG SAMPE NYARI COWOK AJA KE JAKARTA" teriak April.

Seera membulatkan matanya saat April tiba-tiba saja berteriak dan membuat mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe.

Bukan karena teriakan April yang menggelegar, melainkan karena kata-katanya itu loh yang membuat Seera malu setengah mati. Bahkan pria yang sedang berada di kasir tak jauh dari tempatnya pun, menertawakannya.

"Sumpah kalau bukan karena ganteng udah gue pites dia" ucap Seera sembari melayangkan tatapan sinisnya pada pria tersebut.

"Seer, lo gak seputus asa itu kan?" Tanya April. Khawatir bila nanti tiba-tiba saja Seera mengakhiri hidupnya di apartemennya jika tak kunjung mendapatkan seorang pria disini.

"Bacot! Ayo cabut malu gue"

Seera berjalan melewati pria yang menertawakannya tadi, atau bahkan meremehkannya?

"Gue kira lo gak punya malu"

"Berisikkkkkk"

****

Srekkkk srekkk

"Gue lupa jir kalau ini Jakarta bukan Bandung" keluh Seera.

Gerah! Demi apa ini gerah banget! Padahal ini sore hari tapi berasa siang hari. Seera menyesal menolak tawaran April untuk naik taxi, dan memilih berjalan kaki ke apartemen milik sahabatnya itu.

"Masih jauh pril? Tau gini kita naik taxi aja" gerutu Seera.

"Kan lo yang mau jalan kaki" balas April lembut. Ya lembut. Temannya yang satu ini kalau bicara memang lembut tapi nada dan matanya itu loh minta ditusuk!

"Ya abis lo bilang deket. Ini udah hampir setengah jam loh kita jalan, tapi kok gak sampe-sampe ya? Perasaan tadi lo bilang sekitar sepuluh menitan doang" ucap Seera mencoba mengingat kembali perkataan sahabatnya saat di kafe tadi.

"Oh, gue lupa bilang kalau tadi ada anak kantor yang gak demen sama gue, jadi gue lewat jalan lain, emang lebih jauh sih hehe"

Seera menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah kanannya. Tentu saja menahan emosinya.

April memamerkan deretan gigi putihnya, "Sorry" 

"WOW"

Seera membanting kedua koper besarnya ke jalan dan memejamkan matanya sejenak untuk menahan emosinya.

"BRNGSKK, MAKASIH LOH YA" ujar Seera setelah itu melanjutkan langkahnya meninggalkan April bersama dua koper miliknya.

April hanya tertawa puas melihat wajah kesal Seera. Toh sudah lama juga ia tak mengerjai sahabatnya itu.

"Heh nyet mau kemana? Ini udah nyampe apartemen gue"

April mengambil 2 koper sahabatnya itu dan berjalan memasuki salah satu gedung disana.

Sedangkan Seera? Masih diam menahan emosinya.

"Kalau nanti ada berita cewek cantik dibunuh temannya, itu pasti kerjaan  gue" batin Seera.
"Nyesel gue temenan sama bentukan macem dia"

***

"Permisi mas, kalau mau ngetawain didepan muka saya aja langsung " sinisku.

Yang ditanya malah natap balik sinis.

"Gue kira lo gak punya malu"

"Berisikkkkkk"
.
.
.
Akhirnya aku upload juga 👏
Semoga cerita yang ini bisa aku selesaikan dengan baik amiin🙏
Typo bertebaran ya hehe


Siklus!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang