Friend

17 7 4
                                        


Malam itu, malam jum'at.
Kejadiannya di pondok pesantren lamaku.

Tepat setelah orang-orang selesai sholat Isya, aku mandi malam dan keramas. Malam itu aku tidur dengan rambut basah dan tergerai.

Sekitar pukul setengah tiga, aku terbangun karena rasa ingin buang hajat kecil. Aku keluar kamar menuju kamar mandi tanpa di temani seorang teman. Untuk yang bertanya, kenapa gak minta di temani? Alasannya karena mereka susah di bangunin dan gerakannya sungguh lelet aduhai.

Sebenarnya aku takut dan berencana menunggu orang-orang terbangun untuk sholat malam. Tapi rasanya sudah tidak tahan, makanya ku kuat kan saja tekatku.

Aku keluar tanpa mengenakan hijab karena merasa pondok gelap dan sepi, sudah tidak ada orang lain lagi. Rambutku ter-urai karena aku habis keramas malam.

Saat di pembelokan dari kamar belakang dan tengah, aku berpapasan dengan salah satu kakak kelasku. Ia menenteng keranjang mandinya dan berjalan menuju keran wudhu.

"Oh kak Nisa!" sapaku sambil goyang-goyang seperti ulat bulu karena kebelet pipis.

Ia hanya berdehem sebentar lalu melanjutkan langkahnya. Aku berlari menuju tower *sebutan kamar mandi tunggal di pondok ku.
Ternyata air di dalamnya habis, dan keran airnyapun mati.

Aku kembali berlari sembari menahan hajat yang rasanya semakin ngilu, dan ku temukan kak Nisa sedang menadah air di ember. Belum penuh ember milik kak Nisa, air di keran wudhupun ikut ludes. Aku meringis.

"Kak mau ngapain?" tanyaku.

"pipis" jawabnya sangat singkat.

Saat itu kupikir, kak Nisa sedang dalam keadaan mengantuk makanya jawabannya terkesan cuek dan dingin.

"Mau pipis di mana?" sekali lagi aku bertanya.

Tanpa menjawab pertanyaanku, kak Nisa berjalan menenteng embernya menuju kamar mandi rusak. Kamar mandi rusak dan tidak terpakai itu ada 3, berjejer. Dan kak Nisa masuk di kamar mandi ke-3 paling pojok.

Aku tidak perduli dan hanya berteriak pamit, karena setelahnya aku berlari ke kamar mandi bangunan depan. Dan syukurnya, air di kamar mandi itu masih banyak.

Setelah menyelesaikan hajatku, akupun mengambil air wudhu untuk sekalian sholat malam.

Aku berjalan santai kembali ke kamarku. Suasana pondok sangat sepi dan menyeramkan. Tidak ada tanda-tanda seseorang selain diriku sendiri.

Saat berjalan melewati kamar mandi rusak, aku berhenti sejenak. Menunggu kak Nisa keluar dari kamar mandi paling pojok. Sekitar tiga menit aku menunggu, tidak ada tanda-tanda bahwa ada seseorang di dalam sana.

Aku berjalan mendekat, langkahku terhenti di kamar mandi pertama.

"Kak Nisa?" panggilku.

Entah berapa kali aku memanggil nama kak Nisa, namun nihil. Tidak ada jawaban dari dalam sana.

Perasaanku mulai tidak enak, aku melanjutkan langkahku menuju kamar. Dan entah siapapun itu, sampai esok hari aku tetap ber-postive thinking bahwa orang itu adalah Kak nisa.

Keesokan harinya, aku bertemu kak Nisa dan ku tanyakan perihal pertemuan kami subuh itu.

"Tadi subuh kok kakak lama banget di kamar mandi rusak?" tanyaku memulai obrolan.

Ku lihat raut wajah bingungnya.
"Kamar mandi rusak?" ia bertanya balik padaku.

Aku mengangguk.

"Aku gak pernah ke kamar mandi rusak tadi subuh" jawabnya yang membuat bulu kuduk ku tiba-tiba berdiri.

Dan dengan perasaan dag dig dug, ku ceritakan semua kejadian tadi subuh.
Mata kak Nisa membulat mendengar ceritaku.

"Wah... Aku tadi bangun jam empat dek, terus mandinya juga di kamar mandi dekat mushola" Kak Nisa menanggapi ceritaku bergidik ngeri.

Terus, orang yang aku temuin tadi subuh siapa? Jelas-jelas itu Kak Nisa...

"Makanya dek, kalau keluar kamar itu pakai jilbab dan jangan urai rambut. Mitos di pondok ini, kalau ada yang keluar malam sendirian terus gak pake jilbab dan rambutnya gak di ikat, yah gitu. Bisa liat yang aneh-aneh deh..." jelas kak Nisa. Mitos yang baru saja aku ketahui tentang pondokku.

"Yang intinya postive thinking aja..."

"positive thinking gimana kak? Jelas-jelas itu bukan manusia." potongku cepat merasa ngeri sendiri. Membayangkan santainya diriku berbincang dengan makhluk itu.

"Ya mungkin dia sengaja muncul dalam wujudku, supaya kamu gak ngerasa takut malam-malam sendirian"

Ucapan kak Nisa ada betulnya, karena awalnya aku ketakutan melihat pondok yang sepi banget. Tapi, setelah bertemu kak Nisa yang ternyata makhluk lain, perasaanku jadi legah sedikit karena merasa ada teman.

"Setannya baik, mau nemenin kamu pipis malam-malam..." ucap kak Nisa yang membuatku meringis ngeri.

Yah, setidaknya terimakasih buat 'dia'. Pertama, karena udah mau nemenin aku pipis dan buat aku jadi gak takut lagi. Yang kedua, terimakasih karena gak muncul dengan wujud aslinya.

***

Kisah nyata dari calon bidadari surga👏
👉 Yuaauaa

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 24, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DARK PENWhere stories live. Discover now