"Tulislah rencanamu dengan sebuah pensil dan biarkan Allah yang menghapus bagian yang tidak baik untukmu"
———
Hari pertama di pesantren tidak berjalan seburuk yang kubayangkan... tapi juga tidak sebaik yang kuharapkan.
Baru beberapa langkah memasuki area pondok, bulu kudukku langsung meremang. Bangunan tua menjulang dengan cat yang mulai memudar, suara santri mengaji terdengar samar dari kejauhan, dan entah kenapa tempat ini terasa begitu dingin.
Aku menyeret koper dengan malas.
"Fix... gue gak bakal betah," gumamku pelan.
Belum sempat melangkah jauh, tiba-tiba—
BRUKKK!
Tubuhku menabrak seseorang sampai kitab-kitab yang dibawanya jatuh berserakan.
"Aduh! Astaghfirullah..."
Aku mendongak cepat. Seorang laki-laki tinggi memakai gamis putih dan peci hitam terlihat memunguti kitabnya dengan wajah datar.
"Kalau jalan lihat ke depan."
"Iya maaf," jawabku jutek.
Saat ia berdiri, mataku sedikit membulat.
"Santri baru?"
Aku mengangguk malas.
"Nama?"
"Kenalin, gue Safana Khairunnisa." ucapku dengan nada ketus
Ia menghela napas pendek. "Mulai sekarang biasakan pakai kata saya, bukan gue. Ini lingkungan pesantren."
Ck. Baru juga masuk udah diatur.
Aku memutar bola mata malas. "Iya."
Cowok itu pergi begitu saja tanpa tersenyum sedikit pun.
Sombong banget.
Namun tanpa aku sadari, beberapa santri putri di belakangku justru menatap lelaki itu dengan kagum
"Itu Ustad Azam..."
"Yang hafal 30 juz itu?"
"Ya Allah ganteng banget..."
Aku langsung melirik ke arah punggungnya yang semakin menjauh.
Ustad Azam?
Entah kenapa nama itu terasa asing... tapi disaat yang sama juga tidak begitu asing.
Aku mengabaikannya dan kembali berjalan menuju asrama. Namun langkahku tiba-tiba terhenti saat melihat sebuah bangunan lama di belakang pesantren.
Bangunan itu kosong. Gelap. Dan dipasangi garis larangan masuk.
Jantungku berdetak aneh.
"Disitu katanya tempat santri itu bunuh diri..." bisik seseorang di belakangku.
Aku menoleh cepat.
"Santri bernama Nur Azzahra."
DEG.
Tubuhku langsung membeku.
Tanganku mengepal kuat.
Tidak mungkin aku salah dengar.
Nur Azzahra.
Nama itu... nama sahabatku.
YOU ARE READING
Memeluk Sajadah
Non-FictionHujan turun perlahan membasahi halaman pesantren kala itu. Safana berjalan cepat dengan mata memerah menahan amarah dan malu yang bercampur menjadi satu. Tangannya gemetar merapikan hijabnya yang sempat tersingkap tanpa sengaja. Ia berhenti tepat di...
