Pagi yang masih diselimuti embun tipis itu, mengantar Emerly menjejakkan kaki di sebuah lembaga pendidikan yang masyhur—sekolah terpandang dan terfavorit seantero negeri. Bukan sembarang insan yang diperkenankan menuntut ilmu di sana, hanya mereka yang beralaskan prestasi menjulang sajalah yang dapat melintasi ambang gerbangnya. Sebuah keberuntungan yang amat besar bagi Emerly.
(Koridor Sunyi dan Pertemuan Jeda)
Di dalam lorong koridor sekolah yang agung itu, Emerly berjalan seorang diri, seolah menelusuri labirin asing. Jam masih menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit, suasana pun terasa lengang, hanya segelintir bayangan yang melintas. Aku masih diliputi kebingungan, mataku sibuk mencari-cari di mana gerangan letak kelasku yang baru.
Namun, nasib berkata lain. Tiba-tiba, tali sepatu yang terikat longgar itu terlepas dan mengkhianatiku.
Gubrak!
Emerly tersandung lantas jatuh tersungkur di atas lantai koridor.
“Ihh, mengapa pula mesti terantuk saat ini!” desisku penuh kejengkelan seraya merunduk untuk mengikat kembali tali sepatuku yang durhaka.
Aku lantas mengamati lututku yang kini merembeskan sedikit darah luka lecet akibat terjatuh tadi.
“Aduh, sungguh menjengkelkan! Sudah jatuh, kaki ini pula terluka. Beruntunglah tempat ini belum ramai, jika tidak, alangkah malunya diriku!” Emerly menggumam dengan nada kekesalan yang tertahan.
Dalam kekesalanku itu, mendadak pandanganku menangkap sesuatu. Sebuah uluran tangan yang kekar terarah tepat ke hadapan wajahku. Terkejut, Emerly perlahan mengangkat pandangannya ke atas, dan di sana, aku melihat,
“Mari, biar kubantu kamu berdiri,” ujar seorang pemuda dengan suara yang bernada teduh, tangannya tetap terulur.
“Te… terima kasih,” balasku dengan suara yang bergetar dan gugup.
“Mengapa? Kamu senantiasa menunduk sedari tadi,” tanya pemuda itu keheranan.
“Aku?” Emerly balik bertanya, menunjuk dirinya sendiri.
“Ya, kamu. Siapa lagi? Bukankah hanya ada kita berdua di sini,” jelas pemuda itu.
Emerly hanya tersenyum canggung, sembari rasa gugup membelitku.
“Ngomong-ngomong, rupanya kamu murid baru di sini, bukan?” tanyanya lagi, menggunakan nada bicara yang terkesan dingin namun memikat.
“Be… benar,” jawabku.
Sejak pengalaman pahitku, aku memang jarang bertemu pemuda dengan sikap yang baik hati selain kakak kandungku sendiri. Oleh karena itu, setiap kali pemuda ini berbicara, kegugupan senantiasa merambati diriku.
“Baiklah, izinkan aku mengantar kamu ke kelas. Lagipula, tempat ini sudah mulai ramai. Nanti kamu terlambat mengikuti upacara,” ajak pemuda itu, seraya tanpa ragu menarik lembut tangan Emerly.
“Tunggu… lepaskan!” pintaku, menarik tanganku.
“Ada apa?”
“Aku… Aku tidak tahu di mana letak kelasku,” ucap Emerly, kembali menundukkan kepala.
“Kamu adalah Emerly Jamesdher, bukan?”
“Alangkah aneh, mengapa pemuda ini dapat mengetahui namaku?” batinku terkejut.
“Hmm,” jawabku singkat.
“Baik, aku tahu di mana kelasmu. Mari ikut denganku, biar aku yang antar,” ajak pemuda itu lagi, seraya kembali menarik tangan Emerly, mengajaknya beranjak.
YOU ARE READING
EMERLY [sedang tahap revisi]
Teen FictionEmerly, seorang dara pingitan yang tumbuh merayap dewasa, dihiasi anugerah paras elok percampuran darah Indo-Australia; wajahnya bagaikan rembulan yang disirami cahaya kemuning, terlalu cantik hingga setiap pasang mata kaum Adam yang memandang tak u...
![EMERLY [sedang tahap revisi]](https://img.wattpad.com/cover/221536019-64-k339951.jpg)