.
.
Brug.. brug.. brugg…!!!
Hanya terdengar suara dentuman bola basket yang memenuhi ruangan seolah keramaian enggan tuk mengusik. Bahkan waktupun tak menghentikan langkahnya tuk berlari, sesekali terdengar suara pekiknya yang pelan “Sial...” ucapannya setiap kali ia gagal memasukkan bola ke dalam ring.
Senja mungkin telah hadir menggenggam mega, mentaripun mulai turun berpamit perlahan sebagai tanda tugasnya hari ini telah usai. Bersama kepakan sayap burung kecil mencari tempat tuk bernaung dari malam yang akan menjemput, seolah badai akan datang. Siapa yang tahu! badai atau pun kehangatan yang akan datang namun sesuatu yang pasti, sesuatu akan tercipta bersama dengan aliran cerita.
“Nona, ini sudah sore apakah kau tidak ingin pulang? Aku akan menutup studio ini” teriak seorang satpam dari ujung studio itu
“Baiklah” jawab gadis itu singkat sambil mengemasi barang miliknya. Seperti biasa setiap hari selasa, dan jum’at dia selalu ke tempat ini tapi jangan tanya kenapa harus hari itu saja, entahlah akupun tak tahu lain kali kita tanyakan saja kepadanya.
Gadis ini berjalan menyusuri jalan dengan sesekali memainkan bola basket ditanganya, ia berjalan terus mengabaikan jalanan yang sedang ramai berlalu lalangnya kendaraan. Kakinya berhenti di sebuah taman, dan dia duduk di kursi panjang biasa tempat dia duduk. Setelah beberapa waktu dia mulai resah dengan sesekali melihat jam yang berada ditangannya, dia menggerutu diri sendiri. Matanya tertuju pada sepasang kekasih yang sedang bercanda sambil makan es krim di taman tak jauh dari dia duduk dalam hatinya dia berdesis tidak meyukainya. Tak lama kemudian,
“Hai, sayang…! Maaf ya Ayah terlambat” peluk sang Ayah dari belakang dengan sedikit menghibur putrinya yang terlihat sedang kesal karena menunggunya terlalu lama. “Maaf..” pinta sang Ayah dengan wajah melas.
“Ayah tahu nggak sih, aku juga sedang sibuk. Aku jadi kehilangan waktu untuk melakukan hal yang berguna hari ini karena Ayah” ia tetap saja memanyunkan bibir kecilnya.
“Iya deh maaf. Putri Ayah ini sibuk sekali ya? Sibuk ngapain sih?” goda sang Ayah dengan mencoel hidung putrinya “Kamu habis ngapain sih? Kog bau asem. Habis main basket atau ngapain, hayo! Ngapain kamu liatin mereka yang pacaran, atau jangan-jangan kamu iri ya sama mereka?” candaan dari sang Ayah sangat membuatnya risih.
“Apaan sich udah ah pulang” sang anak melangkah lebih dulu dari Ayahnya
Dengan senyuman sang Ayah yang masih berdiri didepan kursi panjang “Tunggu Ayah Freya!”
Freya Azahra Anggara, itulah namanya gadis berusia 17 tahun yang notabennya bersikap dingin dan acuh namun baik. Dia hidup berdua dengan sang Ayah, Firza Anggara seorang pengusaha yang sukses dan kariernya naik akhir-akhir ini. Ibu Freya pergi meninggalkan sang Ayah saat usianya masih 5 tahun, ibunya pergi tanpa kabar hingga sekarang sang Ayah pun enggan memberitahukan alasannya biasanya dia hanya menjawab “Ibumu terlalu sayang sama kamu makanya sekarang pergi, kalau nanti dia kembali kita syukuri tapi kalau tidak kamu doakan saja” itulah yang selalu dibilang oleh sang Ayah dan Freya hanya mengiyakan saja seolah mengerti padahal dihatinya ada banyak pertanyaan namun ia enggan tuk bertanya tak inggin membuat Ayahnya kuatir.
Dalam kehidupan Freya tiada lagi yang tersisa selain sang Ayah, baginya hanya Ayahnyalah yang pantas untuk seluruh cinta didunia ini. Tapi siapa yang tahu bila setiap saat dia masih berharap dengan penuh doa suatu saat dalam hidupnya akan ada seorang pria yang akan mencintainya seperti sang Ayah.
YOU ARE READING
LEPASKAN
Teen Fiction"Setiap manusia memiliki batasan, diriku cukup tahu dimana batasan ku untuk mencintaimu" - Freya Azahra Anggara, "Untuk mencintai memerlukan proses dan panjang, namun saat waktu itu hadir engkau sudah enggan tuk menunggu ku. Tidak adakah waktu untuk...
