Brak ... pintu di tendang suamiku.
"Dasar kau wanita jalang!!" Teriak suamiku.
Aku menoleh ke arahnya yang datang tergopoh-gopoh dengan muka bengis dan mata merah melotot menghampiriku.
Plak ... Tamparan keras mendarat di wajahku tanpa dapat kuelakkan.
Sementara tanganku baru saja membalik ikan kembung di penggorengan. Dan api kompor tentu sedang menyala.
"Ada apa, Bang? Kok, tiba-tiba saja memukulku?" Aku segera mematikan api kompor dan meniriskan ikan yang belum matang sempurna.
"Enak saja kau kirim-kirim uang ke laki-laki lain, tanpa sepengetahuanku, apa maksudmu?!" Teriak suamiku lagi.
Bug ... bug ... bug
Bertubi-tubi ia mengarahkan tinjunya ke tubuhku. Aku menjerit kesakitan. Aku tak mengerti apa yang dikatakannya, namun ia tak memberi kesempatan aku untuk memahaminya. Ia terus memukulku kalap.
"Sabar ... Bang!! Ada apa? Kenapa Abang datang-datang memukul Adek? Salah Adek apa?" Teriakku kesakitan, sembari mengelak dari tangannya yang hendak mendarat di wajahku lagi.
Hup ... aku menangkap tangannya sepenuh tenaga. Sehingga sempat membuatnya tersentak, Ialu kian beringas melayangkan tangannya ke arah tubuhku tanpa ampun.
Aku berusaha menghindari pukulan itu dan berlari sekencang-kencangnya keluar rumah.
"Tolong ... tolong ... !!!" Teriakku.
Bug ... bug ... bug
"Sakit, Bang!!! Tolong!!!" Teriakku, sekeras-kerasnya, sesaat kaki itu berhasil membuatku tersungkur tepat di halaman rumahku.
"Perempuan jalang, bedebah kau ...!"
Kaki itu akan menerjang keras ke tubuhku lagi, jika saja Kang Hadi tetanggaku tak menghalanginya. Aku berlari terseok masuk kerumahnya Kang Hadi sembari menangis histeris.
"Ada apa ini? Sadar kamu Don! Dia istrimu ... "
Kang Hadi bertolak pinggang lari ke depan pintu rumahnya, menghadang Bang Doni yang hendak menyusulku ke dalam.
Sesampainya di dalam, sekali lagi aku tersungkur menahan kesakitan di hadapan Teh Asti, istrinya Kang Hadi. Teh Asti meraih tubuhku dan menuntunku ke sofa.
"Minggir kalian ... jangan menghalangiku!!" Teriak Bang Doni yang hendak menerobos ke dalam rumah.
"Ini rumahku, dan aku tidak mengizinkan kamu masuk!!" Ucap Kang Hadi Tegas.
"Wita itu istriku ... Dia sudah bermain api di belakangku. Sekarang kau minggir!!" Tangannya kasar mendorong tubuh Kang Hadi, tapi Kang Hadi tak bergeming dari tempatnya. Bahkan mendorong keluar, tubuhnya Bang Doni
"Kamu laki-laki jangan asal bicara dan main kasar dengan wanita sekalipun itu istrimu," ucapan tegas Kang Hadi dengan mencengkeram kerah kemeja lengan pendek yang dikenakan Bang Doni lalu mendorongnya lagi. Sontak membuat Bang Doni oleng.
"Kau mau ikut campur urusan rumah tangga orang, hah ...?" Teriak Bang Doni yang mencoba berdiri tegak kembali.
"Tidak, tapi saya tidak ingin melihat siapapun menganiaya perempuan, meskipun kamu suaminya."
Bang Doni seperti kesetanan tetap ingin mengejarku ke dalam. Ia tak menghiraukan ucapan Kang Hadi. Tetap keukeuh berusaha menerobos kedalam. Hingga berkali-kali Kang Hadi mendorong tubuhnya keluar.
Mendengar kebisingan yang memecahkan kesunyian di senja hari ini. Membuat tetanggaku ramai berdatangan dan melerai, mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
Tak terkecuali Pak RT kami pun datang menengahi, "ada apa ini Pak Doni ... Pak Hadi? Ayolah, kita selesaikan masalah dengan kepala dingin, gak harus pakai otot'kan?" Ucap Pak RT yang nampaknya kurang tepat menganalisa keadaan.
YOU ARE READING
Transfer
General FictionSuamiku kalap, saat melihat ada SMS di ponselku yang meminta aku mengirim uang ke rekening tersebut. Parahnya rekening tersebut atas nama Haryanto, teman tapi saingan suami di masa kecil. Aku yang belum sempat melihat SMS itu, tetiba saja jadi bulan...
