"APA KATAMU?!"
"AKU TIDAK MAU MENERIMA ANAK SIALAN ITU!"
"T-tapi.. Dia adalah anakmu!"
"AKU TAK PEDULI!"
°...°
"A-Appa" Namja itu berbalik dan menampar Minseok dengan keras, dan membuat anak itu menangis dengan sangat keras.
"JANGAN PANGGIL AKU APPA!" Namja itu berteriak didepan wajah sang anak, Tubuh Minseok seketika bergetar hebat. Minseok juga tersentak dan membeku. Walau ini bukanlah pertama kalinya Ia disentak oleh sang Ayah
"Apa yang kau lakukan?!" seru seorang Yeoja, Yeoja itu merengkuh Minseok yang masih terisak dan gemetaran karena ketakutan.
"ANAK SIALAN ITU MEMANGGILKU APPA!"
"SHIM CHANGMIN!"
"DIA HANYALAH ANAK KECIL, APA SALAH KALAU IA BELAJAR BERBICARA?!" bentak sang Yeoja tak kalah keras. Minseok yang belum mengerti apa-apa hanya bisa terisak mendengar teriakan-teriakan kedua orangtuanya.
"E-Eomma.." cicit Minseok, Ia berharap bisa menghentikan kedua suara orangtuanya yang sangat keras itu. Yeoja itu terdiam dan tersenyum pada Minseok yang ketakutan.
"Minseokki.. Minseok masuk dulu ke kamar ne.." yeoja itu tersenyum tulus dan mengusak rambut Minseok
"N-ne" jawab Minseok, Ia berlari dengan membawa boneka beruang coklat kesayangannya
Minseok terbangun, Ia memegangi dadanya yang terasa sangat sakit, napasnya terengah-engah dan membuat irama jantungnya menjadi kacau. Minseok terburu-buru mengambil obatnya di nakas laci dan meminum obatnya.Jangan sampai Ia mati gara-gara penyakit sialan ini.
"S-sial" Minseok terkulai lemah, gara-gara penyakit sialan itu Ia merasa sangat lemah. Entah apa salahnya sehingga Ia harus mengidap penyakit yang mematikan itu.
"M-mimpi itu la-gi" gumam Minseok, belakangan ini Ia memimpikan hal itu secara terus-menerus. Mimpi yang sangat Ia benci
Minseok melirik jam dinding yang ada dikamarnya. 'Jam 01.10', masih tengah malam. Minseok memutuskan untuk menikmati dinginnya malam, Ia tak peduli pada tubuhnya yang lemah. Ia hanya ingin menikmati malam ini sekali lagi. Bahkan, Minseok memutar lagu kesukaannya.
Minseok meneteskan airmatanya ditengah-tengah lagu yang sering Ia putar, Minseok selalu saja seperti ini. Tersenyum seolah-olah tak terjadi sesuatu pada saat ada orang dan menangis sendirian saat semua orang tengah bermimpi. Ia tak peduli pada penyakitnya yang bisa kambuh kapan saja.
°...°
"Minseokki.. Bangun sayang"
"E-Eomma.." gumam Minseok, entah kenapa Eommanya itu tak pernah membencinya seperti sang Ayah walaupun Ia terlahir cacat.
"Kau harus sekolah sayang" yeoja itu mengecup pipi Minseok. Minseok merasa bahagia walaupun orang yang menyayanginya hanyalah Eommanya. Bahkan adiknya juga membencinya, Shim Jongin.
"Iya Eomma.." jawab Minseok dengan bahagia, tak salah kan jika Ia bahagia sebentar saja? Walaupun Ia manusia yang cacat, Ia juga berhak untuk bahagia.
°...°
"Minseok.. Makanlah" suruh yeoja itu. Namun mendapat pandangan tak suka dari kedua orang, yaitu Shim Changmin dan Shim Jongin.
"Choi Sooyoung, jangan merusak mood makanku!" seru Changmin, Changmin berusaha agar tak berada di meja makan yang sama dengan Minseok.
"Tak apa Eomma.. Minseok makan di sekolah saja" tolak Minseok dengan senyum palsu yang terukir Di wajahnya. Sooyoung menghela napasnya kasar, selalu saja keluarganya seperti ini.
"Baguslah" Jongin tersenyum puas, Ia tak peduli pada kakaknya, Minseok. Padahal umur Jongin hanyalah lima tahun. Namun anak itu bisa berkata kasar dan bertindak cuek pada sang kakak yang berusia sepuluh tahun.
"Eomma.. Tuan.. Jongin.. Aku pergi dulu" Sooyoung tersenyum dan mencium Minseok, sedangkan Changmin tak membalas. Namja itu hanya fokus pada makanannya, begitu juga dengan sang adik. Minseok tersenyum terpaksa dan pergi menyusul supir yang diperkerjakan oleh sang Ibu.
°...°
Minseok menatap sendu pada teman-temannya, mereka bisa bermain sepak bola yang sangat Ia sukai. Bahkan Minseok ingin menjadi seorang pemain sepak bola jika sudah besar. Namun nyatanya, Ia hanya bisa menatap sendu dari kejauhan. Jangankan sepak bola, mengikuti kegiatan olahraga saja tidak boleh.
Minseok menendangi kerikil yang ada dibawahnya, sesekali Ia menyalahkan takdirnya yang sangat jelek.
'Kenapa aku harus dilahirkan seperti ini?'
Tiba-tiba ada sebuah bola yang mendekati kaki Minseok, Minseok menatap teman-teman sekelasnya yang memandang Minseok. Mungkin mereka berharap Minseok bisa memberikan bola di dekat kakinya. Tanpa disuruh, Minseok mengembalikan bola itu.
"Minseok" panggil teman sekelasnya yang cukup imut dan tak jauh pendek dari dirinya. Anak itu adalah Luhan. Minseok bisa langsung mengenalinya, karena Minseok selalu memperhatikan Luhan karena Luhan adalah pemain sepak bola yang hebat di angkatannya.
"Mau ikut bermain?" tawar Luhan, Ia menyodorkan bola itu pada Minseok. Namun, Minseok menggeleng. Ia menolak tawaran Luhan. Padahal Luhan adalah orang yang berani memanggil namanya. Dari SD kelas satu, tak ada yang mau memanggil nama Minseok karena Minseok anak yang pendiam. Mereka menganggap Minseok tak mau berteman dengan siapapun.
Minseok meninggalkan Luhan, Ia takut penyakitnya akan kambuh didepan Luhan.
"Akh.." Minseok meringis, penyakitnya kambuh lagi. Minseok berusaha mencari obatnya, namun nihil. Ia lupa membawa obatnya. Mau tak mau, Minseok terjatuh dan kehilangan kesadarannya di depan gudang yang sepi. Tak ada siapapun disana.
'Ya Tuhan' batin Minseok di akhir kesadarannya.
.
.
.
.
.
Ini Ff pertama aku, semoga kalian suka..
Vote and Comment ya....
YOU ARE READING
A MILLION DREAMS (KIM MINSEOK)
FanfictionChoi Minseok, Anak laki-laki tak sempurna dan tak diakui oleh sang ayah dan juga adik laki-lakinya, Shim Jongin. Minseok adalah anak yang memiliki sejuta impian, namun Ia memutuskan mengambil jalan lain yang membuatnya terpaksa untuk tak bisa meraih...
