Stella beberapa kali harus membenarkan letak kacamata hitam yang bertengger di wajah cantiknya, pandangannya fokus pada sepasang sejoli yang terlihat di mabuk asmara di bangku nomor tujuh.
"Laki laki brengsek," umpatnya.
Benda pipih di dalam tas puluhan juta yang ia letakkan di mejanya bergetar panjang, membuat Stella mengalihkan sejenak pandangan tajamnya pada laki laki yang tak lain ialah kekasihnya sendiri.
Layar memunculkan panggilan telpon dari Daddy-nya. Dengan malas perempuan cantik itu menggeser bulatan hijau di layar.
"Apa lagi?" Desahnya, pasalnya Daddy kesayangannya itu sudah dua puluh kali menghubungi Stella untuk pulang sekarang juga.
"Kamu dimana? Kan udah Daddy bilang, pulang sekarang."
Bola matanya berputar malas, "Aku lagi ada penyelidikan penting, Dad. Dua jam lagi aku pulang."
"Stella kam--"
Bip. Telpon di tutup sebelah pihak oleh Stella.
Matanya membulat, ketika kekasihnya itu mengangkat kotak cincin berlian ke hadapan perempuan di hadapannya dengan senyum sumringah.
Tak tinggal diam, tas yang tergeletak di meja langsung di sambar untuk ikut langkahnya menuju dua manusia lawan jenis itu.
Byuuurrr...
Segelas jus jeruk habis di tuang ke laki laki yang dengan bangga membuka kotak cincin ke gadis di hadapannya. Stella tertawa menatap gelagat malu bukan main yang di pancarkan kekasihnya, Daniel.
"Gini ya kelakuan kamu di belakang aku?" Tangan Stella menarik kuat kerah baju Daniel.
Daniel mencoba melepas kasar cengkraman Stella, "Lepasin, Stel. Kita udahan, aku muak sama tingkah kamu yang sok ngatur hidup aku."
Stella melepas cengkeramannya, ia menatap tajam Daniel. "Aku lebih muak sama kamu yang tukang selingkuh."
"Udah tau aku tukang selingkuh, tapi kamu masih mau maunya aku ajak balikan. Kamu itu nggak laku? Atau cinta kamu udah mentok ke aku? Haa?"
Kedua mata Stella memanas, "Mulai detik ini, anggap aja kamu nggak pernah kenal aku."
"Fine," ujar Daniel, dengan senyum miringnya.
Stella yang sudah kepalang patah hati kedua kali mencoba meredam amarahnya, ia bergegas menuju mobil mewah yang terparkir rapi di halaman kafe milik sahabat karibnya yang juga berkarier model, Cecillia Adeline.
Sebelum benar benar melajukan mobilnya, Stella masih sempat melihat kearah Daniel dan pacar barunya. Mereka masih melanjutkan aksi memasang cincin di jari manis sang perempuan, seakan kedatangan Stella tadi tak berarti apa apa.
Sudah dua tiga ia memergoki Daniel selingkuh, tapi bodohnya ia dulu percaya jika Daniel bisa berubah. Bulan ini harusnya ia dan Daniel berlibur ke Bali, karena Daniel hanya pulang ke Indonesia tiga bulan sekali.
Susah bagi Stella menjalani LDR dengan Daniel, setiap detik ia di hantui rasa cemas dengan tingkah Daniel yang senang main api di belakang. Bahkan tak segan Stella merogoh kocek hanya untuk menemui Daniel yang tengah menempuh pendidikan di Melbourne, walaupun di sana Stella juga tak di sambut baik oleh Daniel.
Stella membelokkan mobilnya ke pekarangan rumahnya, rumah mewah berharga milyaran yang bertempat di pusat kota. Bahkan ia juga punya beberapa apartemen mewah yang di fasilitasi Daddy-nya, tapi tetap saja ia masih senang tinggal bersama kedua orang tuanya.
"Stella pulang," ucap Stella dengan malas.
Stella mengehentikan langkah kakinya yang berselimutkan heels tinggi, ia bergeming menatap ruang tamu ada beberapa orang asing yang sekarang menatapnya lekat.
YOU ARE READING
Soul Handler
Teen FictionSpin off - Hello, My Destiny. Memuat tentang kisah kasih Galang dan Stella, yang mengaku cinta walau dalam hati berbeda. --- Bagaimana bisa seseorang datang dengan sangat tepat, disaat salah satunya begitu ra...
