Dont Flirt

286 29 25
                                        


D-77 

"Ngomong-ngomong, kau sudah bisa melepas tanganku," kata Seulgi.

Seung Hoon memandang tangannya yang masih menggenggam pergelangan tangan Seulgi. Ia berdeham, lalu berkata, "Kupikir kau lebih suka begitu," ucapnya santai.

"Sepertinya kau yang menikmati," jawab Seulgi.

"Kau tidak?" balas Seung Hoon langsung dengan wajah polos.

"Lee Seung Hoon-ssi!" kata Seulgi.

"Sepertinya kita sudah pernah membicarakan ini," kata Seung Hoon sembari mengingat-ingat. "Jelas aku mengizinkanmu memanggilku oppa sekalipun di balik layar."

"Memohon, tepatnya," jawab Seulgi sambil menyeringai.

"Ah, kau memohon untuk bisa memanggilku oppa?" balas Seung Hoon pura-pura tidak mengerti.

"Lee Seung Hoon-ssi!" kata Seulgi lagi dengan nada tegas yang jelas gagal.

Seung Hoon hanya menyeringai penuh kemenangan.

"Kupikir kau membawa mobilmu sendiri," kata Seulgi mengalihkan pembicaraan. "Apakah kita akan menunggu di dalam sana?" tanyanya ragu sembari memandang van hitam itu.

"Kau boleh tetap berdiri di sini kalau mau," jawab Seung Hoon sambil mengedikkan bahu. "Tapi kalau aku jadi kau, aku akan ikut masuk ke dalam."

"Apakah supirmu juga akan ada di sana?" tanya Seulgi memastikan.

"Tentu saja," jawab Seung Hoon. Ia lalu menyeringai sambil berkata, "Wah, Seulgi-ssi, aku tidak tahu kalau kau lebih nyaman berdua saja denganku."

Seung Hoon sudah jelas lebih senang mempermainkan Seulgi sehingga dapat melihat wanita itu salah tingkah di balik ekspresi galaknya.

"Bukan begitu," jawab Seulgi masih salah tingkah. "Hanya saja kalau seseorang melihat kita masuk mobil berdua seperti ini akan timbul gosip bahwa kita sedang berkencan."

"Jadi, kau lebih memilih menunggu di sini ya?" kata Seung Hoon sembari berpura-pura melihat sekeliling. Lalu berkata dengan nada ceria, "Kalau kau memang lebih suka menunggu di luar mobil, aku akan meninggalkanmu sekarang."

Seulgi mendengus kesal, lalu berkata, "Kau tidak pernah berkencan ya?"

"Tidak," jawab Seung Hoon santai. "Kau yang sepertinya sangat paham mengenai hal itu," katanya telak.

Seulgi hendak membantah tapi ucapannya harus terhenti karena ponselnya berbunyi. Ia mengernyit sejenak memandang nama yang muncul di layar ponselnya.

"Aku harus menjawab telepon ini secara pribadi," kata Seulgi berubah serius. "Bisakah kau menunggu di luar selama aku menjawab telepon ini? Aku janji tidak akan lama," pintanya.

"Ya, baiklah," jawab Seung Hoon. Ia mengalah karena mendengar kebutuhan mendesak dari wanita itu. "Aku juga akan menyuruh supir kami menunggu di luar."

Seulgi mengucap terima kasih sekilas lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Seung Hoon yang berbaik hati menutup rapat pintu mobil, lalu berbalik arah.


Seung Hoon merasa aneh mendengar nada suara Seulgi ketika mengucapkan permintaan untuk ditinggal sendirian olehnya. Biasanya wanita itu selalu menampakkan ketangguhannya. Namun, entah mengapa, sesaat tadi ia sempat merasa wanita itu menunjukkan sisinya yang lain. Ekspresi itu hanya terlihat selama beberapa detik ketika wanita itu memandangi layar ponselnya, tapi dalam sekian detik itu ia merasa cukup memahami kegalauan wanita itu.

SerenadeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang