0. Prolog.

6.9K 650 46
                                        


Mama memberiku nama Song Aura. Saat ini usiaku 16 tahun. Aku memiliki wajah yang good looking serta tubuh yang ideal, kode genetik kecantikan orang tuaku menurun padaku.

Aku memiliki seorang abang bernama Song Yunhyeong, biasaku panggil bang Yoyo.

Orangtua kami telah tiada sejak usiaku 10 tahun. Mereka kaya raya, tetapi karena mereka telah tiada, jadi warisannya dibagi untukku dan bang Yoyo.

Aku tinggal di rumah mewah peninggalan orangtuaku. Sedangkan bang Yoyo pergi ke luar negeri untuk kuliah.

Tanpa orang tua dan bang Yoyo di rumah, aku sendirian. Tidak ada pembantu atau supir.

Tapi tidak apa, aku sudah terbiasa sendirian.

Di sekolah, aku jarang bergaul dengan yang lainnya. Aku tidak punya banyak teman yang dekat denganku. Mbti I membuatku malu untuk bergaul dengan lebih banyak orang baru. 

Kalau jam istirahat, aku hanya duduk di kursi sembari memakan bekal yang kubuat. 

Kadang kalau gabut, aku pergi ke perpustakaan untuk membaca novel yang ada di sana. Aku menghabiskan jam istirahatku dengan membaca. Itu membantu sekali untuk mengusir rasa kesepianku.

Walau aku tidak punya teman dekat, tetapi banyak orang yang mendekatiku untuk berteman. Aku menerimanya dengan baik, tapi tetap saja, aku kesepian.

Entahlah.

Melihat orang yang kesusahan, aku berusaha memberi bantuan. Apa saja yang bisa kubantu. 

Karena, kata Mama dulu, kalau jadi orang baik dan beriman, nanti kita disayang Tuhan.

Dan, aku ingin sekali di sayang Tuhan. Karena, tidak ada lagi yang menyayangiku dengan tulus.

Bang Yoyo? Mungkin dia menyayangiku. Tapi, dia pergi lama sekali, nggak pulang pulang. Dan aku kesepian.

Setiap malam aku selalu berdoa, agar aku diberi kebahagiaan dan kasih sayang. Hanya itu.

-🐱✨-

Aku membaringkan tubuh di kasur empuk. Kelopak mataku tertutup, lantas menikmati udara yang keluar dari AC.

Aku membuka mataku dan beranjak dari kasur. Mencari ponselku dan kembali rebahan di kasur.

Jari jemariku lincah membuka galeri foto keluargaku. Terdiam sejenak, memperhatikan gurat wajah Ayah dan Mama enam tahun yang lalu.

"Ayah, Aura kangen," aku berlirih. Ibu jariku mengusap foto yang menampilkan wajah Ayah yang tertawa jemawa.

"Mama, Aura juga kangen Mama." Jariku beralih mengusap foto Mama. Manikku mulai berkaca-kaca, membuat pandanganku mulai mengabur.

"Kenapa kalian pergi dengan cepat? Aku butuh kalian." Mataku memanas. Hidungku mulai tersumbat, dadaku sesak, tanda jika aku ingin menangis.

"Tuhan, kenapa orangtuaku pergi dengan cepat? Kenapa?"

Sedetik kemudian, air mataku meluncur tanpa bisa kucegah.

-🐱✨-

Aku membuka pintu dan keluar dari rumah. Tak lupa mengunci pintunya.

Berjalan-jalan tanpa arah di trotoar seraya menatap dedaunan yang jatuh dari pohonnya, terkadang itu adalah hobiku untuk bernostalgia. Mengingat masa kecilku yang bahagia saat Mama masih ada.

"Ma, kenapa daun itu jatuh?" Tanya Aura kecil seraya menunjuk daun yang jatuh dari pohonnya.

"Karna, kalau nggak jatuh, nanti kita nggak bisa nikmatin pemandangan ini," Mama menjawab asal sembari tertawa.

Aura kecil hanya mengangguk dan ikut tertawa.

Aku tertegun begitu sadar dari lamunan. "Apaan sih, kenapa malah flashback," Gumamku. "Eh tapi kalo di inget inget, Mama humornya rendah ya."

Aku duduk di kursi kayu yang ada di trotoar. Netraku melihat seekor kucing gembul sedang tidur bergelung di sampingku.

Tanganku sudah terangkat, hendak menyentuhnya. Namun aku teringat jika aku alergi kucing. Helaan napas terdengar dariku, kemudian aku mulai menutup mata.

Memoriku memutar kenangan lama, lagi. 

"Mama! Liat deh! Kucing ini lucu banget!" Aura kecil berseru riang.

Mama menoleh kemudian mengangguk, mengiyakan perkataan putri bungsunya.

"Iya lucu banget, Ayah setuju." Ayah tiba tiba ikut nimbrung.

"Ih apa sih Ayah, orang aku lagi ngomong sama Mama." Aura kecil sebal.

"Emang kenapa kalo Ayah ikut ngomong?" Tanya Ayah dengan senyum mengembang.

Aura kecil pun terdiam memikirkan jawaban.

"Aku nggak mau karena Ayah belom gosok gigi!"

Deg! Ayah tersedak.

Aura tidak peduli dengan Ayahnya, dia mulai mengelus bulu kucing yang lucu itu. Dia mencium bulu kucing, dan tiba tiba, hidungnya keluar darah.

Dia belum tau kalau dia alergi kucing.

"Aura!" Teriak Mama.

Aura kecil hanya terdiam memproses apa yang terjadi, sementara matanya mulai berkunang-kunang.

"Ayah! Ayo bawa Aura ke rumah sakit!" Mama berteriak panik.

Ayah menggendong Aura yang mulai pingsan, sedangkan yang digendong hanya tersenyum seraya bergumam, "kok banyak kunang kunang?"

Akhirnya Aura pun pingsan.

Aku membuka mata kemudian menatap kucing gembul di sebelahku. Senyum getir terulas di wajah. Lantas aku bergumam, "aku mau pelihara kalian, tapi aku alergi."

Aku pun bangkit dari kursi dan pulang ke rumah.

-🐱✨-

hai gais! hope u enjoy my book! 

Mau tanya dong, kalian nemu work ini darimanaa? >< komen yaa~

Jangan lupa buat Vote dan Komen nyaa! Luv u gais! <3

《 Revisi : 1 Juli 2024 》

Cat Man 🐱 | Treasure ✔Stories to obsess over. Discover now