Kasurdin

4 1 0
                                        

Kasurdin

Sejak, kasurdin memutuskan untuk ikut kelas menulis daring yang di gagas oleh seorang penulis tersohor, ia tak pernah lagi muncul. Konon, lelaki bertubuh pendek dan gempal itu berubah menjadi demit yang kerap meneror para anggota grup. Begitu komentar salah satu anggota saat ada yang bertanya.

***

Kasurdin geram, entah sudah sudah berapa kali ia mengirim cerpen ke media, tapi tak ada satupun yang berhasil dimuat. Mulai dari media nasional sampai lokal, semua menolak mentah-mentah karya yang Karsudin kirim.

"Tulisan sampah!" Begitu komentar salah saru redaktur koran yang ia kirimi cerpen.

"Sialan! Dasar Redaktur goblok," umpat lelaki bertubuh pendek itu kesal, sambil menghapus email dari redaktur itu.

Sejak saat itu, ia memutuskan berhenti menulis.

***

Seorang penulis tersohor di kampung Demit, mengadakan kuliah menulis daring yang diperuntukkan bagi kalangan pemula secara gratis. Sontak, niat baik itu langsung mendapat sambutan hangat dari para penulis pemula.

Kabar baik itu pun sampai ke telinga Kasurdin. Gairah menulisnya yang lama membeku perlahan mencair. Api di dada lelaki bertubuh gempal itu kembali berkobar.

Tanpa pikir panjang, ia langsung mengklik tautan grup kepenulisan daring yang di sebar melalui media sosial. Gua pasti bakal jadi penulis hebat! Gumam lelaki itu dengan penuh keyakinan.

***

Hari pertama kuliah kepenulisan daring berjalan lancar, semua anggota aktif berdiskusi. Hanya satu-dua yang pasif dengan alasan sibuk.

Sampai sesuatu terjadi di hari ke enam, saat sang penulis tersohor mengabsen satu-persatu para anggota untuk di data dan siapa yang tak mengerjakan tugas.
Sesampainya di abjad k, kening penulis tersohor itu berkerut. Betapa tidak, ada satu nama yang tidak terdaftar di kelasnya. Nama itu ialah nama Kasurdin.

"Kasurdin itu siapa ya? Kok namanya belum terdata," tanya sang penulis kepada para anggota grup.

"Nggak tahu Pak," jawab salah satu anggota.

Sang penulis yang masih heran, terus meneliti nama para anggota grup. Saat sedang asyik-masyuk meneliti, tiba-tiba hpnya terasa panas lalu mengepulkan asap.

"Jangan-jangan hpnya rusak lagi," gumam sang penulis pelan.

Saat sedang membolak-balikan hpnya untuk memastikan bagian mana yang rusak, tiba-tiba ada sesuatu yang menyembul keluar. Sontak, membuat ia tergeragap. Napasnya mulai kembang-kempis.

"Siapa kau?" Tanyanya panik. Raut mukanya merah padam. Napasnya terasa sesak.

"Mungkin kau lupa siapa aku, tapi aku tak pernah lupa siapa kau, bajingan!"

"Mm.. mmau.. aapa kau," sahut sang penulis gelagapan.

"Kau harus mati di tanganku," ujar sosok bayangan putih itu. Sorot matanya tajam menatap seseorang di hadapannya.

"Ampun! Jangan bunuh saya, saya tak punya salah denganmu."

Mendengar itu, Kasurdin makin geram, "Tak punya salah katamu, hah?!"

Kasurdin mencekik leher sang penulis, "Tulisan sampah! Kau pasti ingat kalimat itu."

"Jadi itu kau," jawab sang penulis terbata. Napasnya kian berat.

"Ya itu aku."

Belum sempat sang penulis menyahut, aliran darahnya telah berhenti. Degup jantungnya tak lagi terdengar.

Karsudin tersenyum puas, lalu meninggalkan sepotong tubuh yang tak lagi berdenyut itu sendirian. Esok harinya, media mendadak gempar, dengan meninggalnya penulis tersohor sekaligus redaktur sebuah koran nasional bernama Kasurdin bin Goblok.

KasurdinWhere stories live. Discover now