Fan(tas)i

11 2 1
                                        

Asam di Darat, Ikan di Laut Bertemu dalam Belanga.
Kalau memang sudah jodoh, kita bisa berkata apa.

Kadang aku ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai seseorang yang bisa melindungi, baik kebutuhan secara fisik maupun kebutuhan yang sentimentil.

Apalagi di saat seperti ini misalnya, saat hari petang dan aku berada di pinggir jalan perbatasan kota dalam keadaan belum mendapatkan kendaraan umum yang biasa kutumpangi.

Iya, ini salahku yang terlalu menikmati matahari terbenam di jendela besar lantai tiga perpustakaan universitas. Yah, seandainya saja aku bisa mengejar bus terakhir yang tadi kulihat baru saja melewati tempatku berdiri.

Kalau kalian bilang ribet banget, timbang naik taksi online atau nebeng teman, maaf saja harus kujawab keadaanku tidak semudah itu. Keuanganku tidak seluas itu untuk menaiki taksi dari perbatasan kota sampai ke rumahku, dan relasiku tidak sebebas itu untuk dengan seenak hati meminta tumpangan, apalagi sejauh ini teman-teman terdekatku memang orang perantauan yang tinggal di indekos atau asrama kampus.

Kubilang aku hanya terkadang ingin merasakan ada seseorang yang bisa melindungiku. Itu tidak salah kan? Naluriah seorang perempuan lajang di usia produktif. Mendamba rasa aman dari seseorang yang disebut pasangan, atau yah setidaknya teman dekat jika belum bisa dinyatakan orang spesial.

Aku tidak bisa membayangkan berbicara banyak dengan orang yang tidak terlalu dekat denganku. Mulutku selalu berkejaran dengan otakku saat sedang gugup, akibatnya kadang ucapanku tidak jelas, atau malah kalimatku yang tidak sesuai konteks.

Hah, rasanya selalu malu mengingat diriku yang tidak bisa maksimal jika tengah mencoba bersosialisasi. Ujung-ujungnya aku kapok untuk mencoba akrab dengan orang baru. Kalian tentu bisa bayangkan keadaan di mana kamu ingin tanah yang dipijak menelan kalian bulat-bulat karena keabsurdan tingkah diri sendiri. Seperti itulah seringnya perasaanku saat tingkah konyol terlanjut kuperbuat.

Kutatap langit yang semburat senjanya menggelap seiring waktu matahari yang mendekati peraduannya. Tepat di seberang jalan, restoran siap saji semakin dipadati mahasiswa yang entah sekadar nongkrong atau mengerjakan tugas, asik berbaur satu sama lain. Aku mendesah keras-keras karena kelumit khawatir dan takut yang berpadu, mengundang riak hangat di mataku.

Aku ingin segera sampai di kamar kecilku yang nyaman.

Kadang juga aku selalu merasa lelah dengan rutinitasku yang seolah berlomba dengan matahari. Saat waktuku memulai aktivitas kampusku yang berarti aku harus mengejar angkutan umum pertama, aku seolah dikejar semburat fajar. Saat waktuku pulang dan mengakhiri segala aktivitas di kampus ini, aku seolah mengejar semburat senja agar tak meninggalkanku di pinggir jalan seperti saat ini.

Yah, kadang aku merasa aku tidak mempunyai kehidupan lain selain mengejar angkutan umum yang menjadi moda transportasi penyelamat neraca keuanganku.

Aku merutuk dalam hati, dan menendang-nendang kerikil di dekat sepatu putihku yang warnanya sudah tak seputih namanya. Aku menunduk, terpekur menatap ujung sepatuku melamunkan apapun, sebelum decit ban mobil yang direm beberapa langkah dari tempatku berdiri, membuatku mendongak, jendelanya sudah terbuka dan terlihat seseorang di sisi supir menatapku dengan sebelah alis terangkat.

"Kamu... Ngapain masih di sini? Bukannya kelas sudah selesai dari satu jam yang lalu?" Tanya pemuda yang kutahu berada satu kelas denganku di beberapa kelas mata kuliah umum semester ini.

Aku memaksakan senyumku sambil menatapnya canggung. Sungguh, aku tidak seakrab itu dengannya. Tapi dia bertanya padaku seolah aku pernah mengobrol panjang lebar dengannya sebelum aku terdampar di sini. Kakiku bergerak gelisah.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: May 06, 2020 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Tulisan untuk AwanDonde viven las historias. Descúbrelo ahora