Pagi menyambut sang remaja yang sedang asyik mempersiapkan diri untuk berangkat kesekolah, Alunan- alunan melodi mengalun merdu lewat media radio semua orang digubuk itu sangat bergembira menyambut pagi buta. Namaku Ulva, aku hidup dengan Ibu, Ayah, Kakek, Dan Adekku njuna. Kami tinggal di dalam gubuk ini. Gubuk yang terlihat tua itu memberi kami kedamaian dan juga kehangatan.
Sudah bertahun- tahun kami tinggal di desa ini, desa Tambakrejo yang berada di kecamatan rengel. Ayahku, dia bekerja sebagai kuli bangunan di Kota Surabaya namun jika tidak ada job Ayah biasanya Membuat kurungan ayam atau sesek yang berasal dari bambu. Ibuku, aku sangat salut padanya dia tidak pernah mengeluh dalam menjalani pekerjaanya sebagai buruh tani, terkadang dia masih sempat memasak, mencuci, menghembala kambing, mencari keong sawah untuk makan ternak, mengeringkan gabah DLL.
Aku sangat sayang pada Ibuku, tapi aku juga kasihan dengan Kakekku yang umurnya sudah 1 Abad, terkadang dia sering sakit namun kami hanya bisa memberinya ramuan herbal saja, kami tidak punya cukup uang untuk membawa Kakek berobat ke Dokter, sedangkan Addekku Njuna dia baru berumur 2 tahun tapi dia sangat pintar membantu ibu memberi makan ayam dan bebek tiap hari.
Terkadang ada saja tetangga yang selalu nyinyir tentang kehidupan kami, seingatku mereka selalu membully keluargaku semenjak aku masih kecil.
Ya ku tahu aku dan keluargaku bukanlah orang yang tajir Didesa itu, namun hatiku ikut menangis ketika Aku harus melihat Ibuku menangis, setelah itu Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa Aku harus bisa menjadi seorang Dokter ataupun Profesor. Karena bagiku Ibu adalah nyawaku, dia sangat menyayangiku, Adek dan juga keluarganya. Aku juga masih ingat saat waktu masih duduk dibangku SD, Saat itu aku sering sakit Asmaku sering kambuh Karena alergi cuaca dingin. Disaat nafasku sedang tersedak Ibu selalu menguatkanku, Ibu lari kesana kemari mencari pertolongan, mencari pinjaman uang. Saat di ruang ICU Ibu sealu ada disampingku, air mata tulus itu terus mengalir dia terus berdoa, meski aku setengah sadar namun aku masih bisa merasakan kekhawatiranya.
Setelah itu Ibu berbisik kepadaku untuk pulang kerumah mengurus Kakek sedangkan aku ditemani oleh saudaranya Ayah, Ayah juga tidak bisa datang. Aku memang sering keluar masuk rumah sakit sampai Ibu rela menjual semua perhiasanya hanya untuk kesembuhanku. Setelah sehat aku berbisik pada Ibu, " Bu, Ibu tadi kenapa jual perhiasannya?", Ibu menjawab," Nak perhiasan Ibu tidak sebanding dengan kesehatan kamu, perhiasan Ibu bisa dibeli lagi tapi kalau kesehatan kamu Ibu mau beli dimana" sambil tersenyum". Tak lama kemudian Ibu tertidur dan aku berbisik pelan ke arah telinganya" Bu terimaksih ya, kakak janji kakak bakal beliin perhiasan yang paling bagus buat Ibu."
Aku sangat bersyukur karena saat masuk jejnjang SMK aku sudah mengurangi beban Ibu, Aku sudah tidak saki-sakitan lagi.
Aku mencoba untuk selalu sehat dan kuat untuk menghadapi semua ini. Setiap libur sekolah Aku dan Njun membantu Ibu meringankan pekerjaan Ibu, kami berdua menggembala lambing dan mencari keong disawah untuk diolah sendiri dan untuk makan ternak, sekalian Aku mencari sayur kangkung di rawa-rawa. Terkadang aku juga meluangkan waktu untuk memancing ikan di danau belakang rumah, lumayankan ikannya bisa diolah buat makan bersama dan juga bisa hemat.
Cita-citaku ingin jadi Dokter atau Profesor tetapi saat ini aku memilih Kejuruan Akuntansi, hem itu sangat aneh menurutku, tapi Aku tetap enjoy mengerjakan semua tugas yang diberi oleh guruku. Aku juga punya teman dia juga pintar banget, namanya Ayu Elsa Tama panggilannya Ayu.
*****
Kami selalu menjadi juara di kelas dan juga sering ikut lomba. Waktu itu aku memberanikan diri untuk ikut lomba pidato antar sekolah, sebenarnya Aku tidak mau karena belum pernah ikut sebelumnya tapi karena guruku yang memaksa yasudah Aku menyetujuinya. Kami berlima dikirim untuk lomba yaitu Aku, Ayu dari kejuruan Akuntansi, Vian, Lanny dari kejuruan Pemasaran dan Bayu dari kejuruan Adm. Perkantoran. Kami berlima diantar oleh guru kami Pak Bambang. Sesampainya disana Pak Bambang pamit pulang kepada kami. Aku, Ayu, Vian, Lanny, dan Bayu langsung menuju ke lokasi. Disitu banyak sekali siswa yang ikut. Bayu langsung menaruh tasnya begitu juga kami, rasanya adem banget suasana yang begitu ramai membuat kami tidak bisa tidur nyenyak trus juga banyak kegiatan dan saat itu kami juga menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan. Mulai dari sholat maghrib berjamaah, sholat isya' dan tarawih dilanjutkan acara baca Alqur'an setelah itu renungan malam, sahur, Dan lanjut sholat subuh setelah itu mandi dan olahraga pagi.
