SATU

29 2 0
                                        

Happy Reading

***

Siang itu teramat panas sampai-sampai membuat siapapun yang bersibobrok dengan sang surya akan berpeluh dan mengipas-ngipas tubuh untuk memancing udara sejuk. Begitu pula dengan seorang gadis yang kini sedang menutupi sebagian keningnya menggunakan telapak tangan sementara tangan yang lain sibuk mengipas tanpa henti. Gadis itu menyipitkan mata sambil sedikit menunduk dan berlindung di balik badan teman sekelasnya yang menjulang, takut ketahuan tidak mengenakan topi ketika upacara berlangsung. Padahal ia ingat betul sudah memasukkan topi ke dalam tasnya, namun entah kemana terdamparnya topi itu.

"Jen, nundukkan dikit lagi, si Jimin matanya seliweran noh" Jane-gadis tak bertopi itu sontak langsung membungkuk mendengar celetukan temannya yang menyebut-nyebut nama ketua osis sekolah. Wah bisa gawat kalau sampai keciduk ketua osis somplak satu itu.

" njirr, masih seliweran ga matanya?" Jane mengintip sedikit, melihat barisan di depan sana para guru sedang berdiri sambil sesekali mengobrol sementara petugas upacara sedang membaca susunan upacara pagi ini. Beberapa meter di belakang petugas, tampak Jimin -si ketua osis somplak- tengah mengawasi peserta upacara dengan cermat. Jane menelan ludahnya yang terasa pahit, bisa gawat kalau si Jimin mulai patroli, Jane benar-benar malas dikumpulkan dan dihukum setelah upacara, ditambah ia belum menyelesaikan PR matematika karena semalam asik nge-youtube dan akhirnya malah ketiduran, mana gurunya killer dan sialnya jam pertama pulak. Holly shit, benar-benar sial.

"Bisa nggak, nggak usah nungging-nungging?" Jane menoleh cepat, tatapannya langsung tertuju pada Suga -anak baru songong- yang barusan sewot liat dia nungging dan sekarang tengah menatapnya datar. Jane benar-benar tak suka pemuda ini, selain karena kesewotan dan tampangnya yang minta ditampol, pemuda satu ini juga benar-benar terlihat menjengkelkan dan sok kecakepan. Anak baru, sombong, idup lagi. cihh. Jane menatapnya dongkol.

"Selo bisa? pantat gue kena lo juga kagak" Ucapnya tak kalah sewot. Jane memalingkan wajahnya kembali tak memedulikan Suga yang kini mengerutkan alis dan berkeinginan kuat untuk menendang pantat gadis itu.

" Jen, si Jimin patroli" Soya -teman terbaik dan teraneh yang dia punya menurutnya-memberi laporan tanda bahaya.

"duh gimana nih, tolongin dong" ucap Jane panik. Soya menoleh sedikit, menatap wajah sahabatnya yang memerah.

"mending lo kabur deh, pura-pura ke toilet sebelum dia sampe ke barisan kita" bisik Soya

"t-tapi gue gabisa ke toilet sendirian, takut.  Temenin dong yaaak" Soya memutar bola mata kesal.  Sementara Suga yang mendengar percakapan itu berdecak mengejek.

"mau gue bantu? " Jane menoleh, memandang Suga yang kini menatapnya dengan senyum miring. Heh, tumben tumbenan si kang kecakepan ini banyak omong, kemarin-kemarin aja datar kek tembok. Terpesona lo ama pantat gue? sebenarnya Jane pengen nyeletuk gitu, tapi urung karena sadar baru aja tadi nih anak ngomelin pantatnya.

"gimana?"

"Iya gue bantu, bantu panggilin Jimin" Jane melotot. Mengangkat tangannya hendak menabok pemuda itu namun terhenti karena sesuatu menimpuk kecil kepalanya. Jane menoleh ke atas dan ketika ia menyadari apa yang terjadi, pemuda yang barusan dia kata-katain sejak hari pertama dia pindah sudah hilang dari pandangannya, pemuda itu hanya memperlihatkan punggung lebarnya yang berjalan menjauh. Jane tertegun, meraba atas kepalanya, Suga ternyata meminjamkan topi untuknya.

"Ngapain upacara madep belakang? " Njirrr si Jimen udah nyampe  aja di barisannya, Jane melirik sekilas sebelum akhirnya membetulkan posisi berdirinya dengan wajah super sewot.

"maap yaa men, khilap aku tu" Ucap Jane dengan keki.

***

TBC
Gimana nih gais?
Kasih komen dan votenya yah 😊

To już koniec opublikowanych części.

⏰ Ostatnio Aktualizowane: Jun 18, 2020 ⏰

Dodaj to dzieło do Biblioteki, aby dostawać powiadomienia o nowych częściach!

CloudsOpowiadania do pokochania. Odkryj je teraz