Prolog

23 15 13
                                        

Perkenalkan nama aku Lica Callista, sering dipanggil dengan nama Lica. Hari ini adalah hari pertama aku menjadi hakim disalah satu kantor pengadilan di Jakarta Pusat. Sebagai lulusan termuda diangkatanku, aku mendapatkan tawaran yang mungkin semua lulusan akan cemburu jika mendengarnya, yaitu bekerja di Kantor Pengadilan Pusat. Yah, itu adalah keinginan semua angkatanku yang lulus bersamaan denganku. Bahkan mereka sudah melakukan test yang memungkinkan mereka mendapatkan posisi ini, tapi aku dengan enaknya mendahului mereka karena mendapatkan nilai yang menurut rata-rata tidak memungkinkan untuk dikalahkan lagi.

Kamu tahu mengapa aku bilang aku adalah lulusan termuda diangkatanku? Yah, aku mendapatkan beasiswa untuk mempercepat studiku sehingga kalau dilihat dari umurku aku belum wisuda dan masih dalam posisi semester bawah. Teman-teman seangkatanku yang sebenarnya itu masih semester enam tetapi karena aku mendapatkan beasiswa tersebut aku bias lebih cepat dari mereka setahun.

Memang benar semuanya akan mendukung dan sekaligus berkata "enaknya jadi kamu bias cepat lulus dan langsung ditempatkan diposisi yang semua orang pasti inginkan". Dan aku sudah beberapa kali mendengar perkataan tersebut setelah aku lulus dan mendapatkan pekerjaan ini. Bahkan teman-teman seangkatanku yang sekarang masih berperang dengan skripsi. Banyak dari mereka yang berpura-pura dekat denganku supaya jikalau mereka wisuda dan bertemu denganku di sini mereka dapat lolos test masuk.

Tetapi entah mengapa hatiku masih ragu, ketika kaki ini melangkah memasuki gedung putih ini ada keraguan "apakah aku bisa menjalankan amanat yang besar ini?" Dimana kan posisinya aku adalah seorang hakim dan pasti tugas utamanya adalah membela kebenaran. Memang sebelum aku mendapatkan posisi ini, aku pernah bekerja disalah satu kantor kejaksaan. Dan di sana aku banyak menemukan hal baru yang diluar ekspetasiku tentang kebenaran, keadilan, dan kemanfaatan hukum yang aku pelajari. Banyak korban ketidakadilan yang menuntut keadilan tetap dilaksanakan, namun para pemegang kekuasaan yang mempunyai kertas yang berwarna merah dan bertuliskan seratus ribuan bisa menjadi pemenangnya di panggung pengadilan. Sedikit miris mendengarnya, namun mau bagaimana lagi itulah yang banyak terjadi dibalik cerita saat menggunakan baju kebesaran yang berwana merah dan hitam itu.

"Pagi" Aku menyapa hangat ditengah keramaian yang sesak ini untuk beberapa jam ke depan, tersenyum supaya kebahagiaan yang aku dapatkan hari ini dapat tertular untuk mereka semua.

"Pagi juga, Bu Hakim" balasan mereka untuk sapaan yang aku lontarkan tadi. Tetapi aku terdiam untuk beberapa saat "Mengapa mereka mengetahui aku seorang hakim dan mereka menyapaku dengan hangat? Bukankah hari ini hari pertama aku memasuki gedung ini?" tanyaku dalam hati. Aku heran, sepertinya hari ini adalah hari pertama aku kerja, tetapi mereka menyapaku dengan hangat, apakah mereka mengenaliku? Sejenak aku melupakan hal tersebut karena seseorang memanggilku

"Lica!!!" teriak seseorang. Dan dengan segera aku membalikan badan dan melihat sosok yang memanggilku pagi ini

"Ehhh,,, kamu mengenaliku?" tanyaku pada seseorang yang semakin lama semakin mendekat

"Iya, aku mengenalimu!!" jawabnya bersemangat. Aku melihatnya dengan seksama, sepertinya aku tidak mengenali sosok orang yang berada di depanku saat ini "Kamu siapa ya?" tanyaku polos. Dia tertawa terbahak-bahak

"Hahahah.... Iya iya aku lupa, Perkenalkan saya adalah rekan kerja satu ruangan denganmu di kantor ini"

"Terus kamu kok bisa mengenali dan mengetahui namaku?" tanyaku masih heran dengan tingkah lakunya "dan terlebih lagi aku belum memperkenalkan diriku dengan siapapun di sini kecuali ketua" sambungku. Sambil berjalan memasuki ruangan demi ruangan di kantor yang gede ini, untuk sekian lamanya aku mengetahui namanya yaitu Daniel Tataman. Dia adalah seorang hakim muda juga yang mungkin tamat tiga tahun diatasku. Dari penampilannya sepertinya dia seseorang yang tegas dan bertanggung jawab untuk tugas yang berat ini. Dan walaupun disisi lain dia mempunyai paras yang lumayan untuk seorang laki-laki yang menggunakan jas hitam bermerek dan sepertinya dia adalah seseorang yang kaya raya.

DEAR MEWhere stories live. Discover now