Usiaku 16 tahun. Aku tumbuh sebagaimana umumnya seorang remaja putri. Masa-masa dimana aku mengenal bedak, lip gloss, atau apalah ala kadarnya alat make up yang jarang ku sentuh karena takut jika ketahuan make up tebal saat sekolah.
Aku merupakan siswi di salah satu SMA unggulan di tempatku. Beruntung aku bisa masuk dan bersaing prestasi dengan ratusan siswa yang memiliki IQ tingkat dewa. Disinilah aku mulai mengenal lingkungan yang lebih luas. Bukan hanya lingkungan sekolah yang padat kegiatan. Aku yang lebih aktif mengasah bakat menyanyiku yang memang sudah ku cita-citakan ketika aku masih bersekolah di SMP. Tidak hanya itu, di 16tahun itu pula, aku mulai mengenali perasaan suka.
Semua bermula ketika aku berhasil menyabet juara di ajang FLSSN. Secara kebetulan, guru vokal yang nantinya akan membimbingku berasal dari lain sekolah. Semula aku protes jika harus berlatih dengan siswa dari lain sekolah. Kan nggak saling kenal. Suasana pasti kaku mencekam. Tidak saling tanya dan entahlah.
"Ibu yakin kamu bisa kok, Yu. Buktinya kemaren kamu bagus perfome nya". Bu Linda, selaku guru seni budaya di sekolah meyakinkan akan protes diriku yang nggak mau latihan di SMA tetangga.
"Aduh bu, nanti kita nggak saling kenal. Diem-dieman kayak tembok bu".
"Kamu saja yang terlalu berlebihan. Sudah ayo saya antar. Di sana guru vokalnya sudah nunggu".
Dengan perasaan gondok akupun berjalan mengekori Bu Linda. Perasaanku, jangan di tanya. Jantungku berdegup keras. Sampai rasanya mau meloncat keluar dari tempatnya. Apalagi kedatanganku di sekolah tetangga tepat saat jam istirahat. Jadi hampir 90% siswa siswinya asyik di depan kelas. Mereka menatap aku seperti alien yang terjatuh dari pesawat luar angkasanya. Ada yang menatap sinis, ada yang berbisik-bisik, dan tentu saja banyak siswanya yang bersuit-suit. Duh, rasanya aku ingin cabut. Nggak usah latihan. Kedatanganku benar-benar seperti makhluk asing. Bahkan perjalananku dari lobby ke ruang seni sekolah itu, jauhnya seperti berjalan dari Surabaya ke Jakarta.
"Halo selamat pagi Bu. Apa kabar?". Dari balik punggung Bu Linda aku bisa melihat seorang laki-laki berseragam coklat khas pegawai negeri. Wajahnya aduhai, super glowing. Rambutnya rapi serta klimis seperti baru keluar dari salon saja. Jujur aku kagum. Kalau tau gurunya secakep ini mungkin aku nggak protes.
"Hai Pak. Kabar baik". Bu Linda berjabat tangan dengan beliau.
"Ini saya titip Ayu, yang kemaren di FLSSN. Kebetulan di sekolah guru vokal kita belum dapat ganti. Mungkin gapapa sementara Ayu latihan disini".
"Ohh boleh. Boleh sekali. Justru saya senang. Kita nanti bisa bertukar ilmu dan pengalaman. Kita sudah bisa mulai latihan dari sekarang kok".
"Ayu, ini Pak Adi yang ibu ceritakan kemaren. Untuk sementara waktu kamu belajar disini sampai kita dapat pengganti guru vokal. Tolong kamu belajar yang......". Melihatku yang fokus ke sebuah objek, Bu Linda jadi urung menyelesaikan wejangannya. Mataku seperti lensa kamera yang sedang fokus ke titik objek yang sangat indah. Sampai-sampai aku tidak menghiraukan Bu Linda yang berbicara padaku.
"Yu, kamu dengar ibu bicara?".
"Ahh, apaa?? Ehh, iya bu, saya dengar". Aku gelagapan seperti terciduk nyontek saat ulangan. Saking fokusnya ke titik yang indah di pandang tadi mungkin. Dua siswi yang akan berlatih denganku terlihat jelas menahan semburan tawanya. Memalukan!
Latihan di mulai. Aku hanya belajar satu lagu yang di ulang entah berapa puluh kali. Satu lagu yang minggu depan akan dibawakan lomba. Rasa jenuh mulai menghampiriku. Mungkin, Pak Adi sudah tau dari mimik wajahku yang mulai tergambar kelelahan dan kebosanan.
"Baiklah, kalian istirahat dulu 20menit. Kalian boleh ke kantin dulu. Bapak tunggu disini. Oke?"
"Oke pak". Kita bertiga menjawab serempak. Persis regu koor. Padahal aku dari tadi belum kenalan sama mereka. Jadi canggung sendiri akhirnya.
"Oh iya, kenalin. Aku Ayu. Thanks yaa udah di ajakin ke kantin".
"Kenalin juga, aku Vanda. Ini Rara. Senang deh belajar sama kamu". Cewek yang berambut panjang hingga melewati pinggul itu memperkenalkan diri serta temannya. Ternyata mereka asyik. Tidak seperti bayanganku tadi pagi saat berangkat.
