Setelah julukan Miss Stalker, Lecture Lady, dan Miss Bridesmaid, kini ada satu lagi julukan yang diam-diam disematkan Jordan untuk Lucy: Miss Old Skool. Kesimpulan itu muncul seiring langkahnya menapaki lantai kayu tua studio Lucy, tempat perempuan itu meleburkan dirinya dalam dunia yang penuh warna—melukis.
"Silakan..."
Suara Lucy memudar begitu Jordan mulai menduduki kursi kayu tua di tengah ruangan. Bahkan saat perempuan itu mulai berbicara dengan Julia dan Noah yang duduk di seberangnya, kata-kata Lucy nyaris tak terdengar di telinga pria itu.
Maniknya tak bisa lepas dari setiap detail studio Lucy. Dinding-dindingnya dilapisi warna kuning tua dan terakota yang beradu dengan lantai kayu ek yang mulai menghitam. Di sudut ruangan terdapat sebuah easel kayu besar berdiri dengan bercak-bercak cat menghiasi permukaannya, sementara kanvas di atasnya masih kosong. Lampu gantung dengan cahaya lembut menyinari karpet tua bohemian di bawahnya.
Rak-rak di studio itu penuh botol-botol kaca berisi pigmen warna, dari yang paling cerah hingga yang paling gelap. Aroma kayu pinus dan sedikit sentuhan kayu manis perlahan menyusup ke indera Jordan. Ia menarik sudut bibirnya, mengangguk kecil seakan mengakui bahwa selera perempuan ini tak terlalu buruk.
Lucy mendorong papan tulis di hadapannya, menarik perhatian Jordan dengan deretan acara yang tertulis di sana. Pria itu kontan mendelik.
Perempuan itu merapikan tirai rambutnya yang terurai. "Oke jadi... Aku udah siapin serangkaian acara penting sebelum pernikahan." Setelah menepuk kedua tangannya, ia mengambil spidol dan mulai menulis di papan tulis.
"Serangkaian acara sebelum hari h pernikahan ada Bridal Shower, Pre-Wedding Family Retreat, Multi-day Bachelorette and Bachelor Part—
"Bentar, bentar, kenapa banyak acara yang nggak penting sih?" Jordan menginterupsi Lucy dengan nada protes, alisnya terangkat, menatap perempuan yang dagunya menantang.
"I mean— Pre-Wedding Family Retreat? Multi-day Bachelorette and Bachelor Parties?? That's too much! Not everyone can invest so much time!" lanjutnya.
Julia yang sejak tadi memperhatikan, mulai merasa sedikit ragu. "Lucy... Ini kayaknya banyak banget deh. Aku takut ini malah bikin ribet terus nguras banyak energi."
Jordan menjentikkan jarinya. "Kan! Pengantinnya aja bilang kalo ini ribet."
Lucy lantas melirik Jordan tajam, matanya terotasi jengah. "Julia, kamu cuma nikah sekali, dan setiap momennya wajib kita rayain. Just a heads up, your parents were very specific about me handling all the wedding details for their only daughter."
"Lucy bener." Noah menyahut, menyita atensi ketiganya. "Sekali seumur hidup 'kan? Aku yakin Papa sama Mama juga pasti bakal setuju. Lagian kan itu acaranya buat keluarga juga."
Pipi Lucy mengembang, kepalanya mengangguk seraya melirik Jordan—seakan berkata Lo liat 'kan?
Julia meraih tangan Noah sedikit khawatir. "Kamu serius?"
Noah tersenyum tipis menepuk punggung tangan Julia. "Iya, nggak masalah."
Melihat temannya yang tampak terjerumus rencana-rencana tidak penting Lucy, Jordan menatap perempuan itu penuh kekesalan. "What were you thinking? This is way too much!"
Lucy berbalik dan menatap Jordan, menarik dagunya dengan gestur menantang. "Of course it's all important! Julia itu anak semata wayang, dan pernikahan ini harus unforgettable. The family is looking for perfection, and guess who they put in control? Me!"
Jordan termenung sejenak, alis tebalnya masih saling bertautan. Sementara Lucy menatapnya dengan seringai tipis. "Kalau emang nggak sanggup support segala acaranya dari awal ya mending mundur aja. I've told ya, being Best Man ain't just about standing next to the groom at the wedding."
KAMU SEDANG MEMBACA
Wedding Bells & Courtroom Spells
ChickLitJordan Elliot, seorang pengacara so-called rational yang skeptis terhadap cinta dan pernikahan tiba-tiba diminta menjadi Best Man dan bekerja sama dengan Maid of Honor bernama Lucy Jane, seniman idealis yang sangat percaya dengan cinta dan romantism...
