Bianca membuka matanya, tampak sepasang bola mata cokelat tua menatapnya begitu dalam.
Laki-laki itu membantunya untuk bangun kemudian mengelitik sang perempuan dengan ilalang di tangan kanannya. Mereka mulai berkejar-kejaran dalam hamparan rumput yang luas dengan pemandangan aurora di atas kepala mereka. Keduanya berhenti ketika perempuan dengan rambut panjang itu menangkap si laki-laki, kemudian mereka tertawa bersama.
Pemandangan malam itu sangat indah, seperti mimpi bagi Bianca. Ia berada di tempat istimewa dengan seseorang yang sangat istimewa. Bagaimana bisa hidupnya yang begitu hancur menjadi sesempurna ini dalam sekejap mata?
Bianca duduk dalam hamparan rumput luas, diikuti oleh laki-laki disebelahnya. Warna hijau terpancar terang dari aurora yang tepat berada di depan mereka. Bianca seperti di surga. Kenyamanan ini membuat larut dalam hening, ia menyandarkan kepalanya dalam bahu kekar milik Ankaa. Semua terasa indah, hingga sesuatu terjadi.
Dari kejauhan langit yang penuh aurora, terlihat sepercik cahaya yang memecahkan langit. Dentuman keras terdengar semakin jelas yang siap meledakkan setiap inci dari gendang telinga manusia. Percikan api mulai bermunculan di langit. Aurora yang begitu indah, kini lenyap pergi tanpa permisi. Perlahan namun pasti, percikan api mulai terasa jelas dan berjatuhan ke bumi. Ilalang yang menari-nari, kini mati menyisakan abu.
Bianca panik, sekujur tubuhnya penuh darah. Dentuman-dentuman itu terus berdatangan, membuat gendang telinganya semakin sakit. Ia hendak lari dengan tetap menggenggam tangan Ankaa. Namun, Ankaa yang tengah melihat sekujur darah di tubuh Bianca akibat percikan-percikan api yang entah jatuh darimana memilih tetap diam. Bianca menariknya dengan sekuat tenaga, ia tak mau kehilangan Ankaa lagi. Ia tak mau pergi tanpa Ankaa. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa sekujur tubuhnya tak lagi utuh. Dentuman-dentuman itu memekikkan telinganya hingga ia tak dapat lagi mendengar apapun. Ia kelelahan, dan sayup-sayup jatuh pingsan. Sebelum kesadaran dirinya menghilang, dilihatnya Ankaa tersenyum melihat kondisinya yang begitu rapuh.
"Bi, lo kenapa?" tanya suara disebelahnya.
Bianca membuka matanya dan mulai tersadar dari mimpi buruknya. Ia bangun dan duduk menatap laki-laki yang tadi berada di dalam mimpinya, namun kini tepat berada di depannya.
"Mimpi buruk," jawabnya sambil membersihkan bajunya yang dipenuhi oleh daun-daun tua yang berguguran.
Lelaki itu tersenyum kemudian menggenggam tangannya erat. Mereka menikmati pemandangan malam di halaman rumah Bianca sambil menunggu bintang jatuh.
"Bi, lo mau make a wish apa buat bintang jatuh nanti?"
"Belum tau, kamu?"
"Gue pingin kita kayak gini seterusnya." kata laki-laki itu sambil memperkuat genggaman tangannya. Bianca tersenyum ragu, diikuti oleh senyuman dari laki-laki itu yang penuh harap.
Kemudian keduanya larut dalam keheningan dan pikiran masing-masing. Bianca masih terus dihantui oleh mimpi buruknya, apa yang dilihatnya dalam mimpi, kemungkinan merupakan suatu pertanda seperti yang sudah-sudah.
"Kamu tau milkomeda, Ka?" gumam Bianca yang akhirnya membuka suara pada laki-laki yang tengah serius memandang bintang-bintang di langit malam.
"Meleburnya galaksi bima sakti dan andromeda kan?" jawabnya sambil menoleh kearah perempuan bertubuh mungil itu.
Bianca mengangguk. "Lebih tepatnya milkomeda adalah kita," terangnya yang disambut dengan tatapan anehnya.
"Oh, karena jika kita bersama, kita akan melebur jadi satu?" ungkapnya antusias.
"Ya," kata Bianca sambil menghela napas. "Dan nantinya akan saling menghancurkan."
Setelah itu bintang jatuh muncul dan menghilang diujung bumi. Ankaa terdiam. Ia tak sempat mengucapkan permohonannya. Kali ini, Ankaa melewatkan bintang jatuh tanpa Bianca di dalamnya.
YOU ARE READING
Milkomeda
Teen Fiction"Kamu tau milkomeda, Ka?" tanyaku pada laki-laki yang tengah memandang bintang-bintang di langit malam. "Meleburnya galaksi bima sakti dan andromeda kan?" jawabnya sambil menoleh kearahku. Aku mengangguk. "Lebih tepatnya milkomeda adalah kita," te...