"Kita duduk disini aja deh, kayaknya penuh banget. Tadi ada acara yaa?".
"Kamu kayaknya ketinggalan berita deh, Ra. Hari ini kan ada pertandingan voli".
"Masak sih?"
Aku tak mendengarkan ocehan mereka. Mataku kembali menangkap bayangan indah yang tadi belum selesai ku amati. Yang tadinya aku memandang dari kejauhan, kini aku memandangnya lebih dekat. Hanya beberapa langkah dari tempat dudukku. Aku sungguh kagum. Bak bertemu dengan idola yang lama dinanti-nantikan.
"Yu, kamu kenal dia?". Vanda yang menangkap aku sedang fokus ke siswa yang berseragam orahraga itu langsung bertanya.
"Ehh enggak kok Van".
"Kamu daritadi liatin dia. Suka yaa".
"Ihh, ada-ada aja kamu tuh".
"Gapapa sih Yu. Gimana, mau aku kasih whatsapp nya?". Rara jadi ikut-ikutan godain aku.
"Ihh Rara. Enggak, enggak. Aku cuma liat doang kok". Mereka ketawa. Untung saja pesanan datang pas tepat waktu. Jadi bisa menutup salah tingkahku dengan cara menikmati seporsi siomay serta segelas teh hangat.
Tapi tetap saja. Mataku tak bisa di ajakin kompromi. Diam-diam aku mencuri pandang ke laki-laki yang sedari tadi asyik dengan handphone yang di genggamnya. Sambil mengunyah siomay, mataku tak lepas memandang objek indah itu. Tanpa ku sangka, dia berbalik memandangku dan tersenyum manis sekali.
"Uhukk.. Uhukkk...". Sumpah demi apapun, aku malu sekali. Aku meneguk teh hangat hingga gelasnya tinggal separuh berisi. Aku mengelus-elus tenggorokanku.
"Kamu gapapa, Yu??"
"Duhh, gapapa Ra. Tapi malu banget deh. Buruan yuk, kita balik aja"
"Santai aja, Yu. Gak cuma kamu aja yang pernah seperti ini". Vanda tersenyum kecil sambil berdiri. Aku dan Rara ikutan berdiri dan bergegas meninggalkan kantin. Perasaanku masih dag-dig-dug nggak karuan. Cuma di senyumin aja aku sampai tersedak. Ya Tuhan, ndeso sekali, pikirku.
Kita bertiga kembali memasuki ruangan yang di dalamnya tertata rapi berbagai macam alat musik. Serta lukisan-lukisan indah bejajar rapi di dinding ruangan itu. Aku duduk. Menunggu giliranku berlatih vokal yang sebenarnya aku sudah lelah dan ingin pulang. Apalagi dengan adanya tragedi tersedak di kantin tadi yang membuat aku malu sekali.
"Van..". Vanda yang jarinya sedang menari-nari di atas layar handphone beralih menatapku
"Kenapa Yu?"
"Ehh, cowok yang tadi, emm.. Boleh tau namanya nggak?". Duhh gila! Mimpi apa aku semalam sampe bertingkah konyol seperti ini. Aku memang suka terobsesi sama seseorang. Tapi entah kenapa, baru kali ini rasa ingin tahu itu muncul secara over. Membuatku ilfeel sendiri.
"Ohh yang di kantin tadi kan? Namanya Sona. Kamu suka yaa? Tenang aja, Yu. Dia jomblo. Belum ada yang punya. Banyak sih cewek yang curi-curi pandang ke dia. Sama kayak kamu. Tapi yaa gitu. Sona nya cuek, dingin. Di rasa-rasa kayak gak punya selera ke cewek". Vanda nyerocos aja kayak sales kompor.
"Yee, mau dia jomblo juga aku kan cuma tanya Van"
"Bro.. Aku juga cewek. Dari pandangan kamu tadi itu bukan cuma pandangan cuma tanya kayak yang kamu bilang barusan. But you like him baby. Aku dukung deh. Kalo di lihat-lihat kalian bakal cocok. Dia juga anak musik loh. Di jamin nyambung banget kayak jembatan Ancol"
"Dihh ngaco banget deh. Apaan juga. Nggak, nggak. Aku sukanya tuh cowok yang humoris gitu. Anti deh sama yang dingin kayak es batu". Aku protes dengan tuduhan Vanda. Tapi Vandanya malah ketawa riang banget.
"Es batu bakalan mencair kena panas Yu". Vanda melanjutkan tawanya. Lalu berdiri karena sudah mendapat giliran latihan. Dan entah kenapa, Rara ngeloyor pergi gitu aja selesai latihan. Ada tugas kali yaa. Aduh bodo amat dah. Mungkin dia lelah sama kayak aku.
YOU ARE READING
Assalamualaikum, Cinta...
RomanceDi bidang prestasi memang membanggakan. Tidak sekali atau dua kali aku menjuarai berbagai macam perlombaan. Saat sekolah, nilaiku pun bisa di katakan rata-rata atas. Aku yang tak pernah belajar juga heran akan hal ini. Namun, sepertinya aku ketimpa...
