"Apa yang kau inginkan untuk hidupmu?"
Saat orang lain mempertanyakan hal semacam itu padaku, aku hanya akan membalasnya dengan berkata, "aku tidak tahu." Jawaban itu bukan karena aku mengabaikan kehidupan, melainkan untuk menegaskan bahwa aku tidak ingin terjebak hanya dalam satu harapan, seperti "aku ingin menjadi X" atau "aku ingin mendapatkan Y." Satu gagasan saja tidak cukup bagiku, aku butuh lebih banyak. Aku tidak menetapkan hidup hanya pada satu pengharapan saja, karena aku merasa akan selalu menemukan kemungkinan dan kesempatan lain dalam hidup ini.
Aku sudah tidak lagi terobsesi akan masa depan yang kurancang sesempurna mungkin di pikiranku, yang menjadi fantasi khayalanku tiap malam, dan yang membuatku lupa memberi atensi pada masa sekarang. Karena aku sadar sekompleks apa pun harapan yang aku tetapkan untuk masa depan, pada akhirnya bukan aku yang akan menetapkan apakah harapan itu akan menjadi nyata atau tidak. Aku pun sudah membuat banyak kemungkinan untuk masa depanku, kemungkinan untuk harapanku yang mungkin tidak akan menjadi nyata. Bukannya aku pasrah, tapi aku yakin kemana pun takdir membawaku pergi, aku akan selalu punya kesempatan untuk bahagia walaupun dengan cara yang sederhana.
Mencoba untuk mengabaikan kata-kata di kanan kiriku, aku mencoba melangkah maju. Melupakan segala kesakitan di masa yang lalu dan tidak menaruh harapan yang berlebihan pada masa depan. Entahlah masa depan akan jadi seperti apa, aku hanya akan fokus pada masa sekarang, mengenali peluang-peluang yang ada dan memanfaatkannya untuk menciptakan masa depan yang indah. Lagi pula masa depan yang dulu selalu aku impkan tidak akan hadir tanpa melewati masa sekarang, masa dimana semua rasa dan kesan terasa nyata.
ESTÁS LEYENDO
Something in My Mind
No FicciónMy personal feeling, value, and minds about everything in this world
