The Begining

10 0 0
                                        

Seorang mahasiswi baru sebuah universitas berjalan tergesa menuju kontrakan barunya. Sudah 1 minggu dia tinggal di perantauan. Sejak pertama dia datang ke kota ini dan memutuskan untuk tinggal bersama 2 orang temannya yang menawarkan untuk mengontrak rumah bersama. Setiap hari dia harus melewati jalan kecil ditengah sawah yang menjadi jalan pintas antara kampus dan kontrakan.

Sebenarnya ada jalan lain yang lebih ramai dibandingkan jalan itu, tapi karena jalan lain harus melewati jalur yang lebih jauh, dia memilih melewati sawah-sawah. Memang cukup aneh, di tengah padatnya bangunan yang ada di kota itu masih ada sawah yang cukup luas. 'Sawah ini ada sampe 10 hektar luasnya.'

Dan yang paling aneh ada sebuah rumah cukup besar berada di pertengahan sawah. Rumah itu berdiri kokoh, tanpa pagar dengan rumput yang tumbuh hingga sepinggang. Tanaman-tanaman dalam pot tak terawat hingga menyisakan pot-pot kosong berserakan.

Selalu ada cerita-cerita tak mengenakkan tentang rumah itu. Ada yang mengatakan rumah itu milik pembunuh berantai, milik dukun santet, rumah pesugihan, dan banyak lagi. Tapi cerita yang paling banyak dipercaya adalah pemilik rumah menjadi korban perampokan dan semua anggota keluarganya terbunuh. 4 mayat ditemukan seminggu setelah kejadian oleh pengirim paket. Tidak ada yang tahu bagaimana tepatnya mereka dibunuh karena rumah mereka memang jauh dari keramaian, dan mereka sekeluarga termasuk orang-orang antisosial.

Mahasiswi itu bernama Putri, dia biasanya melewati jalan kecil itu dengan kedua temannya. Tapi khusus hari ini, dia mendapat hukuman dari seniornya hingga harus pulang lebih larut. Sebuah tradisi kampus, saat ada mahasiswa baru datang maka senior akan berusaha mengenalkan kehidupan kampus dengan berbagai cara. Entah itu dengan cara baik-baik, unik, keras, dan lainnya.

"Tolong. Tolong aku.."

Putri menghentikan langkah kakinya, seolah ada tangan-tangan yang membuatnya tidak bisa bergerak. Tanpa sadar dia menatap langsung kejendela utama yang ada di rumah itu. Yang dia lihat setelah berkedip adalah sepasang mata tanpa ada wajah. Nyawanya seperti di tarik, hingga dia jatuh terjengkang ke belakang saking shock-nya.

"Gila!" Ucapnya kemudian. Lalu semua tubuhnya bisa dia kendalikan lagi. Secepat kilat dia berdiri dan pergi dari tempat itu.

Sesampainya di kontrakan, Putri langsung masuk kamar tanpa menyapa kedua temannya yang masih asyik menonton tv di ruang tamu.

"Put? Lu kenapa?" teriak kedua temannya hampir bersamaan. Karena tidak ada jawaban, mereka menatap satu sama lain dan kembali menonton tv.

Keesokan harinya, Putri sudah siap dengan pakaian khas mahasiswa baru. Baju hitam putih, pita warna-warni untuk mengikat rambut, nametag, dan tas. Jantungnya masih tidak bisa berhenti berdetak lebih cepat. Seluruh tubuhnya merinding mengingat kejadian kemarin. Rasanya dia ingin izin tidak berangkat untuk hari ini.

"Puutt, mau bareng ngga?" mendengar panggilan temannya, dia segera keluar kamar. Mencoba melupakan pikiran-pikiran buruk yang ada di otaknya.

"Lu kemaren kenapa sih?" Laras, salah satu temannya bertanya ditengah perjalanan. Pertanyaan itu juga mengundang rasa penasaran Dita, temannya yang lain.

"Kemaren gue ngerasa ada yang manggil pas lewat rumah itu." Ucap Putri sambil menunjuk rumah kosong yang ada di tengah sawah. Sontak kedua temannya langsung mengalihkan pandangan. Ada rasa takut yang terlihat di wajah mereka saat melihat rumah itu.

"Serius? Lu ngga ngehalu kan?" kali ini Dita bertanya.

"Ngga gila! Gue ngerasa diawasi, mana sepi banget."

"Mendingan kalo besok-besok kudu pulang sendiri, minta ditemenin orang deh. Lu minta anterin pulang siapa gitu, biar ngga jalan sendirian."

"Iya gue juga gamau lagi."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 02, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Help MeStories to obsess over. Discover now