"Pahlawanku...diantara desiran peluru...",Aku memulai membaca puisi dengan semangat, namun baru dua bait, tiba - tiba bait - bait yang tersusun dalam ingatanku menghilang...
Aku sama sekali tidak ingat. Ingin rasanya aku segera selesaikan bait demi bait puisi tersebut. Namun, microphone masih ada di tanganku. Jadilah Aku bacakan bait - bait puisi yang kuingat secara acak. Semua memandangku. Aku tidak berani menatap mereka, pandanganku hanya lurus ke depan. Keringat bercucuran, suara dan tanganku gemetaran.
Akhirnya..setelah tidak dapat menahan kegugupanku, microphone Aku serahkan kepada teman disampingku. Cukup lega rasanya, tapi...sedih dan kecewa karena sebab yang tidak perlu dijelaskan lagi...
Begitulah Aku teringat peristiwa masa lalu yang cukup memalukan. Memang dirasa gugup ketika menaiki panggung, melihat semua penonton yang hadir. Namun, sebagai seorang anak kecil Aku ingin mencoba, belajar, dan berusaha menepis itu semua, tetapi....gagal.
Ingatan itu terus menguat, terutama saat di posisi yang sama. Membuatku selalu menghindar, tidak ingin terjadi kedua kalinya. Tampil di depan umum, dan menjadi pusat perhatian adalah hal yang tidak nyaman...
YOU ARE READING
Harian Sang Introvert
Non-FictionMenjadi pihak yang disalahkan dan dianggap salah menjadi hal yang biasa. Apadaya, Aku memilihnya untuk disimpan sendiri. Entah sampai kapan kotak ini mampu menampung dari setiap peristiwa yang terjadi, dihidupku. . .
