Because We Are Twins

93 11 7
                                        

"Ikkun,"

"Ya? Ada apa, Rui?"

"Hari ini ada latihan untuk lagu baru kita?"

"Tentu. Ayo kita berlatih bersama~"

.

Sosok pemuda berumur delapan belas tahun itu menatap kosong pemandangan di luar jendela. Cuaca saat ini menggambarkan perasaannya, hujan turun dan membasahi kota. Ia selalu ingat akan seseorang lewat hujan.

"Rui..." nama itu terucap dari bibirnya. Perasaannya hampa. Ia terus menatap keluar jendela, tidak mempedulikan nampan berisi makan siangnya yang sudah dingin.

.

"Ikkun, aku sudah capek..."

"Baiklah, kita istirahat dulu,"

Kami duduk di pojok ruang latihan sambil minum. Tidak terasa beberapa hari lagi kami akan mengadakan konser dan membawa lagu duet masing-masing bersama partnernya. Sudah jelas aku akan bersama Rui.

"Aku tidak yakin aku bisa..."

"Kau pasti bisa, Rui!" aku menyemangatinya.

Rui paling lemah diantara kami. Tidak tahan dengan panas atau dingin, tidak tahan dengan suara yang berisik, kulit yang sensitif seperti kulit bayi, dan badan paling kaku.

"Kita kan kembar, jika aku bisa kau juga pasti bisa!"

Kata-kataku bisa menghiburnya.

.

Yoru memasuki kamarnya sembari menghela nafas.

"Iku, kau tetap tidak mau makan?" tanya Yoru cemas, "Ini sudah tiga hari..."

Iku tidak mengalihkan pandangannya. Ia tetap duduk memeluk kedua lututnya, menatap jendela.

Yoru menukar nampan berisi makanan yang sudah dingin itu ke makanan yang baru dan masih hangat.

"Makanlah selagi hangat..." kata Yoru lembut walau ia tahu Iku tidak akan melihatnya.

Yoru menutup pintu kamar Iku dan menghela nafas lagi. Makanan di atas nampan itu masih utuh, seperti biasa.

"Iku tidak makan lagi?" You muncul dengan tiba-tiba dan bertanya.

Yoru hanya menggeleng dengan ekpresi wajah sedih. Ia tidak tahan melihat Iku terus seperti itu.

"Andai saja Rui di sini..."

"Yamato juga sama, ia terus mengeong di depan kamar Rui. Ia terus tertidur di atas tempat tidur Rui walau kamar itu minggu depan sudah mau dikosongkan,"

Yoru menghela nafas, menahan air matanya, "Kalau saja itu tidak terjadi..."

"Semuanya sudah terjadi-..."

"Kenapa?!"

Brak! Prang!

Nampan itu terjatuh, menjatuhkan isinya dan piring itu ikut pecah.

Yoru terjatuh dan akhirnya ia menangis, tidak terima dengan semua yang terjadi.

"Kenapa..." ia bahkan sudah tidak mampu untuk bertanya lagi.

.

Kami jalan-jalan seusai latihan. Tampaknya Rui sudah terlalu lelah, jadi aku menghentikan latihannya dan memutuskan untuk jalan-jalan sore sejenak agar bisa segar kembali.

"Ikkun, mau duduk di sana sebentar?" Rui menunjuk sepasang ayunan di taman. Aku mengangguk dan kami duduk di ayunan.

Awalnya, tidak ada interaksi antara kami. Rui sedari tadi diam membuatku bertanya-tanya.

Because We Are TwinsStories to obsess over. Discover now