Hui telah berjam-jam duduk di sana. Masih setia melamunkan beribu buah pikiran yang hanya melayang tak jelas di dalam kepala jeniusnya.
Sesekali ia mengetuk-ngetukkan pena biru yang kini diapit oleh jari-jarinya. Mungkin jika hanya sekali memandang, ia terlihat sedang terfokus mencari inspirasi yang nantinya akan ia tuangkan pada kertas itu dalam bentuk sebuah lirik lagu.
Namun nyatanya hanya perasaan tak nyaman yang sudah seminggu ini menggerogoti pikiran dan perasaannya. Bukan hanya dia, Hui yakin semua penghuni Dorm juga digerogoti oleh perasaan yang sama.
Perasaan itu kini bagai sebuah film dokumenter masa lampau yang terasa kelam dan pilu. Apalagi dengan keadaan ruangan sempit itu yang sudah beberapa hari terakhir tidak dibersihkan.
"Hyung?" Panggil seseorang dari balik pintu yang perlahan terbuka.
"Iya?" Hui sedikit tersentak dari lamunannya.
"Waktunya makan..." Ujarnya lirih kemudian segera beranjak pergi.
"Tunggu... Changgu-ya"
"Ya?" Pemuda bernama Changgu itu terhenti kemudian berbalik menghadap ke arah pemuda yang lebih tua.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin ke dapur bersama-sama..." Jawabannya disusul dengan tawa kaku yang terdengar jelas.
"Ada-ada saja kau, Hyung..." Begitu pula dengan Changgu, hanya senyuman tipis yang terlihat menyesakkan.
****
Ke-delapan pemuda kini tengah berkumpul di ruang makan. Hanya ada suara piring dan sendok yang di adu berbunyi lirih. Tidak ada suara lain, hening sedang menyelimuti keadaan sore itu.
Mata Jinho tak sengaja tertuju pada mangkuk berisi potongan timun segar. Benar, untuk kali ini ia dapat mencium baunya.
"Sekarang jadi ada timun di meja makan..." Celetuk Shinwon dengan pandangan lurus mengarah ke tempat benda itu berada. Ucapannya membuat semua orang terdiam.
"Tolong jangan mulai..." Hui dengan datar masih menyantap makanan yang ada depannya.
"Ayolah, kenapa kalian selalu begini saat aku membahasnya?!" Shinwon berdiri dari tempatnya kemudian mengucapkan hal itu dengan sedikit lantang.
"TOLONG TENANGLAH!" Jinho menggebrak meja hingga muncul suara yang cukup keras. Mereka semua kemudian tertunduk di tempat masing-masing.
"J-jinho hyung, sudah..." Hongseok berusaha menurunkan emosi pemuda tertua di tempat itu.
"Aku tahu kau pasti sangat terpukul, tapi ingatlah jika bukan hanya kau yang merasakan hal itu!" Ucap Jinho tegas namun suaranya bergetar.
Shinwon yang masih berdiri menggenggam sendok dengan tangan yang bergetar. Memaksa tubuhnya untuk tetap berdiri. Padahal matanya sudah memerah, siap mengeluarkan butiran-butiran air dari sana.
Yuto yang sudah tidak tahan dengan keadaan saat ini. Tanpa mengatakan sepenggal kata, pergi meninggalkan tempat itu dan memilih kembali ke kamarnya.
Suasana menjadi sangat canggung. Selama beberapa detik mereka hanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Shinwon kembali duduk pada tempatnya. Genggaman pada gagang sendok di tangannya mulai mengencang. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
"BOCAH SIALAN, KENAPA KAU HARUS PERGI DULUAN?!" Teriak Shinwon tak tahan. Ia melempar sendoknya ke arah meja yang kemudian terpantul dan jatuh ke lantai.
Kini keadaan suram itu berubah menjadi pilu. Hyunggu yang sedari tadi hanya terdiam menunduk. Kini terdengar jelas isak tangis dari pemuda itu.
Seakan tak ingin membiarkan Hyunggu menangis sendirian, Yanan juga mulai terisak. Begitu juga Changgu yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Jinho masih berdiri dengan emosi yang tak terkontrol, Shinwon yang tertunduk di tempatnya, Hongseok masih berusaha menenangkan semua orang.
Yuto yang suara tangisnya juga mulai terdengar dari ruangan yang berbeda.
Dan Hui yang kembali terlarut dalam pikirannya sendiri...
"Oh tuhan. Apakah kami bisa kembali bahagia?"
****
ESTÁS LEYENDO
BIG KITTY • Pentagon Fanfiction
FanfictionTidak satupun dari mereka mengharapkan hal itu terjadi. Bahkan seburuk-buruknya mimpi, inilah yang paling buruk bagi mereka. Hari-hari yang dulunya bersinar kini mulai redup. Pemuda tinggi ceria yang dulunya seakan menjadi cahaya telah pergi. Mening...
