Hari itu, hari pertama masuk taman kanak-kanak untukku.
Takut? Pasti.
Malu? Pasti.
Hari ini aku akan memperluas lingkunganku untuk pertama kali, yang dahulu hanya berkisar Papa, Mama, dan Mbak Wati, asisten rumah tanggaku.
Mama sedang mengobrol dengan ibu guru di depan kelas, aku duduk sendirian di karpet bersama teman-temanku yang lain -yang masih bersama orang tuanya- aku menahan tangis karena aku malu sekali duduk di situ sendiri. Tiba-tiba orang di sebelahku menghampiriku. Seorang wanita dan anaknya yang seangkatan denganku.
"Kamu Erika, ya?" tanya wanita itu ramah. Aku hanya mengangguk tipis. "Kamu sama tante aja, yaa. Mama lagi ngobrol sama bu guru di depan." katanya. Aku seperti mengenalnya, ia mungkin salah satu teman mama yang pernah datang ke rumah. "Ansel, kenalin sayang, temen baru kamu. Namanya Erika." ucap bundanya lembut.
Aku hanya menatapnya, masih malu. Ia inisiatif duluan, menyodorkan tangannya untuk kugenggam, "Hai, aku Ansel"
Dengan kikuk, kubalas, "Aku Erika"
Ia Ansel, teman laki-lakiku yang pertama. Teman yang paling sering bersamaku di taman kanak-kanak, karena Nala masuk di TK yang berbeda denganku. Kala itu wajahnya tembam dengan mata yang selalu ingin tahu akan segala hal. Ansel pintar dari kecil, selalu menjadi pemimpin di kalangan teman-temannya. Ia juga yang selalu membelaku saat aku diledek oleh teman laki-lakiku yang lain.
Memori masa kecilku dengan Ansel selalu indah. Kami belum mengerti banyak hal, belum mengerti betapa besar dan membingungkannya dunia.
•••
Masa sekolah dasarku cukup menyenangkan. Aku dan Nala, sahabatku masuk di sekolah dasar yang sama. Aku dan Nala adalah bintang sekolah. Kami sering diikutkan ke banyak lomba dan dijadikan perwakilan siswa untuk para tamu dan pengamat sekolah. Nala dan aku sama-sama cerdas dan cepat belajar. Bedanya, aku segan sekali tampil di depan dan berbicara pada khalayak ramai, tidak seperti Nala. Karena itu Nala didapuk sebagai duta siswa dan duta membaca. Lucunya, Nala tidak pernah suka membaca. Ia sering ke perpustakaan bersamaku karena ingin menemaniku saja. Di sana dia akan membuka-buka buku dan melihat gambarnya, tidak membacanya.
Ketika pemilihan duta membaca se-Provinsi, -saat kami kelas 5 SD- awalnya Nala dan aku yang didaftarkan. Tapi aku menangis tidak mau ikut. Makanya hanya Nala yang datang ke pemilihan tersebut. Nala bilang dia hanya ngasal menjawab pertanyaan dari penguji, sekena apa yang ada di pikirannya. Namun tahu-tahunya, ia kembali ke sekolah membawa sertifikat -yang sudah lecek- dan medali duta membaca tingkat provinsi.
"Nalaa, kebiasaan deh, sertifikat dilecekin" aku berujar gemas.
"Emang kenapa sih, ga penting juga." katanya cuek.
Begitulah Nala sedari kecil, ia tidak memedulikan apapun, tapi kalau soal tanggung jawab, ia sangat memegang itu. Terbukti dari terpilihnya ia sebagai ketua kelas selama 6 tahun sekolah dasar. Nala tidak memperbolehkan orang yang piket keluar kelas sebelum ia melaksanakan tugasnya. Makanya aku sering pulang terlambat karena menunggu dia keluar dari kelasnya, selepas mengawasi orang piket yang biasanya merupakan anak-anak bandel yang sering kabur.
Kami memang hampir selalu pulang bersama, kecuali ketika aku ada pelatihan olimpiade sampai sore atau dia mendapat tugas tambahan sebagai duta siswa. Kadang kami dijemput supirnya, kadang dijemput supirku, kadang juga kami bersepeda. Orang tua kami juga sudah cukup lama saling mengenal. Papanya adalah rekan bisnis Papa, sementara mamanya adalah teman sejurusan Mama saat kuliah. Sementara aku, hampir seluruh hidupku mengenal Nala, kami berteman sejak umur 1, sedang kecil-kecilnya. Tapi anehnya kami tumbuh menjadi watak yang 180 derajat berbeda. Biasanya apa yang tidak ada di aku, ada di Nala, dan sebaliknya yang tidak ada di Nala, ada di aku. Ia sahabatku yang paling baik, paling dekat, dan aku sangat menyayanginya seperti saudariku sendiri.
