Melbourne, Australia
February 8, 2030
Helaian daun berwarna old gray berjatuhan, menandakan musim gugur telah menyapa. Disisi kiri lapangan, diatas rerumputan hijau terpotong rapi, terlihat beberapa gadis kecil bermain dengan bonekanya disertai tawa. Beberapa remaja, dewasa, hingga orang tua tampak ikut memadati tempat itu dengan suka cita. Tak terkecuali hewan peliharaan yang tampak semangat bermain bersama pemiliknya. Taman kota yang berhiaskan danau kecil ini menjadi tempat melepas penat bagi banyak orang dikota ini. Matahari bersinar terik seakan turut bahagia melihat keceriaan orang-orang ditempat itu.
Tak ada yang peduli. Bahkan alam pun enggan. Dia menyadarinya. Dia seolah berada di alam berbeda, namun dalam dimensi yang sama.
"Aunty, are you okay?"
Wanita itu membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Tampak seorang bocah laki-laki pirang bermata biru tengah menatapnya menunggu jawaban.
Sebuah senyum tipis, namun masih bisa dilihat oleh bocah itu terukir.
"Everything's okay, Joe." Jawabnya sambil membungkuk mengacak gemas rambut ikal bocah yang dipanggilnya Joe.
"Joe, what are you doing? Come over here!"
Selalu seperti itu. Tidak ada ibu yang akan membiarkan anaknya berdekatan dengan wanita aneh sepertinya. Dia akan mengerti dan itu wajar.
Joe tampak merengut. "I'll be back, Yuki. Love you."
"Love you too."
Wanita itu bergumam sambil menatap Joe yang tengah berlari menyusul ibunya.
Dia menghembus napas berat lantas kembali memandang jauh ketengah danau yang dipenuhi angsa putih yang begitu indah. Namun keindahan itu tak dapat merubah apapun, bahkan pandangannya yang selalu kosong dan rapuh.
Yuki Phoroelene. Gadis keturunan Rusia-Jepang itu sudah tak ingat lagi rasanya bahagia. Dia telah lama hancur bersama cintanya.
YOU ARE READING
Little Does He Know
Teen Fiction"I just want to save you."bisiknya ditelinga gadis itu. Senyum bertabur luka tergaris di wajah pucatnya. Tangannya yang lemah mencoba menggenggam erat tangan Al yg berada disampingnya. Mereka tenggelam dalam harapan semu.
