1. Hujan

14 2 0
                                        

     Diluar hujan begitu deras. Aku mengamati anak-anak bermain hujan-hujanan dari dalam kamar. Melalui kaca jendela yang berkabut. Riang mereka berlarian kesana kemari. Tak mempedulikan dinginnya air hujan yg jatuh menyentuh tubuh telanjang mereka. Mereka bahagia. Syukurlah.

    Aku turut bahagia mereka bisa tertawa selepas itu. Bercanda dibawah rinai hujan. Bercanda khas anak-anak. Walau hanya untuk berebut bola plastik yang tidak lagi baru. Tak terasa bulir lembut keluar dari sudut mata. Ah, masa kecilku tidak sebahagia mereka.

    Namaku Kinara Nafisha...

    Sudah tiga puluh menit berlalu tidak ada tanda-tanda hujan akan mereda. Anak-anak masih betah bermain di tengah jalan yang aspalnya mulai tergenang air. Selokan dikanan kiri jalan tak mampu menampung air hujan yang sedari tadi menderas.

     "Bunda, gak capek apa berdiri disitu terus?" Suara Mas Ghandi mengagetkanku. Aku menoleh, lalu tersenyum. Tanpa memberi jawaban. Mas Ghandi mendekatiku. Ikut mengintip anak-anak yang bermain sembari meletakkan dagunya dibahuku. Tangannya kanannya mengusap lengan kananku. Lembut. Menguatkan.

      Mas Ghandi mengerti bahwa hujan disore hari selalu membawa kenangan tak terlupakan dalam hidupku.
Lagi, air mata ini menetes tanpa permisi. Ibu. Uti. Aku rindu kalian.

NafishaStories to obsess over. Discover now