Suatu malam dimana mama menyuruhku untuk hadir pada pertemuan yang bisa dibilang sangat tidak penting itu karena dia ada janji dengan teman kantornya, dasar sosialita.
Bagaimanapun aku harus menyetujui dan menghadirinya, tak jauh dari rumahku hanya terpisah oleh gang yang membagi nomor-nomor pada rumah yang berdiri di atas tanah perumahan ini.
Aku mengetok pintu permisi….. hening tidak ada jawaban
hm kurasa kurang keras tok tok tok PERMISIIIII heningg tidak ada jawaban lagi hmm sabar regina keep slowly janji ini terkahir ku hirup nafas dalam-dalam dan mulai mengetok pintu rumah itu lagi PERRMIIISIIIIIIII
okay aku di abaikan !
aku menggerutu dan memutar badan melangkahkan kaki untuk pulang karena semua ini tidak penting. Tetap dengan hati yang kesal aku mengoceh sendiri “ dasar mama, dasar mama “ aku melangkahkan kaki lebar lebar karena ingin segera sampai di rumah tiba tiba ada suara dari atas rumah itu
“ mama ? “
aku terdiam dan menengok ke balkon rumah itu ada seorang lelaki cukup muda dengan tampang serius menatap ku, dia melanjutkan perkataannya
"oh kamu anak dari nyonya stefanny"
aku terdiam dan membalas tatapan seriusnya dan berfikir dia dukun atau selingkuhan mama ku bisa dengan cepat mengenaliku.
Ku balas dengan suara lantang juga
"iyaa, saya tadi ingin menghadiri pertemuan yang biasa dihadiri ibuku karena beliau tidak dapat hadir"
"memang hari ini ada pertemuan tapi tidak di rumah ku, kaum orang tua itu telah mengatur tempatnya karena di rumah ku terlalu sempit"
aku tersenyum dan kembali menggerutu dalam hati BANGSAD !!
"terima kasih informasinya maaf atas ketidak sopanan saya mengetuk pintu rumah anda malam-malam begini"
dia hanya tersenyum dan aku melanjutkan perkataan ku
"saya permisi maaf sekali lagi, lalu aku membalikan badan dan berjalan untuk meninggalkan rumah itu agar rasa malu ku lebih reda"
"kau boleh mampir sebentar untuk mengetahui sedikit informasi, karena aku tadi tidak sengaja mendengar percakapan ibuku di telephone"
dan untuk kedua kalinya aku terdiam dan berpikir mampir tidak mampir tidak mampir tidak, hm mampir aja siapa tau informasinya penting jadi perjuangan ku untuk mandi, berdandan, dan berjalan kesini tidak sia-sia.
********
Dia membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan aku masuk, duduk dulu akan ku buatkan minum terima kasih ucapku.
Aku melihat sekeliling ruang tamu rumah pria itu hmm orang rich dengan gaya arsitektur minimalis yang dipadupadankan dengan warna putih, coklat muda dan coklat tua NYAMAN.
"Aku hanya bisa membuat kopi hangat jika kau tidak suka kau bisa membuat minuman sendiri"
"Saya suka kopi juga hehe terima kasih…."
Panggil devan aja biar nggak canggung sembari mengulurkan tangannya regina ucapku dengan membalas mengulurkan tanganku agar sopan Karena dia telah berbaik hati mengijinkan ku mampir dan membuatkan kopi. Hening tidak ada percakapan setelah itu, ku teguk kopi dengan perlahan eehhh kok enak dalam hatiku memuji, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya
Dari pertemuan kali ini memangnya apa yang kau tau ? dia hanya diam menatapku
Apakah ada yang penting ? dia tetap diam
YOU ARE READING
All the Regrets
Short StoryJika memang bukan aku, tak sepantasnya kau hadir memberi lukisan kenangan yang begitu hebat ~
