prolog

1K 18 5
                                        

Aku perbaiki dengan bahasa yang lebih rapi, enak dibaca, tapi tetap mempertahankan gaya remaja dan karakter Aurel yang sedikit tengil 😉
“Bolos, melawan guru, mabar di kelas, cabut seenaknya, dan yang paling parah—membuat guru BK sampai masuk rumah sakit. Kesalahan kamu sudah nggak bisa dihitung lagi, Aurel! Oma harus bagaimana supaya kamu berubah? Ini sekolah ketujuh yang kamu jelajahi selama dua tahun!”
Wanita paruh baya itu, Arasely Salsabila Maheswari, tengah meluapkan amarahnya pada cucu bungsunya—Aurelia Myesha Maheswari.
Aurel memang sedikit begajulan. Bahkan, mungkin sudah melewati batas “normal” untuk ukuran gadis seusianya.
Namun gadis itu hanya memainkan jemari kakinya, pikirannya entah melayang ke mana.
“Kamu dengar Oma bicara, Aurel?”
“Iya, Oma. Aurel dengar.”
“Besok Oma antar kamu ke sekolah baru. Oma sudah urus semuanya.”
Aurel bangkit dan melangkah menuju kamar. Namun langkahnya terhenti saat suara berat yang sangat ia kenal terdengar.
“Ini sekolah terakhir. Kalau sampai kamu dikeluarkan lagi, Opa jadikan kamu OG di kantor Opa.”
Aurel menoleh cepat. Orang yang paling ia sayangi setelah Gilang Azril Rahandika Maheswari baru saja mengancamnya.
“OG? Opa tega? Masa cucu Opa dijadiin office girl?”
“Kamu juga tega bikin Opa dan Oma kecewa.”
Skakmat.
Ucapan itu telak menghantam hatinya. Selama ini… apakah ia memang hanya memberi kecewa pada dua orang yang sudah memberinya segalanya?
Aurel harus berubah. Itu yang terlintas di benaknya. Sesekali membuat mereka bangga, apa salahnya? Mulai besok… Aurel harus berubah.
Kalau bisa.
“Sudah. Lanjutkan penyesalanmu di kamar sambil tidur. Besok kamu sekolah,” ujar Opa sambil memijat pangkal hidungnya.
“Ingat, berubah, Aurel.”
“Sial… Opa nggak pernah main-main.”
♠♠♠
“Aurel, kalau kamu nggak bangun sekarang, Oma sita semua motor dan mobil kamu!”
“Ah, cuma dua kan? Masih ada yang lain,” gumam Aurel sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
“Semuanya.”
Dalam hitungan detik, Aurel meloncat dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Oma memang selalu tahu cara mengalahkannya.
Beberapa menit kemudian, ia menuruni tangga dengan tergesa, masih sibuk memasang dasi.
Bughh!
“Aduh! Ini lantai keras banget sih!”
“Makanya kalau jalan santai aja,” komentar seseorang.
“Diam lo!”
Aurel bangkit lalu duduk di samping musuh debat abadinya—Gilang Cahya Mahersa, abangnya.
“Gue nggak mau malu lagi gara-gara kenakalan lo,” ujar Gilang.
“Tenang. Gue nggak bakal teriak-teriak di lapangan bilang lo abang gue. Nggak ada untungnya juga.”
Aurel mengunyah roti selai kacangnya, lalu meraih kunci motor dan pergi.
“Pertahanin diri lo sebentar aja, Rel. Daripada lo jadi goblok karena nggak sekolah!”
Aurel hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.
Gerbang SMA Altamevia menjulang di depannya—sekolah kebanggaan abangnya.
Lumayan, pikirnya. Tempat baru buat… ngerusuh?
Sampai di parkiran, beberapa pasang mata tertuju padanya. Aurel tak peduli. Ia melangkah masuk ke lorong sekolah.
“Oke, Aurel. Jangan jadi monster dulu. Lo cewek,” gumamnya dalam hati sambil mencari ruang kepala sekolah.
Akhirnya ia menemukan ruangan itu dan mengetuk pintu.
“Kamu cucu Pak Darma Maheswari?” tanya Kepala Sekolah, Pak Robi.
“Iya, Pak. Saya Aurel,” jawabnya sopan sambil menunduk.
Pak Robi tampak heran.
“Katanya anak nakal… tapi sopan juga.”
“Baik, kamu masuk kelas XI IPA.”
Aurel mengangguk dan keluar mencari kelasnya.
“Assalamualaikum, Bu.”
Ketukan dari luar membuat kegiatan belajar mengajar terhenti. Bu Kirana membuka pintu dan tersenyum.
“Oh, saya sudah menunggu kamu. Silakan masuk.”
Aurel melangkah masuk. Namun langkahnya hampir terhenti saat melihat sosok yang menatapnya dengan ekspresi menyebalkan.
Kenapa gue harus sekelas sama dia?
“Baik, perkenalkan namamu,” ujar Bu Kirana.
“Selamat pagi. Perkenalkan, nama saya Aurelia Myesha M. Saya pindahan dari SMA Cakrawala.”
“M itu apa?” tanya seorang siswi.
Aurel menghela napas malas.
“Manusia.”
Seketika kelas pecah oleh tawa. Siswi yang bertanya tadi memerah wajahnya.
“Sudah, Aurel. Kamu duduk di samping Nagita.”
Seorang gadis cantik mengangkat tangan.
“Gue Nagita Alia Zein. Salken, ya.”
“Semoga lo betah duduk sama gue.”
Nagita mengerutkan kening, lalu mengangguk pelan.
“Masih aja merahasiakan nama lengkap lo, ya?”
Aurel hanya tersenyum tipis.
Permainan baru saja dimulai.

DEVANAUREL(COMPLETED)Stories to obsess over. Discover now