" eh, si Bayu mana?"tanyaku pada Vian.
" Bayu bangun kesiangan Va." Jawab Vian sambil tersenyum.
"kayaknya Bayu lagi ndak enak badan deh." ujar Vian
" halah masa cowok kok lemah gitu, baru juga sehari Yan belum satu minggu" sahut Ayu."
"Sudahlah Ayu jangan berdebat disini, ayo kita lanjut olahraga lagi."
ajak si Lanny.
Tiba-tiba perut Ulva mules dan Aku segera pamit ke kamar mandi. tiba-tiba Aku melihat Bayu sedang duduk sendiri sembari memegang buku dan pensil, pelan-pelan Aku menghampirinya.
"eh Bay kamu lagi ngapain, katanya Vian kamu lagi sakit tapi kenapa malah disini merenung dibawah pohon." Ujarku
" Apalah kamu ini Value, memang aku lagi ndak enak badan sebab tadi malam aku minum teh sama kopi, tapi sekarang udah mendingan sih dan Aku mulai buat teks pidato untuk lomba, coba kamu baca, bagus nggak?"
" mana Bay biar Aku baca." sambil memegang Handphone
" waah mantep banget Bay, bagus nih pasti kamu pasti menang, yasudah Aku balek dulu ke lapangan ya." jelasku.
"Iya Ul". ucap Bayu
Sebenarnya Aku rindu sekali sama Ibu, Adek dan Kakek, rasanya lama sekali, Aku merenungi kembali cita-citaku menjadi seorang dokter. Tiba- tiba Ayu datang membuatku terkejut," Hey Ulfa, yuk kita lihat pertunjukan Al-banjari di dalam, penampilannya bagus banget Ul ayooo dong", " iya" jawabku.
Kami berlima sangat suka dengan banjari, kalbu kami terasa damai dan tenang banget tetapi waktu sudah malam dan jendela duniaku sudah terasa mengantuk berat, lalu Aku tidur di bahu Ayu. Setelah itu Ayu membangunkanku untuk sahur.
" Va, bangun ayo kita sahur, va bangun." teriak Ayu
"ehm, iya Ay, tapi kayaknya kurang enak badan Aku Ay."
" yasudah Va kamu disini aja ya, biar Aku ambil makanan sama minum buat Kamu." Tunggu disitu ya
sekalian aku minta obat buat kamu.
"eh Yu kamu mau kemana, kenapa lari-lari begitu?" tanya Vian
" Yan Ulva sakit, dia demam dan Aku mau minta obat ke kakak pembina sekalian menganbil makanan buat Ulva."
" sini Aku bantuin bawa makanannya yu, Vian sambil tersenyum menatap si Ayu. " iya, makasih ya Yan". ulva, sini aku suapin biar kamu cepat sembuh. iya ay terimakasih "ujar ulva ". yaudah diminum dulu obatnya setelah itu kembali istirahat. tapi ay besok lombanya udah di mulai. udah tenang aja Kita semua pasti menang dan kamu bisa ikut tampil, okey sekarang tidurlah karena sudah larut malam. iya ay.
pagi pun datang dengan penuh gairah kami berempat bersiap untuk tampil.
kami berusaha menunjukkan kemampuan terbaik kami, dan tiba saatnya giliranku untuk maju. lan semangat" ujar keempat temanku
Bismillah sebenarnya badanku masih kurang vit tetapi aku harus tetap ikut. setelah menyampaikan pidato rasanya fikiranku udah lega tanpa beban, namun hatiku tetap dag dig dug menunggu hasil Penilaian dewan juri.
Alhamdulillah Akhirnya udah usai keganjalan di pikiranku ini " dengan suara lega sambil menghela nafas lanny mengutarakan perasaanya".
lega bagaiman sih lan hasilnya aja belum keluar" sahut bayu"
udah jangan bedebat malu tau dilihat murid yang lain " ujar ayu"
mereka berlima tak henti berdoa dalam hati, memohon pada sang ilahi agar kemenangan didapat oleh mereka.
dan akhirnya saatnya pengumuman dan pengumuman itu di urut dari juara paling terakhir.
selamat kepada wanti kusuma ayu dari SMA Bina Utama, Sekar Adinda dari sma muslimat, Nurul hidayah dari smk patriot bangsa mendapat juara 3
selamat kepada bagas dari smk kedawung, vian dari smk pgri mojoagung dan bayu dari smk pgri mojoagung sebagai juara 2
selamat kepada saudari Lanny, Ayu dan ulva dari smk pgri mojoagung mendapat juara pertama
"dipersilakan kepada siswa-siswi yang kami sebut namanya untuk maju menerima hadiah." ucap panitia lomba.
"yeah akhirnya kita pulang membawa piala." Ucap vian dengan gembira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terbang Di Negeri Jiran
Short StoryDikisahkan seorang anak pedesaan yang memiliki cita-cita sebagai seorang dokter, namun karena masalah perekonomiannya dia harus menunda cita-citanya itu, dia melanjutkan merantau di negeri jiran malaysia. disitu dia sangat mengerti artinnya kerja ke...
