Pembuktian

553 13 0
                                        


"Kamu tega, Tari! Jadi kamu selama ini selingkuh sama Andika? Zahra juga anak dia, 'kan? Buah cinta terlarang kalian, jawaaab!" teriak Adi pada Mentari. Suaranya menggelegar mengisi seluruh ruangan, memekan telinga.

Satu tamparan meluncur di pipi mulus Mentari, memberikan warna biru lebam di kulit putihnya. Saking kerasnya tamparan hingga mengalirkan darah di ujung bibir mungil itu.

Mentari menangis terisak memegangi pipi. Ia menyesali apa yang sudah diperbuat, merusak kepercayaan suaminya. Menghancurkan rumah tangga, berselingkuh dengan teman semasa sekolahnya dulu hingga menghasilkan Zahra.

"Baguuus, aku banting tulang cari nafkah untuk kalian. Menguras semua tenaga dan pikiran agar kalian hidup enak. Ini balasannya, Hah?" Adi menggeram kesal, menatap nyalang pada istrinya.

Mentari masih menunduk, ia memang salah hingga tak bisa menjawab apapun. Semua kebusukannya kini sudah terbongkar.

"Bangsa*t, akan aku cari lelaki itu, dia gak akan bisa sembunyi walau ke lubang semut sekalipun takkan aku lepaskan," ucap Adi mendengkus kesal.

Ia mengacak rambut, membalikan badan membelakangi Tari. Ingin sekali menghabisi wanita yang berada di hadapannya ini hingga mati. Namun, ia berusaha meredam emosi. Bagaimana nasib Keempat anaknya jika Ibunya mati?

Bukan hanya hati m yang terbakar emosi maha dahsyat, tapi seluruh tubuh kini membara, ingin menghanguskan semua yang ada di hadapannya.

Gegas ia melangkah, mengambil kunci mobil dari atas meja, niat hati ingin memberikan pelajaran pada lelaki yang sudah berani meniduri istrinya hingga menghasilkan anak.

Baru saja melangkah sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti oleh cengkraman kuat di kedua kaki.

"Ampuun A! Jangan sakitin Andika!" pinta Tari meraung, memohon agar suaminya tidak pergi. Ia paham benar sifat Sang suami jika cemburu, sudah pasti Andika akan di hajar habis-habisan, atau mungkin dibuat tak bernyawa lagi.

Pikiran Tari dipenuhi ketakutan yang luar biasa, meskipun ia menyadari kesalahannya, tapi bukan berarti harus melihat orang yang dicintainya terluka apalagi meregang nyawa. Bagaimanapun Andika adalah Ayah dari anak bungsunya Zahra.

Ada luka yang teramat sakit menyelusup batin Adi, seperti belati yang menancap hingga mengoyak semua isi hati. Wanita yang dicintainya sejak 14 tahun lalu ternyata lebih membela lelaki lain, lebih takut kalau terjadi sesuatu pada lelaki itu dibandingkan dirinya.

Pengorbanan selama empat belas tahun menjalani biduk rumah tangga seakan tiada arti sama sekali. Semua keringat seakan menetes dengan sia-sia.

'Biadab! Kalian sungguh tega menikamku seperti ini.' Batin Adi.

Adi menyayangi anak yang di kandung Tari sebagai anaknya sendiri, ia menyangka anak itu adalah darah dagingnya sendiri. Sejak mengetahui kehamilan keempat Mentari, ia selalu menuruti apapun kemauan Mentari.

Meski keadaan ekonomi mereka sedang paceklik, tak pernah sehari pun ia melewatkan membawa makanan yang istrinya pesan. Hanya untuk sekedar ingin melihat Tari makan agar calon bayi lahir dengan sehat.

Tidak di sangka setelah beberapa bulan anaknya lahir ke dunia, sifat Mentari yang terlihat mulai berubah mengusik keingintahuan Adi hingga ia memutuskan untuk melakukan tes DNA pada Zahra secara diam-diam.

Setelah seminggu menunggu, hasil sudah dapat diambil. Benar saja di surat itu tertulis kalau golongan darah dan data biologis lain menunjukan kalau Zahra bukanlah anak darinya.

Bukti semakin menguatkan kecurigaanya pada Andika yang bererapa kali selalu menanyakan kabar Zahra lewat SMS atau chat WA. Bahkan pernah lelaki itu menengok di rumah sakit saat Zahra demam dan dehidrasi tanpa sepengetahuan Adi.

"Lepaas!" Adi mencoba menarik kaki, melepaskan cengkraman tangan Mentari dengan kasar hingga membuat istrinya terjengkang.

Adi membangunkan tubuh Mentari, mendorong hingga mentok di tembok. kedua bola mata membulat menatap tajam.

"Kamu sayang sama dia, hah? Setakut itu kehilangan bajing*n itu?" cerca Adi. Kedua tangan mencengkram bahu Tari dengan kuat. Gigi bergemeretak, rahang-rahang mengeras, urat biru terlihat jelas di lehernya.

Adi mengepalkan tangan geram, ia ingin menghantam wajah istrinya jika saja ia bukan wanita. Sekuat tenaga berusaha menahan emosi agar tidak berakibat fatal. Logika masih ia pakai dalam menghadapi masalah meski emosi terus meradang ingin membuncahkan segala yang menyesak dari dalam dada.

"Aku benci sama kamu, Adi! Semua gak akan terjadi jika saja kamu penuhi apa yang seharusnya menjadi nafkahku." sengit Tari sembari terisak.

Adi menjatuhkan guci yang ada di sisi tempat mereka berdiri hingga terdengar bunyi dentaman sangat keras. Tari menutup kedua telinga dengan tangan. Ia terkesiap dengan sikap suaminya yang kasar. Sepanjang perjalanan pernikahan mereka, baru kali ini Adi memecahkan barang.

Langkah Adi tertuju pada lemari jati berwarna coklat yang diisi hiasan kecil terbuat dari kaca. Ia menarik satu persatu, melemparnya ke lantai hingga pecah dan beling berceceran di sekitarnya.

Adi membungkuk, mengambil pecahan kaca yang besar. Ia mendekat pada Mentari, menodongkan pecahan itu di sisi pipi Tari.

Aargh!

Darah mengucur ke lantai, menetes di lantai marmer berwarna merah muda.





Akibat ReuniLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora